Cahaya Adalah Pasukan Hati, Kegelapan Adalah Pasukan Nafsu

Cahaya Adalah Kendaraan Hati
Feb 1, 2019
Cahaya Adalah Penerang Hati, Mata Hati Menentukan, Hati Melaksanakan
Feb 10, 2019

النُّوْرُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ, فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ أَمَدَّهُ بِـجُنُوْدِ الْأَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلَمِ وَالْأَغْيَارِ

Cahaya adalah tentara hati sebagaimana kegelapan adalah tentara nafsu. Apabila Allah ingin memenangkan hamba-Nya, maka Allah membantunya dengan pasukan-pasukan cahaya (untuk mengalahkan pasukan nafsu ) dan memutus bantuan kegelapan dan kebatilan.

HATI memiliki pasukan berupa cahaya kebenaran (tauhid dan keyakinan). Nafsu juga mempunyai pasukan berupa kegelapan kebatilan (syirik dan keraguan). Peperangan antara kedua pasukan ini terus berkelanjutan tidak pernah berhenti. Ada yang menang ada yang kalah. Yang menang dan yang kalah pun bisa silih berganti.

Jika Allah menghendaki hamba-Nya menjadi Ahli Taufiq, yang menang terhadap kebatilan, maka hatinya diberi bantuan pasukan-pasukan cahaya untuk mengalahkan pasukan nafsu. Bantuan pasukan kegelapan diputus oleh Allah. Maka bergantilah kegelapan dengan penerangan cahaya, dan kebatilan lenyap diganti dengan kebenaran. Allah berfirman:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah, “kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isro’: 81)

Seseorang yang diberi taufiq oleh Allah tidak akan kalah dengan pasukan nafsu. Ia adalah orang yang mendapat hidayah dari Allah yang tidak bisa disesatkan oleh apapun. Ini sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam Firman-Nya:

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ  وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ

“Siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya.” (QS. Az-Zumar: 36-37)

Taufiq adalah Allah menakdirkan seorang hamba-Nya untuk taat kepada Allah. Taufiq sangatlah mahal harganya. Dalam Al-Quran kata taufiq hanya disebut satu kali saja. Tidak semua hamba mendapatkan taufiq. Hanya segelintir orang yang diberi taufiq oleh Allah. Taufiq adalah murni pemberian Allah kepada hamba-hamba-Nya yang khusus. Tindakan dan perkataan orang yang diberi taufiq akan selalu tepat sesuai dengan kebenaran.

Salah satu contoh orang yang diberi taufiq adalah Umar bin Khaththab. Pembicaraannya cocok dengan kebenaran. Imam Suyuthi menyebutkan sekitar delapan belas pembicaraan Umar yang sesuai dengan Al-Qur’an.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الأُمَمِ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُنْ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ

“Dari umat-umat terdahulu ada orang-orang yang diberi ilham. Kalau ada dari umatku seseorang, maka orang itu adalah Umar.” (HR. Bukhari-Muslim)

Contoh lain orang yang diberi taufiq adalah Abul Hasan As-Syadzili. Nabi sering memanggilnya Ya Muwaffaq (wahai orang yang diberi tauiiq) atau Ya Mubarok (wahai orang yang penuh barakah). Kalau ada masalah maka ia dapat jawaban dan bimbingan dari Rasulullah. Karena hatinya bertakwa, maka ia diajar oleh Allah. Pada suatu ketika Imam Syadzili merasa musykil dengan hadis Nabi yang berbunyi ;

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي فَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً وفي رواية مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya hatiku ‘terselubung’ maka aku memohon kepada Allah sehari tujuh puluh kali -dalam riwayat lain- seratus kali.”

Apa yang dimaksud dengan ‘ghain’ atau terselubung dalam hadis tersebut. Maka Abul Hasan As-Syadzili bermimpi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berbicara kepadanya:

يَا مُبَارَكُ ذَاكَ غَيْنُ أَنْوَارٍ لَا غَيْنُ أَغْيَارٍ

“Wahai orang yang penuh barakah. Itu adalah selubung cahaya bukan selubung (dosa) selain Allah.”

Begitu pula sebaliknya. Apabila Allah hendak menjadikan hamba-Nya sebagai Ahlil Khidzlan (orang yang dihinakan dan ditelantarkan oleh Allah), maka pasukan nafsu yang berupa kegelapan yang memenangkan pertempuran itu. Karena memang di dalam hati itu tidak memiliki cahaya atau cahayanya terlalu kecil sehingga tidak mampu mengalahkan kegelapan itu.

Orang yang dihinakan oleh Allah yang hatinya penuh kegelapan akan salah dalam setiap langkahnya, perbuatannya dan perkataannya. Walaupun ia memiliki ilmu tetapi ilmunya menjadi Fitnah dan menyesatkan manusia sebab yang ia punya hanya ilmu, bukan cahaya ilmu. Bisa jadi, dalam satu ucapannya ia bersalah tujuh puluh kali.

Jadi, orang yang menang terhadap nafsu berarti ditolong oleh Allah. Yang kalah berarti dihinakan oleh Allah. Oleh sebab itu, mintalah bantuan kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya agar diberi kemenangan dalam pertarungan melawan nafsu.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *