Jangan Heran! Memang Dunia Merisaukan

Jangan Menunggu Habisnya Rintangan
Sep 23, 2018
Tidak Mudah Tercapai Harapan yang Mengandalkan Diri Sendiri
Sep 27, 2018

 لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ مَا دُمْتَ فِيْ هَذِهِ الدَّارِ فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلَّا مَا هُوَ مُسْتَحِقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا

Jangan engkau heran atas terjadinya kerisauan-kerisauan selama engkau di dunia ini sebab ia (dunia) tidak menampakkan kecuali yang layak atau yang asli dari sifatnya.

 

ALLAH menjadikan dunia ini sebagai negeri ujian dan cobaan, tempat bencana dan kesusahan. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Dan Kalian kami uji dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

Imam Al-Baghawi menafsiri ayat ini, ujian itu berupa kesulitan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan.

Kebaikan atau kejelekan merupakan cobaan dari Allah. Begitu pula halal dan haram, taat dan maksiat, petunjuk dan kesesatan, juga sebagai ujian bagi manusia. Allah menguji manusia dengan apa yang ia senangi dan apa yang ia benci. Allah ingin tahu apakah ia bersyukur menghadapi ujian yang menyenangkan atau bersabar menghadapi ujian yang menyakitkan.

Al-Habib Abdullah Al-Haddad menyatakan dalam syairnya bahwa manusia di dunia menjadi sasaran bencana. Beliau berkata:

البِدَارَ البِدَارَ قَبْلَ الفَوَاتِ  إِنَّمَا أَنْتَ عُرْضَةُ الآفَاتِ

Cepatlah cepatlah sebelum ketinggalan

Engkau hanyalah sasaran cobaan

Sifat Asli dunia adalah tempat bencana dan kesusahan. Kalau pun ada kesenangan maka kesusahannya lebih banyak dari kesenangannya. Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan bersifat sementara. Kesenangannya tidak sebanding dengan kesusahannya. Tidak ada yang selalu mulus di dunia. Ada enak ada yang tidak enak. Ada senang ada susah. Setelah tertawa menangis. Setelah menangis tertawa. Begitulah sifat asli dunia.

Imam Ghazali mengatakan dalam Ihya Ulumiddin:

وَلَذَّاتُ الدُّنْيَا كُلُّهَا نَاقِصَةٌ مُكَدَّرَةٌ مُشَوَّشَةٌ لَا يَفِيْ مَرْجُوُّهَا بِمَخُوْفِهَا وَلَا لَذَّتُهَا بِأَلَمِهَا وَلَا فَرَحُهَا بِغَمِّهَا هَكَذَا كَانَتْ إِلَى الْآنَ وَهَكَذَا تَكُوْنُ مَا بَقِيَ مِنَ الزَّمَانِ

“Semua kelezatan dunia ini tidak sempurna, bercampur kekeruhan, yang diharapkan tidak sebanding dengan yang ditakuti, kelezatannya tidak sebanding dengan kepedihannya, kebahagiannya tidak sesuai dengan kesusahannya. Dunia dari dulu memang begitu dan tetap seperti itu sampai akhir zaman nanti.”

Kita ambil contoh kecil, seseorang yang memasak makanan yang lezat. Sejak pagi hari ia bekerja dari menyiapkan bahan-bahan, lalu mengolahnya menjadi makanan yang ia inginkan. Itu memakan waktu yang lama. Lalu makanan itu dimakan dalam waktu beberapa menit saja. Kerjanya lebih banyak daripada makannya.

Kalau memang dunia itu tempatnya cobaan dan kesusahan sedangkan kesenangannya tidak sempurna, maka sungguh mengherankan kenapa masih banyak orang yang senang kepada dunia.

Penyair mengatakan :

أَرَى أَشْقِيَاءَ النَّاسِ لَا يَسْأَمُوْنَهَا    عَلَى أَنَّـــهُــمْ فِــيْــهَــا عُــرَاةٌ وَجُــوَّعُ

أَرَاهَـــا وَاِنْ كَانَـــتْ تُـــحَــبُّ فَإِنَّهَا     سَحَابَةُ صَيْفٍ عَنْ قَلِيْلٍ تَقَشَّعُ

Aku lihat orang-orang yang celaka tidak jemu terhadap dunia

Padahal mereka di dunia telanjang dan kelaparan

Aku lihat dunia itu walaupun disenangi

Bagai mendung musim panas yang cepat hilang

Oleh sebab itu, jangan heran dengan kejadian-kejadian yang merisaukan di dunia ini, karena memang itulah asli sifat dunia.

Hikmah dari semua itu disebut oleh Ibnu Athaillah dalam kata hikmah:

إِنَّمَا جَعَلَهَا مَحَلًّا لِلْأَغْيَارِ وَمَعْدَنًا لِلْأَكْدَارِ تَزْهِيْدًا لَكَ فِيْهَا

“Allah sengaja menjadikan dunia ini tempat untuk kerusakan dan sumber kekeruhan untuk menjadikan kamu zuhud terhadap dunia.”

Dunia dijadikan oleh Allah sebagai tempat cobaan dan musibah agar manusia menjadi zuhud terhadap dunia. Ini sebuah pendidikan dari Allah Rabbul Alamin (Pendidik Alam Semesta). Dengan cobaan-cobaan itu Allah mengajak orang itu menjadi orang yang cinta kepada Allah, dan lebih cinta pada akhirat sehingga ia mendapatkan kenikmatan yang sempurna di akhirat nanti. Kenikmatan tanpa kekeruhan hanya ada di surga.

Oleh karena itu para arifin zuhud, menjauh dari dunia dan mencintai Allah. Ia menganggap dirinya di dunia bagaikan musafir yang melintas dan numpang berteduh sebentar. Hatinya tidak sangat mantap di dunia. Habib Abdullah Al-Haddad berkata:

وَمَاهَذِهِ الدُّنَيا بِدَارِ إِقَامَةٍ    وَمَاهِىَ إِلاَّ كَالطَّرِيْقِ إِلَى الْوَطَنْ

Dunia ini bukan negeri

Ia hanyalah jalan menuju tanah air

Ats-Tsauri berkata, “Dunia adalah rumah yang bengkok bukan rumah yang lurus, negeri kesedihan bukan negeri kesenangan. Siapa yang mengenal dunia maka dia tidak akan senang bila dapat kelapangan dan tidak akan sedih kalau mendapatkan kesengsaraan.”

Imam Jakfar Shadiq berkata, “Siapa yang meminta sesuatu yang tidak diciptakan oleh Allah, maka berarti ia telah memayahkan dirinya sendiri dan tidak akan diberi.”

“apa itu?”

“Meminta senang di dunia,” ucap jakfar Shadiq.

Ada sya’ir yang searti dengan ini :

 

تَطْلُبُ الرَّاحَةَ مِنْ دَارِ الْعَنَا  خَابَ مَنْ يَطْلُبُ شَيْئًا لَا يَكُوْنُ

Kamu ingin kesenangan di negeri yang penuh kesulitan

Sia-sialah seseorang yang meminta sesuatu yang tidak diciptakan oleh Allah

 

Memang, tidak ada kesenangan di dunia. Tempat kesenangan orang mukmin adalah di kuburan dan di akhirat nanti. Allah menciptakan dunia sebagai penjara bagi orang mukmin. Nabi bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Dunia ini seluruhnya duka cita. Kalau memang ada kesenangan di dunia berarti itu suatu laba.” Atau dalam bahasa lain, nikmat surga yang dipercepat di dunia. Itu adalah nasib baik dan bonus dari Allah. Tetapi aslinya penuh kesedihan.

Imam Junaid berkata, “Saya tidak merasa bingung terhadap apa yang menimpa diriku di alam ini. Sebab, aku sudah punya pendirian bahwa dunia ini adalah negeri kesusahan, bencana dan fitnah. Dunia ini semuanya bencana. Maka selayaknya ia menyambut aku dengan segala sesuatu yang tidak aku senangi. Kalau alam ini menyambutku dengan sesuatu yang aku sukai, maka itu sebuah fadhl (karunia Allah).”

Maka, dikala seorang murid mendapat cobaan dan kekeruhan yang terjadi di dunia ini, ia harus menghadapinya dengan sabar dan pasrah diri serta ridha kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berwasiat kepada Ibnu Abbas, “Kalau engkau dapat beramal karena Allah dengan ridha dan keyakinan, maka laksanakanlah. Kalau tidak dapat, maka bersabarlah. Ketahuilah bahwa sabar terhadap apa yang tidak engkau sukai adalah keuntungan yang besar. Dan kemenangan bersama kesabaran. Kelapangan bersama kesusahan, kemudahan bersama kesulitan.”

Umar berkata kepada seseorang yang dinasehatinya, “Kalau kamu sabar, maka hukum Allah tetap berjalan dan engkau dapat pahala. Kalau engkau tidak sabar, maka ketetapan hukum Allah tetap berjalan dan engkau berdosa.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *