Di Setiap Tarikan Nafas Ada Takdir Tuhan

Berdoa Atau Tidak Berdoa, Tetapi Tetap Sopan
Sep 19, 2018
Jangan Menunggu Habisnya Rintangan
Sep 23, 2018

 مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيْهِ إِلَّا وَلَهُ قَدَرٌ فِيْكَ يُمْضِيْهِ

Tiada satu nafas yang terlepas darimu, melainkan di situ ada takdir Allah yang berlaku terhadapmu.

 

DALAM kata hikmah ini Ibnu Athaillah menyebutkan adab keenam dalam masuk ke Hadrah Ilahiyah; yaitu pasrah dan ridha terhadap qadar dan keputusan Allah.

Ibnu Athaillah berkata: Tiada satu nafas yang terlepas darimu melainkan di situ ada takdir Allah yang berlaku terhadapmu .

Manusia dalam kehidupan ini tidak terlepas dari kejadian-kejadian yang silih berganti menimpa dirinya. Sebab, di setiap nafas manusia terjadi takdir Allah. Nafas bagaikan wadah bagi suatu kejadian yang turun dari takdir Allah. Firman Allah, “Setiap saat Allah dalam urusan.

Nafas manusia, kedipannya, langkahnya sudah ada batas hitungannya. Apabila sudah habis jatahnya maka ia akan mati, pergi ke akhirat.

Penyair berkata:

مَشَيْنَاهَا خُطًى كُتِبَتْ عَلَيْنَا             وَمَنْ كُتِبَتْ عَلَيْهِ  خُطًى  مَشَاهَا

وَمَنْ قُـسِمَتْ مَنِـيَّـتُـهُ بـِـأَرْضٍ            فَـلَيْـسَ يَمُوْتُ فِيْ أَرْضٍ سِوَاهَا

Kita berjalan dalam langkah-langkah yang sudah tercatat bagi kita

Siapa yang dicatat baginya langkah-langkah maka ia pasti berjalan di atasnya

Siapa yang dipastikan mati di suatu negeri

Maka dia tidak akan mati di negeri yang lain

Maka, jangan sampai nafasmu digunakan untuk maksiat. Pandai-pandailah menggunakan nafas untuk taat dan dzikir kepada Allah. Jangan sampai nafas terlepas sia-sia. Gunakan untuk selalu ingat kepada Allah. Jadikan Allah selalu dalam hati. Dengan begitu, maka aghyar (selain Allah) yang merintangi akan hilang dari hatimu. Yang ada di hati hanyalah Allah.

Keadaan selalu ingat kepada Allah dan tenggelam dengan Allah seperti yang terjadi kepada Imam Junaid yang menyatakan bahwa: walaupun ia bertahun-tahun berbicara dengan manusia, tetapi sebenarnya ia berbicara dengan Allah. Artinya, Imam Junaid tidak pernah melupakan Allah.

Syeikh Abdul Wahhab As-Sya’roni menyebutkan bahwa ia telah berjanji kepada gurunya untuk tidak melupakan Allah, walaupun dalam keadaan jimak.

Ketika saya masih muda, saya pernah ziarah ke Habib Sholeh, Tanggul. Saya ucapkan salam kepada beliau yang sedang berdiri memegang tasbih. Beliau memandang saya, tetapi tidak menjawab salam. Selang beberapa lama beliau menjawab dan mengajak bicara saya. Ini sebuah pelajaran, begitulah keadaan orang yang sedang tenggelam dalam mengingat Allah.

Sayangnya, banyak orang sekarang yang mabuk dunia. Akhirnya ia seperti linglung, bicara dengan manusia tidak nyambung. Andai ia mabuk dengan Allah seperti itu maka ia sudah menjadi seorang wali.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *