Jadikan Allah Sebagai Sahabat Terbaikmu

Allah-lah yang Pantas Dipuji
May 13, 2020
Nurul Yaqin (Cahaya Keyakinan)
May 18, 2020

لَا تَصْحَبْ اِلَّا مَنْ صَحِبَكَ وَهُوَ بِعَيْبِكَ عَلِيْمٌ وَلَيْسَ ذٰلِكَ اِلَّا مَوْلَاكَ الْكَرِيْمُ. خَيْرُ مَنْ تَصْحَبُ مَنْ يَطْلُبُكَ لَا لِشَيْءٍ يَعُوْدُ مِنْكَ اِلَيْهِ

Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan yang mengetahui aibmu dengan sebenarnya. Yang demikian itu tidak lain hanya Tuhanmu yang Maha Mulia.

Sebaik-baik yang engkau jadikan sahabat adalah yang memperhatikan kepentinganmu, bukan yang mengambil keuntungan darimu.

 

SAHABAT yang sebenarnya adalah orang memberikan kebaikannya kepadamu dan memberikan kenikmatan yang sempurna bagimu dan tidak menghalanginya untuk berbuat semua itu karena aib-aib yang ada dalam dirimu yang tidak ia senangi dan yang ia ketahui. Yang seperti itu tidak lain adalah Tuhanmu.

Dan juga, sebaik-sebaik sahabatmu adalah orang selalu memperhatikan kepentingan-kepentinganmu dan yang mengutamakanmu atas dirinya dan yang menghendaki kebaikan kepadamu tanpa ingin mendapat keuntungan darimu, namun hanya semata-mata karena berbuat baik kepadamu. Yang seperti itu tidak lain hanyalah Tuhanmu. Oleh sebab itu bagaimana mungkin engkau menjadikan yang selain Allah sebagai sahabatmu ?

Setiap manusia yang bersahabat dengan manusia yang lain, masing-masing dari mereka saling mengambil keuntungan dari satu sama lain. Walaupun persahabatan itu terjalin dari orang tua dan anak. Sebab setiap dari orang tua mempunyai tujuan terhadap anaknya. Ia menaruh harapan-harapan kepada anaknya agar anak itu bermanfaat kepadanya. Walau persahabatan itu juga terjalin dari famili dan sanak saudara.

Dalam pepatah Arab dikatakan:

الْأَقَارِبُ كَالْعَقَارِبِ

“Sanak saudara (famili) itu seperti kalajengking.”

Berbeda dengan orang yang hanya bersahabat dengan Tuhannya, yaitu Allah subhanahu wa ta ‘ala. Sedikitpun Allah tidak mengambil keuntungan dari orang yang bersahabat dengan-Nya. Bahkan orang itulah yang memperoleh berbagai keuntungan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu jadikanlah Allah saja sebagai sahabatmu dan tinggalkanlah manusia berada di sampingmu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132)

 

Penyair mengatakan:

لَا تَسْأَلَنَّ بُنَيَّ آدَمَ حَاجَةً     وَسَلِ الَّذِيْ أَبْوَابُهُ لَا تُحْجَبُ

اللّٰهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ    وَبُنَيُّ آدَمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

Janganlah engkau sekali-kali meminta sesuatu hajat kepada anak Adam

Dan mintalah kepada Dzat yang pintu-Nya tidak pernah tertutup

Allah murka jika engkau tidak meminta kepada-Nya

Sedangkan anak Adam murka ketika ia dimintai

 

Sebagian Ulama mengatakan: “Ujilah manusia niscaya engkau akan menemukan mereka seperti kalajengking.” Artinya orang yang bersahabat dengan manusia itu akan menyakitkannya sebagaimana kalajengking dapat menyakiti dengan sengatannya, kecuali orang yang berteman dengan orang-orang shaleh.

Maka orang yang duduk bersama dengan orang-orang shaleh akan bermanfaat kepada orang itu meskipun orang yang shaleh itu sudah wafat. Begitu juga sebaliknya jika ia berteman dengan orang yang jahat pasti akan bermudharat kepadanya, meskipun orang tersebut telah wafat. Dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan mengenai jenazah yang sedang dipikul untuk dimakamkan:

أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا، وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ، فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ

“Percepatlah jalan kalian memikul jenazah, karena jika jenazah itu adalah orang yang shaleh, maka ia adalah kebaikan yang kalian mempercepatnya menuju pahala. Dan jika jenazah itu bukan orang yang shaleh, maka ia adalah kejelekan yang kalian turunkan dari pundak kalian.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam mengatakan bagaimana seseorang akan memberikan kesan dan pengaruh terhadap orang lain yang mendekat dengannya, walaupun orang tersebut telah meninggal.

Al-Habib Abdullah bin Alawi aI-Haddad (1044-1132 H / 1634-1720 M) dalam qashidahnya mengatakan:

وَاصْحَبْ ذَوِى المَعْرُوفِ وَالْعِلْمِ وَالْهدَى

وَجَانِبْ وَلاَتَصْحَبْ -هُدِيْتَ- مَنِ افْتَتَنْ

Bertemanlah dengan orang-orang yang baik, para ahli ilmu dan orang-orang yang mendapat petunjuk

Jauhilah dan jangan engkau berteman dengan orang yang membawa fitnah, niscaya engkau akan mendapat petunjuk

Dalam hadits, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu menurut kebiasaan temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang akan ia jadikan sebagai teman.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *