Cahaya Mendahului Dzikir, Dzikir Mendahului Cahaya

Minta Upah Sesuatu Yang Tidak Dikerjakan
Sep 14, 2021

قَوْمٌ تَسْبِقُ اَنْوَارُهُمْ اَذْكَارَهُمْ وَقَوْمٌ تَسْبِقُ اَذْكَارُهُمْ اَنْوَارُهُمْ وَقَوْمٌ تَتَسَاوَى اَذْكَارُهُمْ وَاَنْوَارُهُمْ وَقَوْمٌ لَا اَذْكَارَ وَلَا اَنْوَارَ -نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ ذلِكَ- ذَاكِرٌ ذَكَرَ لِيَسْتَنِيْرَ بِهِ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا وَذَاكِرٌ اِسْتَنَارَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا وَالَّذِى اسْتَوَتْ اَذْكَارُهُ وَاَنْوَارُهُ فَبِذِكْرِهِ يَهْتَدِى وَبِنُوْرِهِ يُقْتَدَى

Ada golongan yang cahayanya mendahului dzikirnya, ada golongan yang dzikirnya mendahului cahayanya, ada golongan yang bersamaan antara dzikir dan cahayanya. Ada pula golongan yang tidak punya dzikir dan cahaya -kita berlindung kepada Allah jangan sampai menjadi golongan ini-.

Ada orang berdzikir supaya hatinya bercahaya. Maka orang itu disebut orang yang berdzikir. Ada pula orang berdzikir dan hatinya sudah terang. Maka orang ini juga disebut orang yang berdzikir. Dan orang yang bersamaan antar dzikir dan cahayanya maka dengan dzikirnya orang itu dapat petunjuk, dan dengan cahayanya orang itu bisa diikuti.

 

GOLONGAN yang dzikirnya mendahului cahayanya adalah murid-murid yang sedang bersuluk. Sebab, mereka sedang berjuang untuk mendapatkan cahaya hati dengan berdzikir. Mereka melakukan dzikir dengan susah payah dan paksaan demi meraih cahaya hati itu. Dan berkat keikhlasan dan kesungguhannya itu, maka Allah akan menyampaikan mereka kepada tujuannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang (untuk mencari keridhaan) Kami, maka Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut : 69)

Sedangkan golongan yang cahayanya mendahului dzikirnya adalah murid-murid majdzubin. Artinya, mereka mendapat cahaya hati tanpa melalui dzikir dan melewati jalan berliku. Mereka mendapatkannya dengan mudah semata-mata karena karunia Allah yang datang tanpa ada permintaan dan persiapan. Dengan begitu, mereka berdzikir dengan gampang tanpa paksaan dan usaha keras.

Allah Ta ’ala berfirman:

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ

“Allah mengkhususkan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ali Imran : 74)

Habib Abdurrahman bin Abdullah Balfaqih berkata dalam Rasyafat-nya tentang majdzubin :

لَمْ يَدْرِ مَا طَعْمَ جِهَادِ النَّفْسِ   ۞   وَلَا عَنَاءَ السَّيْرِ وَارْتِحَالِ

لَمْ يُمْتَحَنْ بِالْفَتْحِ بِانْتِظَارِ      ۞   وَلَا بِأَوْرَادٍ وَاَذْكَارِ

كَقَصْدِ مُوْسَى جَذْوَةً مِنْ نَارِ   ۞   اِذْ عَادَ بِالْإِنْبَاءِ وَالْإِرْسَالِ

Mereka belum pernah merasakan pahitnya menentang hawa nafsu

Dan payahnya menempuh perjalanan menuju Allah

Mereka belum pernah mendapat ujian untuk mendapatkan Fath (kemenangan) dengan “menunggu”

Tidak pula dengan banyak wirid dan dzikir

Seperti Musa yang bertujuan mendapatkan obor api

Tiba-tiba ia kembali sudah menjadi rasul dan nabi

Disebutkan dalam Lathaif Al-Minan bahwa Syekh Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Ada golongan yang sampai dengan karunia Allah sehingga bisa taat kepada Allah. Ada golongan yang sampai dan berkat taatnya ia mendapatkan karunia Allah. Allah Ta’ala berfirman:

اللهُ يَجْتَبِى اِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِى اِلَيْهِ مَنْ يُنِيْبُ

“Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syuura : 13)

Jadzb adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia merupakan karunia Allah yang besar yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Mengenai Jadzb disebutkan dalam sebuah hadits:

جَذْبَةٌ مِنْ جَذَبَاتِ الْحَقِّ تُوَازِى عَمَلَ الثَّقَلَيْنِ

“Satu kali tarikan dari tarikan Allah menyamai amalnya jin dan manusia.”

Kedua-duanya, Salikun dan Majdzubun, tidak bisa dijadikan guru yang mendidik murid. Sebab, seorang salik masih belum sampai kepada Allah. Salikun bisa menjadi guru yang mendidik murid kalau ia sudah sampai kepada Allah. Dengan begitu ia bisa menularkan pengalamannya dalam menempuh perjalanan menuju Allah kepada para muridnya.

Alasan majdzubun tidak bisa dijadikan sebagai guru karena ia tidak berpengalaman. Bagaimana ia akan menuntun muridnya kepada Allah kalau ia tidak tahu lika-liku perjalanannya. Sebab, seorang majzdub itu tiba-tiba ditarik kepada Allah tanpa tahu lewat jalan mana. Ia seperti seorang yang dilipat kepadanya bumi ini sehingga ia langsung sampai ke Mekkah tanpa mengerti jalannya. Seorang majdzub bisa menjadi guru pendidik kalau ia kembali kepada permulaan dan bisa berhubungan dengan manusia.

Ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang lebih utama antara salikun dan majdzubun. Ada yang bekata bahwa salikun lebih utama karena ia lebih berpengalaman dalam menempuh jalan sehingga ia bisa mendidik muridnya berdasarkan pengalamanya itu. Wallahu A’lam.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *