Diciptakan Dan Dilengkapi Segala Kebutuhan

Tidak Ada Makhluk Yang Lepas Dari Dua Kenikmatan
Nov 11, 2019

أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلًا بِالْإِيْجَادِ وَثَانِيًا بِتَوَالِى الْإِمْدَادِ

Pertama kali Allah memberimu nikmat penciptaan. Dan kedua, dengan terus menerus memberimu kelengkapan wujudmu.

 

INI adalah salah satu bagian dari keseluruhan nikmat yang disebutkan sebelumnya, yaitu wujudmu dan kelanggengan wujudmu.

Dan yang tidak boleh dilupakan dari jenis nikmat ini ialah nikmat penciptaan iman dan cinta ketaatan di dalam hatimu serta kelangsungan kedua nikmat itu pada dirimu. Begitu juga, nikmat yang berupa kebencian kepada kekufuran dan kemaksiatan. Sesungguhnya hal itu termasuk nikmat-nikmat besar yang tidak ada campur tangan hamba di dalamnya dan ia tidak punya perantara untuk mendapatkannya. Andai kata Allah tidak memberinya dua kenikmatan itu, dalam kedua macamnya, niscaya dia menjadi bingung dalam gelapnya kesesatan dan tenggelam dalam lautan kebodohan.

Allah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan membuatnya indah di hatimu, dan menjadikan kamu benci terhadap kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Itu semua sebagai anugerah dan kenikmatan dari Allah.” (QS. Al-Hujurat : 7-8)

Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata, “Sesungguhnya orang yang memikirkan berbagai macam kesesatan, banyaknya jalan-jalan menuju hal yang mustahil, beratnya kesalahan-kesalahan manusia dalam berbagai bid’ah dan hawa nafsu, bercabang-cabangnya apa yang menimpa golongan dari berbagai aliran dan pendapat, kemudian ia memikirkan kelemahan dirinya, kekurangan akalnya dalam menghadapi kebingungannya yang banyak dalam berbagai perkara, kebodohannya yang sangat, pengaturannya yang saling bertentangan dalam berbagai keadaannya, kebutuhannya yang sangat untuk meminta tolong kepada orang sesamanya dalam amal perbuatannya, kemudian ia melihat keyakinannya yang murni, pengamalannya yang kuat terhadap agamanya, wajah tauhidnya yang bersih dari kotoran syirik, kejernihan mata pengetahuannya dari cabang-cabang syirik, maka pasti orang itu mengetahui bahwa semua itu bukan dari kemampuannya, bukan dari jerih payahnya, bukan dari usahanya, dan bukan dari kegiatannya, tetapi dari karunia Tuhannya dan keluasan pemberian Allah (berupa iman).

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Allah telah melimpahkan kepadamu kenikmatan-kenikmatannya yang dhahir (nyata) dan batin (tersembunyi).” (QS. Luqman: 20)

Dialah Allah Ad-Dhahir (yang tampak jelas) dengan berbagai kenikmatan-Nya. Bekas-bekas nikmat-Nya padamu tampak nyata. Dialah Allah Al-Batin (yang batin) dari kenikmatan-kenikmatanNya, dan tambahan-tambahan dari kemurahan-Nya banyak terdapat pada dirimu.

Maka, setiap orang harus mengetahui nilai kenikmatan iman ini dan memasrahkan kepada Allah untuk kelanggengannya dan terpeliharanya kenikmatan tersebut. Janganlah dia mengandalkan akal dan ilmu pengetahuannya dalam hal ini.

Sebagian Arifin berkata, “Siapa yang merasa bahwa tauhid (keimanan)-nya dari hasil akal pikirannya, maka tauhidnya itu tidak bisa menyelamatkan dirinya dari api neraka.”

Dzunnun Al-Mishri berkata mirip dengan makna perkataan diatas, “Siapa yang mengandalkan tauhidnya pada dirinya, maka tauhidnya itu tidak bisa menyelamatkan dirinya dari api neraka sampai ia memandang tauhidnya itu murni dari karunia Allah subhanahu wa ta’ala. Ini adalah cara mensyukuri nikmat yang besar ini.”

Abu Thalib Al-Makki berkata setelah menyebut hadits yang diriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Cintailah Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang diberikan kepadamu.”

“Nikmat paling utama yang diberikan Allah kepada kita ialah beriman dan bermakrifat kepada-Nya, dilanggengkan hal itu kepada kita, dan pertolongan-Nya dengan rahmat dari-Nya dan ditetapkannya kita pada keyakinan itu dalam keadaan-keadaan yang berubah-ubah. Karena iman itu adalah dasar dari amal-amal yang merupakan tempat pemberian. Andai kata Allah mengubah hati kita dari tauhid sebagaimana Allah mengubah anggota badan kita dalam dosa-dosa, dan andaikata ia mengubah hati kita dalam keraguan dan kesesatan sebagaimana ia mengubah niat-niat kita dalam amal-amal, maka apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak punya daya. Apa yang bisa kita andalkan? Dengan apa kita bisa tenang? Dan apa yang bisa kita harapkan?”

“Nikmat iman Ini adalah nikmat terbesar dan mengetahui hal ini adalah menunjukkan rasa syukur atas nikmat iman. Sedangkan tidak mengetahui hal ini merupakan kelalaian dari nikmat iman yang menyebabkan datangnya uqubah (hukuman). Pengakuan bahwa iman itu dari usaha akal atau kemampuan diri dengan kekuatan dan daya upaya adalah merupakan kekufuran terhadap nikmat iman. Saya khawatir orang yang mempunyai anggapan seperti ini akan dicabut imannya, karena ia mengganti rasa syukur atas nikmat Allah dengan kekufuran,” selesai perkataan Syekh Abu Thalib Al-Makki.

Alhamdulillah, berkat karunia Allah kita dilahirkan dalam keadaan beriman beraqidah Ahlussunnah Waljamaah. Ini sebuah kenikmatan besar yang murni dari Allah subhanahu wa ta’ala, bukan dari kepandaian dan kecerdasan serta daya upaya kita. Kita harus mengakui hal tersebut. Kita harus mensyukuri nikmat iman ini dengan terus menjaganya dan melakukan amal taat kepada Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *