Bila Orang Memujimu, Celakalah Dirimu

Tetapnya Alam Dan Lenyapnya
May 31, 2020
Orang Mukmin, Malu Ketika Dipuji
Jun 5, 2020

النَّاسُ يَمْدَحُوْنَكَ بِمَا يَظُنُّوْنَ فِيْكَ, فَكُنْ اَنْتَ ذَامًّا لِنَفْسِكَ بِمَا تَعْلَمُهُ مِنْهَا

Orang-orang memuji engkau karena mereka menyangka apa yang ada pada dirimu. Karena itu engkau harus mencela dirimu karena apa yang engkau ketahui ada pada dirimu.

 

SEORANG mukmin yang dipuji jangan sampai ia tertipu dengan pujian orang lain yang tidak mengetahui hakikat dirinya. Sebab pujian yang tidak sesuai dengan hakikat dirinya dan tidak pantas untuknya, itu akan membahayakan dirinya, sehingga mengakibatkan ia menjadi sombong.

Agar terhindar dari bahaya pujian, doa ini sangat dianjurkan dibaca ketika mendengar pujian seseorang:

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَلَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ وَاغْفِرْلِيْ مَا لَا يَعْلَمُوْنَ

“Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka Sangka. Janganlah Engkau menyiksaku dengan sebab apa yang mereka katakan. Ampunilah aku karena sesuatu yang tidak mereka ketahui.”

Seorang yang sholeh mengatakan dalam doanya:

يَظُنُّ النَّاسُ بِيْ خَيْرًا وَإِنِّيْ     لَشَرُّ النَّاسِ اِنْ لَمْ تَعْفُ عَنِّيْ

“Mereka mengira bahwa aku adalah orang baik, padahal sebenarnya aku adalah orang yang paling jelek, jika Engkau (Allah) tidak memaafkanku.”

Dalam hadits dikatakan:

اُحْثُوا التُّرَابَ فِى قُلُوْبِ الْمَدَّاحِيْنَ

“Taburkanlah tanah ke wajah orang-orang yang suka memuji.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarkan agar supaya seseorang jangan sampai merasa senang dengan pujian orang lain kepadanya. Sehingga pujian itu membuat ia jatuh di hadapan Allah. Pujian tersebut adalah pujian yang batil yang tidak ada dalam dirinya.

Sebagian ahli tasawwuf mengatakan: “Siapa yang merasa senang dengan pujian orang lain terhadap dirinya, maka ia telah memberi kesempatan kepada setan untuk masuk ke dalam dirinya (merusak imannya dan pikirannya).”

Sebagian ahli tasawwuf mengatakan: “Jika dikatakan kepadamu, ‘Engkau adalah sebaik-baik orang,’ sedangkan perkataan itu lebih engkau senangi daripada engkau dikatakan, ‘Seburuk-buruk orang adalah engkau,’ maka demi Allah engkau adalah sejelek-jelek orang.”

Pernah ada seorang yang mengatakan kepada seorang sahabat Nabi: “Manusia semua ini selalu berada dalam kebaikan selama engkau bersama mereka.” Mendengar ucapan itu sahabat itu marah kemudian ia mengatakan kepada orang itu: “Mungkin engkau berasal dari Iraq.”

Begitulah hamba-hamba Allah yang shaleh, mereka tidak senang untuk dipuji. Mereka lebih senang ketika mereka dihina dan dicela.

Jika engkau dipuji orang lain sedangkan sifat yang dipuji itu tidak ada dalam dirimu, maka ketahuilah bahwa pujian itu adalah suara panggilan dari Allah yang mengajak engkau agar engkau meningkatkan amal ibadah. Jika engkau dikatakan pemurah, maka engkau harus berbuat murah. Jika engkau dikatakan orang yang shaleh, maka engkau harus melakukan perbuatan orang yang shaleh. Sebab kebaikan itu masih banyak di hadapanmu. Jangan engkau merasa senang dengan pujian itu dan merasa puas dengan apa yang ada pada dirimu. Engkau belum sampai sebab perjalananmu masih jauh.

Seorang mukmin yang sempurna bilamana ia dipuji akan bertambah keimanannya dan bertambah baik sifat-sifatnya. Sebagaimana dalam hadits dikatakan:

اِذَا مُدِحَ الْمُؤْمِنُ فِى وَجْهِهِ رَبَا الْإِيْمَانُ فِى قَلْبِهِ

“Orang mukmin (yang sejati) apabila ia dipuji, maka akan bertambah keimanan di dalam hatinya.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan: “Mereka tidak senang terhadap pujian makhluk karena mereka khawatir mereka akan merasa senang dengan pujian makhluk, padahal mereka dimurkai oleh Khaliq (Allah Maha Pencipta). Hati mereka yang sibuk memikirkan keadaan mereka di sisi Allah (dengan muhasabah dan muraqabah) membuat mereka benci terhadap pujian makhluk.

Sebab, orang yang terpuji adalah orang yang dekat dengan Allah, sedangkan orang yang tercela adalah orang yang jauh dari sisi Allah yang akan dilempar ke api neraka bersama orang-orang yang jelek.

Maka orang yang dipuji ini, jika di sisi Allah ia tercatat sebagai Penghuni neraka, maka betapa bodohnya dirinya bila ia merasa Senang dengan pujian orang lain kepadanya. Dan jika ia tergolong Penghuni surga, maka tidak sepantasnya ia merasa senang, melainkan ia hanya merasa gembira dengan karunia dan pujian Allah kepadanya. Karena, seluruh urusannya bukan berada di tangan makhluk.

Bilamana ia telah mengetahui bahwa segala rezeki dan ajal itu di tangan Allah, maka ia akan sedikit menoleh kepada pujian dan celaan makhluk. Akan hilanglah darinya rasa senang terhadap pujian. Malah ia akan sibuk dengan hal-hal yang penting dari urusan agamanya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *