Cobaan Terasa Ringan, Bila Mengingat Yang Menimpakan Cobaan Itu

Cahaya Hati Tidak Akan Pernah Padam
Dec 26, 2019
Pikiran Dangkal Tak Melihat Kelembutan Allah Dibalik Musibah
Jan 9, 2020

لِيُخَفِّفْ أَلَمَّ الْبَلَاءِ عَنْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِيْ لَكَ, فَالَّذِيْ وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الْأَقْدَارُ هُوَ الَّذِيْ عَوَّدَكَ حُسْنَ الْإِخْتِيَارِ

Seharusnya terasa ringan darimu kepedihan cobaan karena engkau tahu bahwa yang melimpahkan cobaan itu adalah Allah. Maka Allah yang menimpakan takdir kepadamu, Dan pula yang membiasakan padamu kebaikan ikhtiar.

 

APA saja yang menimpa kita dari cobaan janganlah dibesar-besarkan. Kepedihan cobaan itu akan terasa ringan bila kita tahu bahwa yang menimpakan cobaan dan yang menguji kita adalah Allah. Takdir buruk yang kita alami berasal dari Allah. Dialah Yang Maha Kuasa. Dia kuasa membuat orang kaya menjadi miskin. Dia kuasa membuat orang bahagia menjadi susah. Ia berkuasa membuat orang sehat menjadi sakit. Allah-lah Dzat yang Maha Kuasa.

Namun ingatlah, Allah telah memberi kita kebaikan, kenikmatan yang tidak terhitung. Allah membiasakan kepada kita kebaikan-kebaikan yang begitu banyak. Allah memberi kita kehidupan, kesehatan, dan kenikmatan-kenikmatan lain.

Memang Allah Maha Berkuasa (Qodir). Tetapi Allah juga Maha Lembut (Lathif). Ulama menyatakan bahwa kekuasaan dan kelembutan Allah itu selalu bersama dan tidak berpisah. Setiap musibah yang menimpa akan disertai kelembutan Allah. Bila kita mengerti hal ini, maka musibah yang menimpa kita akan terasa ringan.

Yakinlah bahwa Allah Maha belas kasih. Pasti pada setiap musibah yang menimpa ada hikmah dan kebaikan yang kadang baru kita sadari di kemudian hari. Barulah kita mengucapkan syukur Alhamdulillah walau itu sudah terlambat. Otak manusia terlalu kecil untuk memahami hal itu. Allah Maha tahu dan manusia tidak tahu.

Bisa jadi dengan musibah yang menimpanya itu Allah membersihkan dosa orang tersebut atau membersihkannya dari aib atau mendekatkan dirinya kepada Allah. Manusia yang lupa kepada Allah akan kembali kepada Allah setelah diberi cobaan oleh Allah. Cukuplah deraan hikmah-hikmah di balik musibah ini sebagai pemberian dan kenikmatan dari Allah terhadap hamba-Nya.

Allah berfirman:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Syeikh Abu Thalib al-Makki berkata menafsiri ayat di atas: “Orang itu tidak suka kemiskinan, kehinaan, khumul (tidak ternama), penyakit. Padahal semua itu menjadi kebaikan baginya di akhirat. Manusia menyukai kekayaan, kesehatan, ketenaran. Padahal semua itu berbahaya di sisi Allah subhanahu wa ta ‘ala dan akibatnya jelek. “

Cobalah kita renungkan firman Allah kepada hamba terkasih-Nya, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

“Dan sabarlah dengan hukum (takdir) Tuhanmu, sesungguhnya engkau itu dalam pengawasan Kami.” (QS. Ath-Thur: 48)

Ayat ini sebagai penetapan dan kepastian bahwa Allah tidak menghendaki kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kecuali yang baik, Allah akan melindungi Nabi shallallahu alaihi wasallam dari segala marabahaya. Dan apa saja yang menimpa Nabi shallallahu alaihi wasallam dari takdir Allah adalah kenikmatan dan merupakan sebuah kebaikan. Sebab tidak mungkin Allah menghendaki kejelekan bagi Nabi. Tetapi, walau begitu, Nabi shallallahu alaihi wasallam disuruh sabar menghadapi takdir yang menimpanya karena ia dalam pengawasan Allah. Ini berarti bahwa musibah yang menimpa Nabi adalah sebuah kenikmatan yang terselubung dalam bentuk musibah.

Seakan-akan Allah berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Hai Muhammad, kalau datang kepadamu sebuah kenikmatan yang tertutup dengan sesuatu kekerasan (kesengsaraan) maka janganlah engkau sempit dada. Tetapi sabarlah dan anggaplah itu sesuatu yang ringan sebab engkau selalu Aku perhatikan, Aku jaga dan Aku lindungi.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan Allah telah melimpahkan kepada kalian nikmat-nikmat-Nya yang dhahir dan batin.” (QS. Lukman: 20)

Ada yang menafsirkan bahwa nikmat-nikmat yang dhahir adalah al-awafi (kesehatan dan keselamatan). Nikmat-nikmat yang batin adalah al-balaya (cobaan-cobaan), sebab musibah itu merupakan nikmat di akhirat. Maka apa saja yang menimpa orang mukmin dalam bentuk apapun adalah kenikmatan. Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya.

Ada ulama yang mengatakan bahwa bila seseorang tertimpa sebuah musibah maka hendaklah ia mengingat musibah-musibah yang menimpa Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad, manusia yang paling suci dan paling dikasihi oleh Allah masih mengalami musibah-rnusibah yang besar. Bahkan manusia yang paling besar musibahnya adalah Rasulullah, kemudian para nabi, kemudian para wali, kemudian para ulama dan orang-orang berikutnya. Semakin tinggi derajat seseorang, maka semakin besar pula musibah yang menimpanya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُونَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

“Manusia yang menerima paling besar musibah adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, kemudian yang berikutnya dan berikutnya.” (HR. At-Thabrani)

Dengan membandingkan musibah yang menimpa orang tersebut dengan musibah yang menimpa Nabi, maka musibah itu terasa ringan.

Seorang penyair berkata :

اصْبِرْ لِكُلِّ مُصِيبَةٍ وَتَجَلَّدْ      وَاعْلَمْ بِأَنَّ الْمَرْءَ غَيْرُ مُخَلَّدِ

أَوَمَا تَرَى أَنَّ الْمَصَائِبَ جَمَّةٌ         وَتَرَى الْمَنِيَّةَ لِلْعِبَادِ بِمَرْصَدِ

مَنْ لَمْ يُصَبْ مِمَّنْ تَرَى بِمُصِيبَةٍ         هَذَا سَبِيلٌ لَسْتَ فِيهِ بِأَوْحَدِ

فَإِذَا ذَكَرْتَ مُحَمَّدًا وَمُصَابَهُ      فَاذْكُرْ مُصَابَكَ بِالنَّبِيِّ مُحَمَّدِ

Sabarlah dan teguhkan dirimu dalam setiap musibah

Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang kekal abadi

Sabarlah sebagaimana orang-orang yang mulia itu sabar

Karena musibah datang bergantian, yang datang pada hari ini akan lenyap besok

Apabila engkau ditimpa musibah yang menyedihkan

Maka ingatlah dengan musibah yang menimpa Nabi Muhammad

Dalam at-Tanwir disebutkan: “Sesungguhnya yang menguatkan mereka menanggung takdir Allah adalah pengetahuan mereka terhadap kebaikan-kebaikan Allah (yang telah diberikan kepada mereka).”

Misalnya seseorang yang terserang penyakit gula di masa tuanya. Penyakit itu akan terasa ringan bila ia mengingat berapa lama ia telah diberi kesehatan oleh Allah. Sejak masih bayi ia telah dianugerahi bermacam kenikmatan. Jangan mengingat takdir Allah yang jelek saja. Tetapi ingatlah takdir Allah yang baik.

وَخَفَّفَ عَنِّي مَا أَلاقِي من العَنَا         بِأَنَّكَ أَنْتَ الْمُبْتَلي وَالْمُقَدِّرُ

وَمَا لاِمْرِءٍ عَمَّا قَضَى اللهُ مَعْدِلٌ       وَلَيْسَ لَهُ مِنْهُ الَّذِي يَتَخَيَّرُ

Yang meringankan aku dari musibah yang menimpaku

Bahwa engkaulah yang menguji dan yang menakdirkan

Tidak boleh seseorang menyalahkan apa yang telah ditentukan oleh Allah

Dan bukanlah dia yang berhak memilih

Al-Ustadz Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Aku pernah terkena penyakit kulit sehingga bentukku jelek. Lalu aku masuk kamar mandi. Maka, di kamar mandi itu, terbuka di hatiku sesuatu dari ridho (kepada takdir). Lalu aku keluar dari kamar mandi dan penyakitku bersih tak berbekas.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *