Dosa Tidak Menjadi Halangan Untuk Ber-Istiqomah

Senang Jika Diberi, Sedih Jika Ditolak
Jun 13, 2020
Perhatikan Nikmat Timbul Harapan, Pikirkan Dosa Muncul Ketakutan
Jul 1, 2020

اِذَا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلَا يَكُنْ سَبَبًا لِيَأْسِكَ مِنْ حُصُوْلِ اْلإِسْتِقَامَةِ مَعَ رَبِّكَ فَقَدْ يَكُوْنُ ذٰلِكَ اٰخِرَ ذَنْبٍ قُدِّرَ عَلَيْكَ

Jika engkau terlanjur melakukan dosa, maka jangan sampai dosa itu menjadi sebab engkau putus asa untuk mendapatkan istiqomah kepada Tuhanmu, karena mungkin dosa itu adalah dosa terakhir yang ditakdikan Allah untukmu.

 

PERBUATAN dosa itu tidak bertentangan dengan (tidak dapat merusak) istiqomah dalam ubudiyah seseorang, asalkan perbuatan maksiat itu tidak dilakukan dengan terus-menerus dan tidak dilakukan dengan rasa gembira atau bangga dan sengaja.

Namun sepantasnya orang tersebut bersegera untuk bertaubat dan ingat kepada Allah. Ia harus lebih bersemangat dan banyak beramal sholeh untuk mengejar dan menunjang kekurangan dan kesalahan-kesalahannya.

Apabila demikian halnya, maka maksiat itu tidak berakibat buruk kepada istiqomah dalam ubudiyahnya. Hal ini seperti yang difirmankan Allah Ta’ala dalam al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu jika diganggu oleh syaitan (sehingga terjatuh dalam perbuatan dosa), mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya ).” (QS. Al-A’raf: 201)

Dalam firman Allah ini, Allah Ta’ala tetap menyebut mereka dengan sebutan ‘orang-orang yang bertakwa’ padahal mereka itu telah melakukan dosa. Disebut dengan orang-orang yang bertakwa, sebab mereka ingat dan sadar bahwa dirinya salah, lalu mereka kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa maksiat itu tidak berakibat buruk bagi orang-orang yang tetap beristiqomah, berubudiyah, bilamana seandainya mereka melakukan perbuatan dosa, mereka ingat dan bertaubat kepada Allah azza wa jalla.

Kebanyakan para pemuda sekarang ini, apabila telah melakukan maksiat mereka merasa putus asa dari rahmat Allah sehingga menjauhkan diri dari ibadah, tidak mau menghadiri majlis ta’lim dan tidak mau melakukan sholat jama’ah di masjid, karena mereka beralasan bahwa diri mereka kotor dan merasa malu. Maka yang demikian ini menandakan bahwa mereka putus asa dari rahmat Allah. Padahal dosa-dosa mereka itu bisa terhapus, apabila mereka mengganti perbuatan dosa itu dengan amal-amal sholeh. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus kejelekan.” (HR. Bukhari Muslim)

Imam Ghazali mengatakan: bahwa orang-orang yang masuk Surga tanpa dihisab itu adalah orang-orang yang amal kebaikannya lebih banyak dari amal kejelekannya. Sebab apabila amal kejelekannya itu kalah dari amal kebaikannya, maka orang itu dapat Pengampunan dari Allah, sehingga yang tersisa pada dirinya hanyalah amal kebaikan dan di situlah ia masuk surga tanpa dihisab. Maka yang patut mendapatkan syafa’at Nabi itu adalah orang-orang yang melakukan dosa besar.

Begitu juga seorang murid apabila melakukan dosa, lalu ia tidak mau bertemu dan mendekat dengan gurunya. Padahal apabila ia mendekat dengan gurunya dan menghadiri pengajiannya, ia bisa mendengar nasihat dan bisa lebih mengingatkannya akan dosa-dosanya, lalu menyesalinya dan ia bertaubat. Jika ia tidak mendekati gurunya, maka ia akan lebih jauh dari Allah dan berteman dengan syaitan.

Orang yang melakukan perbuatan dosa dianjurkan untuk selalu berprasangka baik kepada Allah. Bahwa dosa yang dilakukannya itu barangkali adalah perbuatan dosa yang terakhir yang ditakdirkan Allah untuknya.

Hendaknya juga ia merenungkan bahwa dulu ada orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang jahat. Namun pada akhirnya mereka menjadi orang-orang yang baik, seperti Rabi’ah Adawiyah yang pada akhirnya ia menjadi seorang perempuan yang sholehah, padahal dulunya ia seorang penyanyi. Begitu juga Ibrahim bin Adham, Fudhail bin ’Iyadh yang dulunya mereka adalah perampok, kemudian bertaubat.

Maka mereka menjadi orang yang istimewa sehingga menjadi tokoh tasawwuf dan sebagai suri tauladan yang baik untuk generasi-generasi yang mendatang serta banyak dari para ulama dan kitab-kitab menyebut nama-nama mereka.

Allah sangat menyukai orang-orang yang selalu kembali dan bertaubat kepada-Nya.

Firman Allah azza wa jalla:

اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Bahkan orang-orang yang bertaubat itu dosanya akan dihapus dan dosa amal kejelekannya diganti menjadi amal kebaikan dan pahala. Sehingga kadang kala orang yang bertaubat itu dapat mengalahkan orang-orang yang rajin dalam beribadah. Karena mungkin saja orang yang beribadah itu amal kebaikannya menjadi amal kejelekan, sebab ia beribadah bukan karena Allah tetapi melainkan untuk mengharap pujian orang semata.

Allah azza wa jalla belas kasih kepada orang-orang yang bermaksiat asalkan ia mau bertaubat dan kembali kepada-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Setiap manusia itu pasti akan jatuh kepada maksiat. Al-Habib Abu Bakar al-Adani berkata: “Tidak ada di dunia ini orang yang bersih dari dosa, karena dunia ini adalah tempat najis. Jika seseorang ingin bersih dari dosa, maka silahkan ia hidup di atas langit.”

Namun yang paling penting, apabila seseorang terkena najis cepat-cepat ia membersihkan dan mencucinya. Bilamana ia terjatuh dalam perbuatan dosa, maka ia bersegera untuk kembali kepada Allah dan beristighfar kepada-Nya.

Seseorang itu tidak dibenarkan mengaku dirinya Ma’sum (terpelihara dari dosa), kecuali Nabi. Akan tetapi tidak mengapa kalau ia meminta ‘Ismah (minta penjagaan).

Orang yang putus asa dari Allah dan tidak mau bertaubat kepada-Nya itu adalah orang-orang yang tersesat. Sebaliknya orang yang punya harapan kepada Allah adalah orang yang mendapat hldayah, sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالّوْنَ

“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr : 56)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *