Diberi Tapi Tidak Diberi

Riang Gembira Dicocoki Nafsu
Jul 14, 2019
Kalau Paham Allah, Pencegahan Berubah Menjadi Pemberian
Aug 28, 2019

رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ

Ada kalanya Allah memberi engkau (kebahagiaan, kesenangan, keberuntungan dunia), tetapi sebenarnya mencegah engkau (dari taufiq dan hidayah-Nya), dan ada kalanya Allah tidak memberi engkau (kebahagiaan, kesenangan, keberuntungan dunia), tetapi sebenarnya Allah memberi engkau (taufiq dan hidayah-Nya).

 

ARTI dari kata hikmah ini adalah bahwa Allah kadang-kadang mencegah hamba-Nya untuk mendapatkan keinginannya (berupa kesenangan duniawi). Tetapi sebenarnya Allah memberi orang itu, bahkan lebih besar dari keinginannya itu karena ada satu hikmah, yaitu agar orang itu selalu tetap bersama Allah dan selalu ingat kepada-Nya.

Tetapi sebaliknya ada orang yang selalu dituruti oleh Allah segala keinginannya (diberi kesenangan-kesenangan dunia), tetapi sebenarnya ia dicegah dari taufiq dan hidayah-Nya, terputus hubungannya dengan Allah, sehingga melupakan kewajibannya, menjadi orang yang sombong dan tidak senang berkumpul dengan orang-orang sholeh dan orang-orang miskin.

Allah berfirman:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى  أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

“Ketahuilah, sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya sudah berkecukupan.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

Syeikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi mengatakan:

إِذَا مُنِعْتَ فَذَلِكَ عَطَاؤُهُ وَإِذَا أُعْطِيْتَ فَذَالِكَ مَنْعُهُ فَاخْتَرْ التَّرْكَ عَلَى الْأَخْذِ

“Jika dicegah permintaanmu maka berarti engkau telah diberi, tetapi jika engkau (segera) diberi oleh Allah berarti engkau telah ditolak (dicegah dari sesuatu pemberian yang lebih besar, dari hidayah dan taufik-Nya), maka pilihlah (utamakanlah) tidak dapat dari pada dapat.”

Oleh karena itu wajib atas hamba menyerahkan dirinya kepada Allah, karena Dialah yang menentukan segala sesuatu. Manusia tidak boleh ikut campur dalam urusan Allah karena apa saja yang datangnya dari Allah, baik itu kesenangan, kesusahan, semuanya itu adalah baik, Basth (kelapangan) dan Qabdh (kesempitan) itu kedua-duanya adalah karunia dari Allah.

Penyair mengatakan :

لَا تُدَبِّرْ لَكَ أَمْرًا     وَأُولُوْا التَّدْبِيْرِ هَلْكَى

سَلِّمِ الْأَمْرَ إِلَيْنَا       نَحْنُ أَوْلَى بِكَ مِنْكَ

Janganlah engkau mengatur rencanamu,

karena orang yang mengatur rencana itu akan binasa

Serahkan semua perkaramu kepada Kami,

Kami yang lebih mengerti tentang dirimu daripada kamu

Oleh karena itu, apabila kita ditimpa kesenangan ataupun kesusahan maka kita harus menyadarinya bahwasanya itu semuanya datangnya dari Allah, barangkali di balik semuanya itu ada kebaikan-kebaikan yang lebih baik dari apa yang telah terjadi.

Jika yang menimpa adalah Basth, maka kita harus bersyukur kepada Allah dan jika yang menimpa adalah Qabdh, maka kita harus kembali kepada-Nya, barangkali di balik semua itu ada kebaikan-kebaikan dan kita pun harus bersabar.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. رواه مسلم

Artinya: “Saya heran terhadap segala urusan orang mukmin, karena semua urusan orang mukmin itu semuanya adalah baik. Kebaikan tersebut tidak terdapat kecuali hanya pada diri orang mukmin. Jika dia ditimpa kesenangan, dia bersyukur. Maka syukurnya tersebut adalah kebaikan baginya. Dan jika dia ditimpa musibah, dia pun bersabar. Maka kesabaran itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Umumnya manusia itu nafsunya adalah nafsu ammarah / lawwamah yang biasanya orang seperti ini kalau mendapatkan pemberian ia akan merasa senang. Sebaliknya kalau mendapatkan pencegahan (tidak diberi oleh Allah), maka menjadi sempit dadanya, karena pemberian itu sejalan dengan nafsu (syahwat). Semua ini disebabkan karena ia bodoh dengan Tuhannya (tidak mengerti maksud dan tujuan dari perbuatan Allah). Seandainya ia mengerti di balik pencegahan tersebut, yaitu adanya Hikmah Ilahiyah (rahmat dan kebaikan dari Allah), maka ia akan tahu bahwa tidak diberi itu adalah diberi dan diberi itu adalah tidak diberi. Tetapi karena ia tidak mengerti, maka ia menganggap bahwa tidak diberi itu adalah suatu azab.

Maka pahamilah wahai murid tentang Allah dan perbuatan-Nya! Jangan engkau bersangka buruk pada-Nya, terimalah apa yang diberinya kepadamu.

رُبَّـمَا أَعْطَاكَ مَا تَشْتَهِيْهِ النُّفُوْسُ فَمَنَعَكَ بِذَلِكَ مِنْ حَضْرَةِ الْقُدُّوْسِ

Adakalanya kau dituruti segala keinginanmu tetapi engkau dicegah dari hadirat-Nya.

Rabi’atul Adawiyah, seorang sufi perempuan, pernah mengatakan:

فَلَيْتَكَ تَحْلُو وَالحَيَاةُ مَرِيرَةٌ      وَلَيْتَكَ تَرْضَى وَالأَنَامُ غِضَابُ

Aduhai ! kiranya Engkau manis dan kehidupan ini pahit, aku tidak akan perduli.

Aduhai ! kiranya Engkau ridha walaupun semua orang marah, aku juga tidak akan perduli.

Beliau juga pernah mengatakan:

إِذَا صَحَّ مِنْكَ الْوُدُّ فَالكُلُّ هَيِّنٌ       وَكُلُّ الَّذِي فَوْقَ التُّرَابُ تُرَابُ

“Kalau sudah benar cintaku padamu Ya Allah, maka semua yang menimpa padaku itu adalah remeh. Dan segala yang ada di atas tanah itu adalah tanah ”.

Allah Ta’ala berfirman :

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu tidak suka terhadap sesuatu tetapi justru sesuatu itu amat baik bagimu. Boleh jadi kamu suka terhadap sesuatu, tetapi justru sesuatu itu amat jelek bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *