Jangan Pernah Ragu Dengan Janji Allah

Jangan Putus Asa, Walau Doa Terkabul Lama
Aug 20, 2018
Kalau Terbuka Jalan Mengenal Allah, Maka Jangan Peduli dengan Amal Sedikit
Aug 26, 2018

لَا يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوْعِ الْمَوْعُوْدِ. وَإِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ لِئَلَّا يَكُوْنَ ذلِكَ قَدْحاً فِيْ بَصِيْرَتِكَ وَإِخْمَادًا لِنُوْرِ سَرِيْرَتِكَ

Janganlah engkau sampai ragu terhadap janji Allah karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan, meskipun waktunya sudah tiba, supaya hal itu tidak merusak pandangan mata hatimu atau memadamkan cahaya hatimu.

WATAK manusia suka terburu-buru. Ia ingin cepat mendapat pemberian dari Allah. Ia ingin lekas melihat hasil dari doa yang ia panjatkan. Manusia sebagai hamba Allah yang bodoh tidak mengetahui kapan Allah menurunkan karunia dan rahmat-Nya. Terkadang dia mengira bahwa waktu terkabul doanya telah datang. Tetapi terjadi sebaliknya. Maka jika tidak terjadi apa yang ia kira, hendaknya dia tidak ragu terhadap kebenaran janji Allah, bahwa Allah mengabulkan doanya.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah pada-Ku, maka Aku pasti mengabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60)

Allah pasti menepati janjinya. Tetapi janji itu terkadang tergantung pada sebab-sebab dan syarat-syarat yang dipilih oleh Allah. Menurut ilmu pegetahuan Allah, bukan menurut ilmu pengetahuan hamba itu. Bisa jadi masih ada syarat-syarat dan adab-adab dalam berdoa yang belum dipenuhi oleh hamba itu.

Diantara syarat ijabah (terkabulnya doa) ialah keadaan terpaksa.

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ

“Atau siapakah yang akan menerima doa orang yang terpaksa jika ia berdoa kepada-Nya ?” (QS. An-Naml: 62)

Keadaan terpaksa ialah keadaan jika sudah tidak ada lagi perantara baik dari dalam atau dari luar. Dalam keadaan itu doa diangkat oleh Allah dan diberikan harapannya.

Menurut ilmu Allah waktu itu hamba berdoa belum dalam keadaan terpaksa, karena masih ada jalan lain, punya harapan, banyak perantara, karena itu doanya tidak dikabulkan seketika itu, tetapi dilambatkan. Tetapi hamba itu bodoh, tidak mengerti dan dia ingin cepat-cepat. Padahal Allah menunggu kapan dia keadaan sangat butuh sehingga tidak ada yang diandalkan dan tidak punya pegangan yang lain, kecuali harus kembali pada Allah, lalu berdoa dan dikabulkan oleh Allah. Jadi karena belum sangat butuh ditunda oleh Allah waktunya.

Maka hendaklah hamba itu berbuat sopan dan akhlak kepada Allah. Jika lambat pemberian itu, dia sabar, ridho dan pasrah dan berbaik sangka kepada Allah, barangkali belum waktunya atau bukan rezekinya. Ia harus punya keyakinan bahwa doa itu pasti diterima tetapi kapan waktunya terserah Allah. Sebab Dia yang memberi, Dia yang memiliki. Tentramkanlah hatimu, jangan pernah ragu dengan janji Allah.

Orang yang berdoa dengan adab-adab dan syarat-syaratnya dan selalu yakin bahwa Allah menepati janjinya, maka orang itu dinamakan arif, orang yang mengenal Allah, mengetahui kebijaksanaan dan kekuasaan Allah. Dia akan tetap istiqamah berdoa dan tidak putus asa. Orang itu mata hatinya selamat tidak sampai rusak dan hatinya bercahaya.

Kalau ia ragu dengan janji Allah, goncang keyakinannya karena belum terkabulnya doa, maka berarti orang itu tidak mengenal Allah. Ia tidak mengetahui kebijaksanaan Allah. Orang tersebut rusak mata hatinya dan padam cahaya hatinya.

Oleh karena itu, tetaplah berdoa dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti menerima doa kita, seperti sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ

“Mohonlah kepada Allah dan engkau yakin bahwa doamu terkabul.” (HR. Turmudzi)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *