Bermacam Amal Karena Beda Cahaya

Kalau Terbuka Jalan Mengenal Allah, Maka Jangan Peduli dengan Amal Sedikit
Aug 26, 2018
Amal Adalah Kerangka, Jiwanya Adalah Keikhlasan
Aug 30, 2018

تَنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ الْأَعْمَالِ لِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ

Beraneka warnanya jenis amal perbuatan karena bermacam pula warid (cahaya) yang datang ke dalam hati.

ORANG yang bersuluk untuk mendapatkan makrifat tentu ia rajin melakukan ibadah. Pasti ia benar-benar bermujahadah, berjuang terus sehingga mendapatkan apa yang diinginkannya berupa makrifat kepada Allah. Setiap orang punya pilihan ibadah sendiri. Ada yang membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalat, puasa sunnah, beristighfar, berbakti kepada orang tua, mencari ilmu atau amal ibadah yang lain. Allah membikin ibadah bermacam-macam agar manusia tidak jemu dengan salah satu macam ibadah.

Kalau ibadah itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan istiqamah, maka akan turun cahaya dari Allah ke dalam hati orang itu. Namanya warid atau hal. Warid yang turun itu bermacam-macam. Ada warid yang mendatangkan rasa takut kepada Allah. Ada yang mendatangkan kesenangan kepada Allah di dalam hati. Ada yang menimbulkan kesedihan. Ada yang menimbulkan kelapangan. Dan masih banyak jenis warid yang lain.

Habib Abdullah Al-Haddad dalam kitab Risalah Al-Mu’awanah menyebutkan:

وَقَالَ بَعْضُ الْعَارِفِيْنَ: اَلْوَارِدَاتُ مِنْ حَيْثُ الْأَوْرَادُ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وِرْدٌ فِيْ ظَاهِرِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَارِدٌ فِيْ سَرَائِرِهِ

Sebagian ‘arifin berkata : “Datangnya waridat itu dari wirid (amal ibadah yang dilazimi). Siapa yang tidak punya wirid di dhahir pasti dia tidak punya (warid) cahaya di batinnya.”

Ada sebagian shalihin yang waridnya berupa rahmat, kebaikan, pengampunan, terpancar di hatinya sebagian Asmaullah AI-Husna. Maka ia memberitahu manusia tentang begitu banyaknya karunia-Nya, begitu luasnya ampunan dan rahmat-Nya. “

Ada sebagian Shalihin yang waridnya bersifat keperkasaan diambil dari sifat Allah AI-Qahhar. Maka timbul reaksi dari Orang itu yang berupa ketegasan, terang-terangan ber-nahi munkar tidak takut dengan apapun, mengancam orang-orang dhalim dan pelaku maksiat dengan azab Allah.

Karena waridatnya bermacam-macam maka jenis amal yang dikehendaki oleh waridat juga bermacam-macam. Amal dhahir itu timbul dari batin seperti yang dikatakan oleh Ibnu Athaillah dalam kata hikmah yang lain;

حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ

“Baiknya amal perbuatan adalah hasil dari baiknya hal batin.

Warid itu datangnya dari Allah yang memaksa dan tidak bisa ditolak. Ada yang datang sebentar dan ada yang bertahan lama.

Abu Dzar adalah salah seorang sahabat Nabi yang halnya tidak sama dengan sahabat lain. Waridnya tidak sama dengan sahabat lain. Halnya sangat zuhud terhadap dunia. Ia sangat keras terhadap orang-orang kaya. Ia tidak cocok dengan kehidupan saat itu sehingga ia diasingkan di Rabdzah. Waridatnya tidak sama dengan warid yang turun kepada Utsman bin Affan, Umar bin Khattab dan sahabat lain. Tetapi masing-masing sahabat adalah orang baik. Mereka sama-sama mencontoh Nabi dan bisa dicontoh oleh generasi berikutnya.

Ada orang saleh yang halnya membuatnya tidak tidur bermalam-malam. Tetapi badannya tidak terganggu. Ini seperti yang terjadi pada Dawud Atthai. “Keinginanku kepada-Mu melupakan keinginginanku terhadap dunia dan menghalangiku untuk tidur,” katanya.

Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf, disebutkan dalam Kitab Al-Masyra’ Ar-Rawi, bahwa ia tidak tidur siang malam selama tiga puluh tahun. “Bagaimana bisa tidur seseorang yang bila berbaring di badannya yang sebelah kanan ia melihat surga, dan bila berbaring di badannya yang sebelah kiri ia melihat neraka,” kata beliau ketika ditanya tentang hal itu.

Ada yang kedatangan warid seperti Fudhail bin Iyadh. Di saat ia berada di Arafah ketika haji, disaat orang lain sibuk dengan berdoa, dia tertunduk diam tidak berkata-kata sepatah katapun. Ia kedatangan warid khauf (rasa takut), haya (rasa malu) kepada Allah. Ia merasa banyak berdosa dan lupa dengan segala kebaikannya. Sampai selesai berada di Arafah ia mengangkat kepala ke arah langit. Ia berkata, “Alangkah jeleknya aku terhadap-Mu, Demi Allah, walaupun Engkau mengampuni aku.” Ia ucapkan itu tiga kali.

Adalagi yang langsung berbuka ketika berpuasa karena warid yang menimpanya. Makruf Al-Karkhi mendengar seseorang penuang minuman berkata, “Mudah-mudahan Allah merahmati orang yang minum dari airku.” Makruf Al-Karkhi langsung maju dan minum air itu.

“Tidakkah engkau sedang berpuasa?”

“Ya. Tetapi aku mengharap doa orang itu,” jawab Al-Karkhi.

Ada juga dari para shalihin yang beristighfar selama tiga puluh tahun atas sesuatu yang pada dhahirnya merupakan ibadah dan ketaatan. As-Sariy As-Saqathi pernah berkata, “Sejak tiga puluh tahun aku beristigfar kepada Allah atas ucapan Alhamdulillah yang aku katakan satu kali.”

“Kenapa bisa begitu ?” tanya seseorang kepadanya.

“Ya. Pada suatu hari terjadi kebakaran di Bagdad. Ada seseorang yang memberitahu aku bahwa tokoku selamat. Aku ucapkan Alhamdulillah. Sampai sekarang aku menyesali ucapanku itu karena aku senang atas bencana yang terjadi kepada umat Islam,” jelas Sariy As-Saqati.

Habib Abu Bakar As-Sakran bin Abdurrahman Assegaf mewarisi kakeknya Ali bin Abi Thalib. Termasuk dari hal atau warid yang menimpanya adalah ketika musim dingin ia merasa kepanasan. Ketika musim panas ia merasa kedinginan.

Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr kalau datang halnya maka ia duduk terdiam di kamar walaupun banyak tamu yang menunggu. Tetapi orang-orang tahu obatnya. Datangkan seorang masyhayikh untuk menghampirinya. “Ayo keluar. Kalau tidak maka aku akan telanjang,” kata orang itu. Maka hilanglah hal yang menimpa Habib Hasan.

Namun yang perlu diperhatikan bahwa waridat atau hal yang menimpa para wali itu bukan pilihan mereka. Itu murni datang dari Allah yang tidak bisa ditolak dan bukan kehendak mereka.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *