Berkhidmah atau Dicintai

Walau tidak Keramat, Jangan Dihina
Mar 26, 2019
Anugerah Datang Secara Mendadak
Apr 19, 2019

قَوْمٌ أَقَامَهُمُ الْحَقُّ لِخِدْمَتِهِ, وَقَوْمٌ اخْتَصَّهُمْ بِمَحَبَّتِهِ, كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ, وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

Ada golongan yang dijadikan oleh Allah untuk berkhidmat kepadaNya. Ada golongan yang diistimewakan oleh Allah dengan kecintaan-Nya. Masing-masing golongan itu Kami (Allah) memberi mereka pemberian-pemberian. Dan itu adalah pemberian Tuhanmu dan pemberian Tuhanmu itu tidak terbatas.

 

ALLAH yang menciptakan. Allah pula yang memilih. Ada yang oleh Allah dipilih untuk berkhidmat dengan taat beribadah kepada-Nya. Mereka adalah golongan Abidun atau Zahidun seperti dalam keterangan sebelumnya. Ada pula golongan yang dipilih oleh Allah dan diistimewakan dengan kecintaan-Nya. Mereka lazim disebut dengan Al-Muhibbun atau Al-Muqarrabun atau Al-Arifun atau dalam istilah orang banyak disebut dengan Wali. Kedua golongan itu sama-sama mendapat pemberian-pemberian dari Allah dan pemberian Allah itu tidak terbatas.

Cara yang dipakai oleh golongan yang pertama untuk berkhidmat dan beribadah kepada-Nya sangatlah bermacam-macam. Di antaranya, ada yang berkelana untuk membersihkan diri dari kesombongan dan sifat buruk lainnya. Ia ingin tidak dikenal manusia. Ada yang bangun malam. Ada pula yang melakukan puasa di siang hari. Ada juga yang dipilih oleh Allah untuk menegakkan agama, yaitu para ulama yang menjaga syariat dan mendidik manusia. Ada yang mengangkat senjata berjihad fl sabilillah. Ada yang mencari ilmu, bershodaqoh dan masih banyak lagi cara yang lain.

Apapun amal ketaatan yang mereka tekuni tidak boleh diremehkan. Sebab mereka adalah pilihan Allah. Keanekaragaman bentuk khidmah yang mereka lakukan sama dengan keanekaragaman tugas para malaikat Allah. Ada yang bertugas menyampaikan wahyu, mencabut nyawa, membagi rezeki dan banyak tugas khusus lainnya. Masing-masing malaikat punya tugas tertentu dari Allah.

Namun ada golongan yang lebih tinggi derajatnya daripada golongan pertama ini. Yaitu mereka yang oleh Allah diistimewakan dengan kecintaan-Nya. Allah cinta dan sayang kepada mereka. Di hati mereka hanya ada Allah. Tak ada tempat bagi yang lain-Nya.

Golongan kedua yang juga disebut dengan Al-Arifun, Al-Muhibbun atau Al-Muqarrabun ini berbeda dengan golongan yang pertama, yaitu kelompok AI-Abidun, Az-Zahidun. Perbedaan itu terletak dalam beberapa hal di bawah ini.

Golongan pertama (Al-Abiduun, Az-Zahiduun) atau juga disebut Ahli Khidmah masih mengharap upah dalam melakukan ibadah mereka. Seperti mereka melakukan jihad karena mengharap mati syahid dan masuk surga. Sedangkan Ahli Mahabbah, kelompok yang kedua, telah tersingkap tabir bagi mereka.

Ahli Khidmah masih terhijab antara dirinya dan Allah, sedangkan Ahli Mahabbah tidak ada hijab antara dia dan Allah. Ia selalu melihat Allah. Ahli Khidmah masih membutuhkan dalil atau bukti-bukti tentang keberadaan Allah dan kebenaran agama, sedangkan Ahli Mahabbah tidak perlu bukti karena ia menyaksikan sendiri hal tersebut. Cinta Ahli Khidmah masih terbagi. Tetapi cinta Ahli Mahabbah bulat, hanya satu kepada Allah semata.

Ahli Khidmah masih mempunyai banyak kepentingan di dunia ini, tetapi Ahli Mahabbah tidak memiliki kepentingan dengan dunia ini, namun segala kebutuhannya dituangkan kepada-Nya. Semuanya diurus oleh Allah. Ia dilayani oleh makhluk, baik manusia, malaikat dan jin. Seperti yang terjadi kepada Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf (Jeddah) yang berkata di depan umum apa yang pernah dikatakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu.

نَـحْنُ خُلِقْنَا للهِ وَالنَّاسُ خُلِقُوْا لَنَا

“kami diciptakan untuk Allah dan manusia diciptakan untuk kami”

Perkataan ini hanyalah bisa diucapkan oleh orang yang berkedudukan tinggi, yaitu seorang wali qutub.

Yahya bin Mu’adz berkata: “Az-Zahid adalah buruan Allah dari dunia. Al-Arif adalah buruan Allah dari surga.” Maksudnya, Allah memburu orang yang zuhud, yang taat beribadah dan menangkapnya di dunia, lalu Allah memasukkannya ke dalam surga. Sedangkan orang Arif, Allah menangkapnya di surga dan memasukkannya ke hadirat-Nya.

Al-Hafidh Abu Nu’aim di dalam kitabnya “Hilyatul Auliya” menukil perkataan Sahl bin Abdullah yang berbunyi: “Allah melihat kepada penduduk sebuah negeri. Allah ingin membagi-bagi pemberian (kewalian). Ternyata di hati para ahli ibadah dan zuhhad (orang yang zuhud) tidak ada tempat untuk menerima pemberian itu. Maka Allah menyibukkan mereka dengan beribadah.”

Abul Abbas Ad-Dainuri berkata: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang tidak cocok menerima makrifat-Nya. Maka Allah menyibukkan mereka untuk berkhidmah kepada-Nya. Allah juga mempunyai hamba-hamba yang tidak pantas berkhidmah kepada-Nya. Maka Allah memberi mereka keahlian untuk menerima kemakrifatan-Nya.”

Adalah sebuah hikmah (kebijaksanaan) dari Allah menjadikan manusia pilihannya menjadi dua golongan tersebut. Agar kehidupan di dunia ini tetap berjalan, maka Allah tidak membuat semua orang menjadi Ahli Mahabbah. Tentu, Ahli Mahabbah jumlahnya sangat sedikit dibanding Ahli Khidmah. Allah hanya memilih beberapa orang saja yang punya keahlian menjadi Ahli Mahabbah.

Kedua kelompok itu wajib kita cintai dan kita hormati. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita dari orang-orang yang diberi kedua keistimewaan itu. Dijadikan orang yang taat beribadah kepada Allah dan orang yang dicintai oleh-Nya. Mudah-mudahan tidak dijadikan golongan yang ketiga, yaitu orang yang menyimpang dari jalan yang lurus. Amien.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *