Jangan Menganggap Lemah Kekuasaan Allah !

Wajib Masuk Surga
Jan 25, 2021
Gelap Datang Biar Tahu Nilai Terang
Feb 4, 2021

مَنِ اسْتَغْرَبَ اَنْ يُنْقِذَهُ اللهُ مِنْ شَهْوَتِهِ وَاَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ وُجُوْدِ غَفْلَتِهِ فَقَدِ اسْتَعْجَزَ الْقُدْرَةَ الْإِلٰهِيَّةَ وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

Siapa yang merasa bahwa tidak mungkin Allah menyelamatkan dirinya dari pengaruh syahwatnya dan menghindarkan dirinya dari kelalaiannya, maka ia menganggap lemah kekuasaan Allah. Dan Allah atas segala sesuatu Maha berkuasa.

 

BARANGSIAPA diperbudak oleh syahwatnya, dikuasai oleh kelalaian, maka tidak patut ia menganggap bahwa ‘Allah tidak dapat menyelamatkan dirinya dari pengaruh syahwat hawa nafsunya dan menghindarkan orang itu dari kelalaiannya’, karena dengan demikian ia menganggap lemah kekuasaan Allah. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman:

وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan Allah itu atas segala sesuatu maha berkuasa.” (QS. Al-Kahfi : 45)

Dan hal itu termasuk dari ‘syai’ (segala sesuatu) yang disebut dalam ayat tersebut.

Beranggapan bahwa Allah tidak mampu mengubah keadaan seseorang, Allah tidak dapat menghentikannya dari perbuatan maksiat atau tidak bisa membikin dirinya bertaubat, adalah anggapan yang salah dan merusak keimanan.

Sebab, seorang hamba yang beriman harus percaya bahwa Allah mampu melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Hati dan diri seseorang berada dalam kekuasaan Allah. Dalam sekejap Allah bisa mengubah seseorang. Ahli maksiat bisa diubah dengan cepat menjadi ahli taat. Begitupula sebaliknya.

Oleh karena itu, bagi orang yang bergelimang dalam kemaksiatan dan kelalaian, janganlah berputus asa. Tetaplah ia menuju pintu Tuhan dengan kehinaan diri dan patah hati, dengan harapan Allah akan memudahkan kepadanya apa yang dianggapnya sulit, sebab bagi Allah tidak ada yang sulit.

Ingatlah firman Allah:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم

“Katakan, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas kepada diri mereka, janganlah putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih. ” (QS. Az-Zumar : 53)

Hendaknya ia ingat kepada orang-orang dulu yang pada mulanya mereka adalah ahli maksiat akhirnya menjadi ahli musyahadah dan makrifat. Dulunya mereka maling akhirnya berubah menjadi orang terpandang dan penting. Kejelekan mereka diganti dengan kebaikan. Mereka diangkat dari tempat terendah ke derajat yang tertinggi.

Mereka itu seperti Ibrahim bin Adham, Fudhail bin Iyadh, Abi Yakza, Rabi’ah Al-‘Adawiyah dan banyak lagi lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Dalam kitab Risalahnya, Imam Al-Qusyairi menyebut nama-nama mereka lebih dahulu dari tokoh lainnya untuk menguatkan harapan orang yang berdosa.

Wahab bin Munabbih menceritakan bahwa dahulu seorang lelaki yang telah membunuh satu jiwa datang kepada seorang ahli ibadah Bani Israil. Lelaki itu menanyakan kepada ahli ibadah itu tentang kemungkinan taubat untuk dirinya. Orang saleh itu mengambil sebuah tangkai yang kering dan mengangkatnya.

“Kalau tangkai ini menjadi hijau maka taubatmu diterima,” ucap ahli ibadah itu bermaksud tidak memberi harapan kepada lelaki itu, karena begitu besar dosa yang ia perbuat.

Lelaki itu mengambil tangkai kering itu. Ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, beribadah dan berdoa dalam waktu yang lama, sehingga tangkai kering itu betul-betul menjadi hijau.

Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah hadits dari Abi Said Al-Khudri, bahwa Rasulullah bersabda:

“Ada seorang lelaki dari umat sebelum kalian telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Ia bertanya tentang orang yang paling ahli ibadah di bumi ini. Maka ia ditunjukkan kepada seorang pendeta. Ia mendatangi pendeta itu.

“Saya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Apakah saya bisa bertaubat?” tanya lelaki itu.

“Tidak,” jawab pendeta itu. Lalu pendeta itu dibunuhnya sekalian. Lengkaplah seratus orang.

Lelaki itu terus mencari tahu siapakah orang yang paling alim di bumi ini. Maka ia ditunjukkan kepada seorang alim. Lelaki itu mengungkapkan kepada sang alim bahwa ia telah membunuh seratus orang. Apakah ia masih bisa bertaubat.

“Ya. Siapa yang bisa menghalangi untuk bertaubat. Pergilah ke negeri di sana. Karena di negeri itu ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Jangan kau kembali ke negerimu. Sebab, negerimu itu negeri jahat, ” ucap si alim itu kepada lelaki tersebut.

Berangkatlah lelaki itu menuju negeri tersebut. Di tengah jalan ia meninggal dunia. Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat adzab tentang orang ini.

“Orang ini datang bertaubat dan menghadap dengan hatinya kepada Allah,” ucap malaikat rahmat.

“Ia tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali,” kata malaikat adzab.

Datanglah kepada mereka seorang malaikat berbentuk manusia. Mereka menjadikan malaikat ini sebagai juri penengah.

“Ukurlah jarak antara dua negeri itu. Ke mana orang ini lebih dekat, maka ia milik negeri itu,” ujar malaikat penengah itu.

Diukurlah jaraknya. Ternyata ia lebih dekat ke negeri yang ia tuju. Maka malaikat rahmat yang membawa orang tersebut.“

Isa bin Dinar berkata: “Tidaklah Allah memberi taufiq kepada seorang hamba untuk beramal, kecuali Allah hendak menerima amal itu. Dan Allah tidak memberi taufiq kepada seorang hamba untuk melepas dirinya dari dosa, kecuali Allah hendak mengampuninya.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *