Jangan pernah berniat meminta kepada selain Allah

Sinar Mata Hati, Mata Hati, Dan Hakikat Mata Hati
Nov 10, 2018
Jangan Minta Hajat (Kebutuhan) Kepada Selain Allah
Nov 27, 2018

لَا تَتَعَدَّ نِيَّةُ هِمَّتِكَ إِلَى غَيْرِهِ فَالْكَرِيْمُ لَا تَتَخَطَّاهُ الْآمَالُ

Janganlah niat tujuanmu melampaui kepada selain Allah. Sebab Al-Karim (Allah yang Maha Pemurah) tidak dapat dilampaui oleh suatu harapan.

 

PERASAAN yang luhur enggan untuk menyampaikan hajat kepada selain yang Pemurah. Tidak ada yang Pemurah pada hakikatnya, kecuali Allah.

Imam Junaid berkata, “Al-Karim (yang Pemurah) adalah yang memberi hajat sebelum diminta.”

Maka, tidak ada yang Pemurah seperti ini kecuali Allah. Dia Maha Memberi sebelum diminta hamba-Nya. Banyak kebutuhan manusia yang diberikan oleh Allah tanpa berdoa.

Al-Harits Al-Muhasibi berkata, “AI-Karim (Yang Pemurah) adalah yang tidak peduli siapa yang ia beri.” Tidak ada yang Pemurah dalam arti ini kecuali Allah. Ia memberi siapa saja. Tidak peduli apakah ia muslim, kafir, orang taat atau bermaksiat.

Ada yang mengatakan, “Al-Karim (Yang Pemurah) adalah yang tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya.”

Yang cocok dengan arti karim ini hanya Allah. Allah tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya. Orang yang berharap kepada Allah tidak pernah pulang dengan tangan kosong.

Ibarat paling lengkap mengenai arti Pemurah adalah:

Al-Karim (yang Pemurah) adalah yang bila berkuasa, maka ia memberi maaf. Apabila berjanji, maka Dia menepati janjinya. Apabila memberi, maka lebih memuaskan dari harapan. Tidak peduli berapa banyak yang diberikan dan kepada siapa Dia memberi. Kalau ada hajat disampaikan kepada orang lain, maka Dia tidak ridho.”

Berbeda dengan manusia yang marah bila selalu dimintai, Allah malah marah kalau tidak diminta. Penyair mengatakan:

لَا تَــسْــأَلَــنَّ بَـنِـى آدَمَ حَـاجَـةً وَسَلِ الَّذِيْ أَبْوَابُهُ لَا تُـحْجَبُ

اَللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ وَبَنِى آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Janganlah meminta hajat kepada manusia

Mintalah kepada Tuhan yang pintunya tidak pernah tertutup

Allah marah bila engkau tidak minta kepada-Nya

Manusia apabila diminta, ia marah

Semua pengertian al-Karim di atas hanya layak untuk Allah. Kalau memang yang Maha Pemurah hanya Allah, maka janganlah menggantungkan harapan kepada selain Allah. Dalam segala urusan dan keadaan, kita hanya mengharap-Nya.

Sifat Pemurah adalah sifat yang mulia. Kita dianjurkan untuk meniru sifat-sifat Allah yang indah seperti kemurahan ini. Allah cinta terhadap orang yang pemurah. Allah menjauhkan orang yang pemurah dari neraka, walaupun ia ahli maksiat. Jangan engkau pikirkan orang yang banyak maksiat tetapi murah, karena ia dalam tanggungan Allah. Kalau ia mau mati, maka ia bertaubat berkat kemurahannya itu. Allah bakal memasukkannya ke dalam surga.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ، وَالْبَخِيلُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ، وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابِدِ الْبَخِيلِ

“Orang yang murah dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, jauh dari neraka. Orang yang pelit jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga, dekat dengan neraka. Orang bodoh yang murah lebih dicintai Allah daripada ahli ibadah yang pelit.”

Para wali Allah memiliki sifat pemurah ini. Kisah berikut ini salah satunya.

Ada seorang sayyid cucu orang besar berasal dari Indonesia. Ia bekerja menetap di Saudi Arabia. Di sana tidak ada orang yang mengenalnya sebagai seorang cucu Nabi. Pada suatu hari ia membutuhkan sekali sejumlah uang. Ia mau pergi ke rumah temannya untuk meminjam uang itu. Ia berjalan kaki dengan berpakaian ala orang Arab Badui. Rumah temannya itu agak jauh.

Di tengah peijalanan ada mobil mendekat kepadanya. Mobil itu berhenti. Kaca mobil itu terbuka. Ada seorang yang tidak dikenal memanggilnya dari dalam mobil. Orangnya memakai rida’ putih di kepalanya.

“Saya Amin Kutbi. Kamu mau kemana? Engkau tidak pantas pergi ke sana. Engkau sayyid cucu orang besar. Kalau ada hajat apa saja pergilah ke rumahku.” ucap orang dalam mobil itu. Ternyata orang itu adalah Sayyid Amin Kutbi, orang yang tidak pernah tahu dirinya. Sayyid Amin Kutbi tidak rela kalau ia minta kepada orang lain.

Sayyid Amin Kutbi menyuruhnya pulang dan memberinya amplop. Amplop itu dibuka di rumahnya. Isinya sejumlah uang riyal persis seperti yang ia butuhkan. Tidak lebih dan kurang satu riyal pun.

“Ahmad, saya mengakui betul bahwa Sayyid Amin Al Kutbi itu betul-betul wali,” ucap orang itu kepada saya setelah menceritakan kisahnya kepada saya di saat saya berkunjung ke rumahnya di Mekkah pada musim haji tahun 1995.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *