Harapan Ataukah Angan-Angan Belaka?

Tidak Ada Isyarat Karena Lenyap Dalam Wujud Allah
Jun 15, 2019
Permintaan Arifin
Jun 29, 2019

اَلرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ وَإِلَّا فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ

Harapan (yang sesungguhnya) adalah yang disertai dengan amal perbuatan. Kalau tidak demikian, maka itu adalah angan-angan belaka.

 

RAJA (harapan yang sesungguhnya) merupakan maqam yang mulia dari beberapa maqam al-yaqin. Harapan kepada Allah yang dimiliki oleh seseorang menunjukkan bahwa ia mempunyai keyakinan kepada-Nya. Raja’ dapat membangkitkan seseorang untuk giat melakukan amal ibadah, sebagaimana juga kesedihan. Sebab orang yang mengharap sesuatu, maka ia mencarinya. Orang yang takut sesuatu, maka pasti ia lari dari sesuatu yang ia takuti itu.

Adapun harapan yang dusta, yang bisa menyebabkan seseorang lemah dan malas melakukan ibadah dan membikin ia berani melakukan maksiat, maka itu bukan Raja. Tetapi disebut Umniah (angan-angan kosong) dan tertipu dengan Allah.

Bila ada seseorang mengharap rahmat Allah, namun ia tidak giat mengerjakan amal ibadah dan tetap saja melakukan kemaksiatan, dengan pikiran bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Pengasih, maka harapannya itu hanyalah angan-angan kosong. Orang tersebut telah tertipu oleh rahmat Allah. Andai harapannya benar, maka ia akan rajin melakukan ibadah dan tidak berani berbuat maksiat.

Allah mencela golongan yang punya prasangka seperti ini. Mereka terus menerus cinta kepada dunia, ridho dengan dunia, tetapi ia mengharap ampunan Allah. Dalam pikirannya terlintas bahwa Allah akan memberi ampunan kepadanya. Mereka oleh Allah disebut dengan Kholf (dengan lam sukun) yang berarti generasi jelek, bukan Kholaf (dengan lam fathah ) yang berarti generasi baik.

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا

“Datang setelah mereka Kholf (generasi jahat), mereka mewarisi Al-Kitab, mereka mengambil dunia yang remeh ini (dengan melalui jalan yang haram), dan mereka berkata: kami akan mendapatkan ampunan Allah.” (QS. Al-A’raf: 169)

Orang-orang seperti ini yang merasa bahwa Allah akan mengampuni mereka walaupun mereka selalu berbuat haram dan mengumpulkan dunia dengan segala cara, maka kapankah orang ini akan bertaubat?

Maka bagi orang yang mengharapkan surga, perbanyaklah beramal baik. Bila tidak, maka itu hanyalah harapan kosong. Makruf Al-Karkhi berkata: “Mencari surga tanpa amal merupakan sebuah dosa. Mengharap syafa’at tanpa sebab adalah semacam tipuan. Mengharap rahmat dari Dzat yang tidak ditaati adalah sebuah kebodohan.”

Makruf Al-Karkhi juga berujar, “Mengharap rahmat dari Tuhan yang tidak kau taati merupakan kehinaan dan kebodohan.”

Ulama berkata: “Kalau seseorang menyangka bahwa mengharap kepada Allah disertai dengan terus menerus melakukan dosa itu benar, maka ia juga harus mengatakan bahwa mencari keuntungan dari kemiskinan itu benar, atau menyalakan api di lautan juga benar.” Maksudnya, ia mengharap sesuatu yang mustahil.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ الأمَانِيَّ

“Orang yang pandai adalah orang yang selalu mengoreksi dirinya dan beramal untuk sesudah mati. Orang yang bodoh adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya tetapi ia mengharap kepada Allah dengan bermacam-macam harapan.”

Hasan Al-Bashri berkata: “Ada golongan yang tertipu dengan angan-angan mendapatkan pengampunan dari Allah, sehingga mereka keluar dari dunia (mati) tanpa berbuat satu kebaikan pun. Diantara mereka berkata ‘Aku bersangka baik kepada Tuhanku’. Kalau ia sungguh-sungguh berprasangka baik kepada Allah, maka pasti ia akan memperbaiki amalnya.” Kemudian Hasan Al-Bashri membaca firman Allah:

وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Demikianlah sangka baik kalian kepada Tuhan kalian membuat kalian binasa, maka kalian menjadi orang yang rugi.” (QS. Fushilat: 23)

Banyak pula orang yang tertipu dengan hadits Qudsi

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ

“Aku tergantung sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari Muslim)

Lantas dengan bersandar pada hadits ini orang tersebut berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah akan memasukkannya ke surga, mengampuni dosanya, mati khusnul khotimah. Akan tetapi ia tidak berbuat amal kebaikan dan tetap dalam kemaksiatan dan mengikuti hawa nafsunya. Ia salah mengartikan hadits ini. Hadits ini benar bagi mereka yang beramal dan kemudian ia berprasangka kepada Allah bahwa amalnya akan diterima oleh-Nya.

Hasan Al-Bashri juga berkata: “Wahai hamba-hamba Allah, waspadalah terhadap angan-angan. Karena angan-angan itu adalah jurang yang membinasakan dan banyak orang dilalaikan oleh angan-angan. Demi Allah, Allah tidak memberi seseorang kebaikan dunia atau akhirat dengan angan-angannya.”

Dalam ungkapan di atas, Hasan Al-Bashri bersumpah bahwa sesuatu itu tidak bisa dicapai dengan angan-angan saja. Baik itu urusan dunia atau akhirat. Tetapi semua bisa diraih melalui usaha dan beramal. Kalau ingin menjadi orang kaya, maka harus berusaha dengan keras untuk mewujudkan cita-citanya tersebut dengan bekerja. Begitu pula orang yang ingin menjadi alim, maka dia harus dengan giat mencari ilmu, bukan hanya berangan-angan mendapat ilmu ladunni saja. Hal ini seperti ungkapan syair:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا   إنَّ السَّفِينَةَ لَا تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ

Engkau harapkan kesuksesan tetapi kau tidak menempuh jalannya

Sesungguhnya perahu itu tidak berjalan di daratan.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *