Cahaya Hati Tidak Akan Pernah Padam

Wali Selalu Membutuhkan Allah
Dec 19, 2019
Cobaan Terasa Ringan, Bila Mengingat Yang Menimpakan Cobaan Itu
Jan 5, 2020

أَنَارَ الظَّوَاهِرَ بِأَنْوَارِ آثَارِهِ وَأَنَارَ السَّرَائِرِ بِأَنْوَارِ أَوْصَافِهِ. لِأَجْلِ ذَلِكَ أَفَلَتْ أَنْوَارُ الظَّوَاهِرِ وَلَمْ تَأْفُلْ أَنْوَارُ الْقُلُوْبِ وَالسَّرَائِرِ, وَلِذَلِكَ قِيْلَ : إِنَّ شَمْسَ النَّهَارِ تَغْرُبُ بِاللَّيْلِ وَشَمْسَ الْقُلُوْبِ لَيْسَتْ تَغِيْبُ

Allah menerangi alam ini dengan cahaya Atsar-Nya (makhlukNya), dan menerangi hati dengan cahaya sifat-Nya. Oleh karena itu cahaya-cahaya alam ini bisa terbenam, tetapi cahaya hati tidak akan terbenam. Oleh sebab itu dikatakan oleh penyair Sungguh matahari siang akan terbenam di waktu malam hari Tetapi matahari hati tidak pernah terbenam

 

ATSAR adalah makhluk ciptaan Allah sebagaimana dalam firman Allah:

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ

“Lihatlah kepada bekas-bekas rahmat Allah.” (QS. Ar-Rum: 50)

Semua makhluk Allah itu disebut atsar karena semua itu menunjukkan kepada adanya Allah. Oleh karena itu disebut dengan atsar (bekas-bekas) dari rahmat Allah.

وَكُلُّ شَيْئٍ لَهُ أَيَةٌ      تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدٌ

Setiap sesuatu ada tanda

Yang menunjukkan bahwa Allah itu Esa

Allah menerangi alam ini dengan makhluk-makhluk-Nya yang memiliki sinar seperti matahari, rembulan, bintang, lampu-lampu atau segala yang bercahaya.

Sebagaimana Allah menghiasi langit dengan bintang-bintang, Allah menghiasi bumi dengan tumbuh-tumbuhan, gunung, air dan segala apa yang ada di bumi. Allah berfirman:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا

“Sesungguhnya Kami jadikan apa yang diatas bumi sebagai hiasan baginya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Manusia juga termasuk penghias bumi, bahkan yang paling indah dari yang lainnya. Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-sebaiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Kata تقويم sebagai sarat tentang keistimewaan manusia dibanding binatang yaitu akal pemahaman dan bentuk fisiknya yang tegak dan lurus.

Keajaiban-keajaiban yang dimiliki manusia tidak dimiliki oleh makhluk lain. Manusia bisa membuat barang-barang yang tidak bisa dibuat oleh makhluk lain. Manusia membuat lampu-lampu yang bisa menerangi bumi ini. Semua yang diciptakan manusia juga termasuk ciptaan Allah dan atsar rahmatihi (bekas rahmat-Nya).

 

Kehebatan Cahaya Hati

Berbeda dengan persada alam ini yang diterangi oleh sinar-sinar makhluk Allah, maka yang menerangi hati adalah cahaya sifat Allah yang berhubungan dengan Dzat Allah. Cahaya hati ini sangat hebat karena langsung dari cahaya sifat-sifat Allah yang sempurna, kekal, agung, indah dan segala sifat Allah Yang Maha Hebat.

Jelaslah cahaya hati itu lebih hebat dari sinar matahari karena langsung dari cahaya sifat Allah. Diriwayatkan bahwa cahaya iman orang mukmin yang bermaksiat bila ditampakkan di dunia ini bisa memadamkan cahaya matahari. Ini cahaya orang mukmin yang bermaksiat. Bagaimanakah dengan cahaya iman para aulia, ulama, dan orang-orang saleh? Bagaimanakah pula cahaya iman para sahabat Nabi, terutama Abu Bakar yang mendapatkan cahaya iman Rasulullah?

Syeikh Abdul Aziz ad-Dabbagh dalam kitab Al-Ibriz menyebutkan bahwa Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu anhu mendapatkan cahaya iman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tidak bisa dibawa oleh orang lain. Jika dibawa oleh orang lain, maka orang itu akan meleleh. Lalu bagaimana dengan cahaya iman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri?

Kekuatan cahaya iman juga dapat memadamkan api neraka. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تَقُولُ النَّارُ لِلْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: جُزْ يَا مُؤْمِنُ، فَقَدْ أَطْفَأَ نُورُكَ لَهَبِي

“Pada hari kiamat api neraka berkata kepada orang mukmin: Cepatlah lewat! sungguh cahaya imanmu telah memadamkan apiku.” (HR. Tirmidzi dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Asy-Syekh Abu Bakar bin Salim berkata dalam qosidahnya:

صَفَتْ لِىْ حُمَيَّا خِلِّي وَأُسْقِيْتُ مِنْ صَافِيْهَا

Jernih bagiku wajah kekasihku

Dan aku diberi minuman dari minuman yang jernih darinya

Aku adalah yang membangun langit cinta (kepada kekasihku)

Dan aku mampu memadamkan api neraka jahim

 

Cahaya Hati Tidak Pernah Padam, Tidak Pernah Tenggelam Tidak Seperti Cahaya Alam Ini

Cahaya alam ini yang bisa tenggelam dan padam maka cahaya hati tidak akan pernah tenggelam. Cahaya hati akan terus kekal sampai hari kiamat nanti. Cahaya iman, cahaya ilmu, cahaya wudhu, cahaya dzikir dan cahaya-cahaya amal saleh yang lain akan terus ada bersama orang tersebut dan akan menuntunnya ke surga, karena memang berasal dari cahaya sifat Allah yang kekal.

Dalam hadits disebutkan bahwa umat Nabi Muhammad ini akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan muka bersinar, tangan, dan kaki penuh cahaya bekas wudhu.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ

Sesungguhnya umatku pada hari kiamat datang dalam keadaan bercahaya muka, tangan dan kaki mereka dari bekas wudhu, maka siapa yang ingin memanjangkan cahayanya, maka lakukanlah.” (H.R. Muslim)

Maka cahaya-cahaya abadi yang tak pernah suram, padam dan tenggelam inilah yang harus kita inginkan dan selalu kita perhatikan. Cahaya-cahaya itu yang akan membawa kita ke surga. Sebaliknya, kita jangan menginginkan hal-hal yang fana dan rusak seperti cahaya-cahaya yang menerangi bumi ini. Itu semua dilakukan agar kita tergolong orang yang mengikuti jejak langkah Nabi Ibrahim yang dianjurkan oleh Allah dalam firman-Nya:

أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang lurus.” (QS. An-Nahl: 123)

Ibrahim alaihissalam berkata:

لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

“Aku tidak suka sesuatu yang lenyap.” (Q.S. Al-An’am: 76)

Nabi Ibrahim alaihissalam tidak memperhatikan benda-benda yang fana. Tetapi yang ia ingini adalah sesuatu yang abadi. Kalau orang itu menyukai keabadian, maka ia termasuk orang yang punya keyakinan seperti Ibrahim alaihissalam atau disebut Ala Millati Ibrahim.

Diceritakan bahwa ada seseorang bertanya kepada Sahal bin Abdullah At-Tusturi tentang al-qut ( makanan).

مَالْقُوْتُ ؟ “(Apakah al-qut itu?)”tanya orang itu.

الْحَيُّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ ”(Yang Hidup Kekal Yang Tidak Mati),” jawab Sahal At-Tusturi.

“Yang saya maksud adalah al-qawam (makanan yang menegakkan badan),” sergah orang itu lagi.

الْقَوَامُ هُوَ الْعِلْمُ “(Makanan yang menegakkan badan adalah ilmu),” ujar Sahal At-Tusturi.

“Yang saya maksud al-ghidza’ (makanan sehari-sehari),” ucap orang itu lagi tidak puas dengan jawaban Sahal At-Tusturi.

الْغِدَاءُ هُوَ الذِّكْرُ ”(Makanan sehari-hari adalah dzikir),” jawab Sahal At-Tusturi.

“Yang saya tanyakan kepada anda adalah makanan badan,” ucap orang itu.

“Untuk apa engkau bertanya makanan badan. Biarkanlah Yang mengurusnya dahulu akan mengurusnya selanjutnya. Kalau barang itu rusak maka kembalikanlah kepada yang membuat. Bukankah barang buatan bila rusak dikembalikan kepada yang membuat, lalu diperbaiki,” nasehat Sahal at-Tusturi.

Maksud dari jawaban Sahal At-Tusturi itu ialah agar orang tersebut memperhatikan dan mementingkan hal-hal yang abadi. Yang penting dan harus selalu diperhatikan adalah makanan ruhani yang bisa menguatkan iman dan bersifat abadi yaitu cahaya-cahaya hati. Beda dengan makanan jasmani yang kemudian menjadi rusak dan lenyap. Sesehat apapun dan setinggi apapun gizinya pasti akan berakhir di kuburan dan dimakan cacing tanah.

Urusan makanan jasmani sudah diurus oleh Allah. Sebagaimana Allah mengurus badan sejak manusia masih dalam bentuk janin, maka Allah akan mengurusnya untuk selanjutnya. Allah yang membuat badan. Allah pula yang mengurusnya. Bila rusak maka Dia akan memperbaikinya. Maka bila tertimpa penyakit. kesusahan, kebutuhan atau apapun, kembalilah kepada yang membuat, yaitu Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *