Dunia Bukan Tempat Balasan

Tong Kosong Nyaring Bunyinya
Apr 24, 2019
Nikmat Beribadah Tanda Amal Diterima
May 4, 2019

إِنَّمَا جَعَلَ الدَّارَ الآخِرَةَ مَحَلًّا لِجَزَاءِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِأَنَّ هَذِهِ الدَّارَ لَا تَسَعُ مَا يُرِيْدُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ وَلِأَنَّهُ أَجَلَّ أَقْدَارَهُمْ عَنْ أَنْ يُجَازِيَهُمْ فِي دَارٍ لَا بَقَاءَ لَهَا

Sesungguhnya Allah menjadikan negeri akhirat itu sebagai tempat balasan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, sebab negeri (dunia) ini tidak cukup menjadi tempat apa yang diberikan Allah kepada mereka, juga karena Allah mengagungkan derajat mereka tidak membalas mereka di dunia, sebab dunia ini tidak kekal.

 

PAHALA-PAHALA orang yang beriman dan beramal saleh akan diberikan oleh Allah di akhirat bukan di dunia, karena dua alasan.

Alasan Pertama ; karena dunia ini tidak cukup menjadi tempat kenikmatan-kenikmatan yang akan diberikan kepada mereka, baik berupa nikmat bendawi atau maknawi.

Bila balasan yang diberikan oleh Allah itu berupa benda maka dunia ini tidak cukup menampungnya, sebab penjuru dunia ini sempit, jaraknya saling berdekatan. Coba bayangkan, pahala melaksanakan salat sunat fajar saja apabila dibendakan, maka dunia ini tidak cukup memuatnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia seisinya” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa seorang mukmin itu akan memiliki sebuah rumah di akhirat. Rumah itu seluas perjalanan lima ratus tahun. Itu sebuah rumah orang mukmin yang biasa. Bagaimana pula dengan orang-orang yang khusus, seperti Nabi Muhammad, para nabi, para wali, ulama dan orang-orang saleh. Tentu lebih luas lagi.

Jikalau balasan itu berupa maknawi, seperti nur, sirr, rahmah dan assakinah, maka dunia ini tidak layak menjadi tempatnya, dikarenakan dunia ini sangat hina. Barang-barang maknawi itu sangatlah berbobot dan berharga. Tidaklah pantas dunia yang hina dina ini menjadi tempatnya. Dunia ini adalah tempat kotoran dan penuh cobaan. Sedangkan segala sesuatu yang dinikmati oleh ahli surga adalah urusan-urusan yang mulia dan sangat berharga.

Diceritakan dalam hadits bahwa tempat pecut di surga itu lebih berharga dari dunia dan seisinya (HR. Bukhari). Ini baru tempat pecut saja, belum yang lainnya. Disebutkan pula bahwa kilauan sinar gelang bidadari bisa menghapus sinar matahari. Semerbak bau keringatnya yang wangi akan memenuhi dunia.

Ini baru sedikit dari apa yang akan diberikan oleh Allah kepada orang mukmin. Masih banyak yang disembunyikan oleh Allah kepada mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seseorang tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari kesenangan.” (QS. As-Sajadah: 17)

Apa yang disebut dalam Al-Qur’an atau hadits mengenai kenikmatan-kenikmatan di akhirat hanyalah sedikit dan sekedarnya saja. Lebih banyak yang disimpan oleh Allah sebagai kejutan kepada orang mukmin. Hadiah-hadiah kejutan itu lebih membahagiakan daripada hadiah yang sudah dijanjikan.

Nabi shallallahu alaihi wasallam menceritakan dari Allah subhanahu wa ta’ala:

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.” (HR. Bukhari Muslim)

Alasan kedua ; Allah sayang kepada orang mukmin sehingga tidak diberi balasan ditempat yang tidak kekal. Sebab segala sesuatu yang rusak, walaupun panjang masanya, seperti tidak ada apa-apa, kosong dan percuma.

Oleh karena itu Allah menunda di akhirat yang kekal abadi selamanya. Mereka akan senang terus dan bahagia selamanya. Mereka akan merasakan kenikmatan surgawi itu dengan kekal.

Cukup mulia orang yang beriman itu akan diberi nama dengan الحي الذي لا يموت, sebuah nama Allah subhanahu wa ta’ala. Ini disebutkan dalam tafsir firman Allah:

وَمُلْكًا كَبِيْرًا

“Dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan: 20)

Allah mengutus satu malaikat kepada seorang wali-Nya.

“Hai malaikat, bila kau masuk mintalah izin kepada hamba-Ku itu. Bila ia memberimu izin, maka masuklah. Bila tidak, maka kembalilah,” kata Allah kepada malaikat itu.

Lalu malaikat itu meminta izin kepada tujuh puluh lapis penjaga. Akhirnya ia mendapat restu untuk masuk. Ia masuk kepada hamba Allah yang shaleh itu dengan membawa sepucuk surat dari Allah. Alamat surat itu bertuliskan ;

مِنَ الْـحَيِّ الَّذِي لَا يَـمُوْتُ إِلَـى الْـحَيِّ الَّذِي لَا يَـمُوْتُ

Dari: Maha Hidup yang tidak mati.

Kepada: Hamba-Ku yang hidup dan tidak mati.

 

Kemudian surat itu dibuka oleh sang hamba tersebut. Ternyata isinya berbunyi:

عَبْدِي ! إِشْتَقْتُ إِلَيْكَ, فَزُرْنِـيْ

“Hamba-Ku … Aku rindu padamu, maka ziarahlah pada-Ku!”

Akhirnya orang itu berangkat menuju Allah dengan menaiki buraq yang telah disediakan. Namun hamba itu terbang duluan menuju Allah dibawa oleh kerinduannya yang mendalam kepada-Nya. Buraqnya kosong dan tertinggal.

Maka, yang terpenting kita harus punya keyakinan bahwa segala apa yang kita lakukan dari amal saleh akan kita dapatkan pahalanya di surga nanti. Tidak ada yang hilang. Keyakinan itulah yang akan mendorong orang untuk giat melakukan ibadah. Bila tidak ada keyakinan, maka akan timbul rasa malas untuk melakukan amal kebaikan.

Maka bersabarlah dalam melakukan ibadah. Berjuanglah melawan nafsu. Dengan giat berjuang melawan nafsu dalam melakukan ibadah maka ibadah itu akan menjadi kebiasan dan terasa nikmat. Pahit-pahitlah sebentar agar kita mendapat balasan yang besar di akhirat nanti. Seperti pesan Habib Ali Al-Habsyi yang menganjurkan kita untuk merusak badan kita dengan ibadah sebelum rusak sendiri.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *