Dosa Bisa Menjadi Penghantar Kepada Allah

Kebijaksanaan Allah Yang Banyak Orang Tidak Mengerti
Oct 22, 2019
Perbuatan Maksiat Yang Lebih Baik Daripada Amal Taat
Nov 8, 2019

 رُبَّمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُوْلِ وَرُبَّمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا فِي الْوُصُوْلِ

Mungkin Allah membuka untukmu pintu taat tetapi belum membuka untukmu pintu qabul (penerimaan), dan adakalanya Allah menakdirkan engkau melakukan dosa tatapi menjadi sebab engkau sampai kepada-Nya.

 

SEORANG hamba tidak boleh melihat kepada bentuk dhahir sesuatu, tetapi yang dilihat adalah hakikatnya. Kadang bentuk luarnya taat, tetapi batinnya maksiat. Luarnya maksiat tetapi dalamnya taat. Allah bisa menyelipkan ketaatan dalam kemaksiatan dan kemaksiatan dalam ketaatan.

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَهُوَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dia memasukkan malam dalam siang dan memasukkan siang dalam malam dan Dia Maha Tahu dengan kandungan hati.” (QS. Al-Hadid: 6)

Bentuk amal taat tidak mengharuskan adanya qobul. Belum pasti amal taat itu diterima oleh Allah. Sebab, di dalam ketaatan ada penyakit-penyakit yang bisa merusak keikhlasan dan menyebabkan amal itu tidak diterima di sisi Allah. Yang diperintahkan oleh Allah adalah beribadah dengan ikhlas (bersih dari segala penyakit).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada Allah.” (QS. Al. Bayyinah: 5)

Misalnya, seseorang yang melakukan ibadah. Kelihatan dari luar ia melakukan sebuah bentuk ketaatan. Akan tetapi hati orang itu ujub (bangga) dengan amalnya, yang menyebabkan amal orang itu terhapus dan tidak diterima oleh Allah. Luarnya taat tetapi hakikatnya maksiat.

Sebaliknya, tidak semua kemaksiatan mengharuskan pelakunya jauh dari Allah dan terusir dari rahmat-Nya. Belum pasti. Malahan bisa jadi perbuatan dosa itu menyebabkan seseorang sampai kepada Allah.

Contohnya, ada seseorang yang sedang menempuh jalan Allah ditimpa kemalasan dalam beribadah. Lalu Allah menakdirkan dirinya melakukan sebuah perbuatan dosa. Lantas ia menyesali dosanya itu dan bangkit dari kelalaiannya. Ia menjadi lebih bersemangat dengan ibadahnya dan lebih ikhlas dari sebelumnya. Sebab, ia merasa telah tertipu oleh syetan. Dan pada akhirnya ia sampai kepada Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

رُبَّ ذَنْبٍ أَدْخَلَ صَاحِبَهُ الْـجَنَّةَ

 “Adakalanya dosa itu memasukkan pelakunya ke surga.”

Sahabat bertanya:

وَكَيْفَ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟

“Bagaimana terjadi demikian, ya Rasulullah?”

Rasul menjawab:

لَا يَزَالُ تَائِبًا فَارًّا مِنْهُ خَائِفًا مِنْ رَبِّهِ حَتَّى يَمُوْتَ فَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ

“Orang itu terus menerus tobat, lari dari dosa itu, takut kepada Tuhannya sampai mati, lalu ia masuk surga.”

Keyakinan yang kuat membawa seseorang bangkit dari kubangan dosa dan membuatnya mengejar ketinggalannya. Oleh karena itu Habib Ahmad bin Umar bin Smith mengatakan:

مَنْ كَانَتْ غَرِيْزَتُهُ الْيَقِيْنَ لَا تَضُرُّهُ الْمَعَاصِي

“Orang yang memiliki keyakinan yang kuat, maka maksiat tidak berbahaya baginya.”

Maksudnya, orang yang memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah tidak akan larut dalam kemaksiatannya. Ia akan segera bangkit dan menyesali dosanya. Bahkan ia akan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Para sahabat Nabi adalah manusia-manusia yang memiliki keyakinan yang tinggi. Maka ketika ada yang melakukan sebuah kemaksiatan langsung ia bertaubat. Kisah taubatnya sahabat Ma’iz salah satu contohnya.

Setelah melakukan zina, hati Ma’iz menjadi gundah. Ia datang kepada Rasulullah.

“Aku telah melakukan zina. Sucikan Aku, Ya Rasulullah,” ucap Ma’iz.

Rasulullah menolak pengakuan Ma’iz. Tetapi Ma’iz terus datang sampai tiga kali. Kemudian Rasulullah menyuruh Ma’iz untuk dirajam. Maka dirajamlah dia. Ketika itu ada yang mencaci Ma’iz. Rasulullah melarangnya dan berkata:

اسْتَغْفِرُوا لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ أُمَّةٍ لَوَسِعَتْهُمْ

“Beristighfarlah untuk Ma’iz. Sungguh ia telah bertaubat, andaikata taubatnya itu dibagi ke seluruh umat, maka akan mencukupi mereka.” (HR. Muslim)

Dalam hadits sahih riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Allah yang jiwaku ada di kekuasaannya. Andai kalian tidak berdosa maka Allah akan mematikan kalian dan mengganti dengan kaum yang berdosa, maka mereka meminta ampun kepada Allah dan Allah mengampuni mereka. ”

Abu Hazim berkata: “Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan sebuah amal kebaikan dan ia merasa bangga waktu mengamalkan amal itu, maka tidak ada kejelekan yang lebih berbahaya dari hal tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba yang melakukan sebuah kejelekan dan ia sedih ketika melakukannya, maka tidak ada amal kebaikan yang lebih bermanfaat dari hal tersebut. Sebab seorang hamba yang melakukan kebaikan dan bangga terhadap perbuatannya itu, maka ia akan mengingat-ngingat apa yang telah ia lakukan. Lalu ia merasa lebih baik dari orang lain. Bisa jadi Allah menghapus amal kebaikan itu dan amal kebaikan lainnya yang banyak. Dan hamba yang melakukan kejelekan dan ia merasa sedih ketika melakukannya, maka mudah-mudahan Allah menciptakan rasa takut kepada Allah di hatinya sampai ia bertemu Allah. Ketakutan itu tetap berada di hatinya.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *