Berdoa Atau Tidak Berdoa, Tetapi Tetap Sopan

Jangan Berhenti, Perjalanan Masih Jauh
Sep 17, 2018
Di Setiap Tarikan Nafas Ada Takdir Tuhan
Sep 21, 2018

 طَلَبُكَ مِنْهُ اِتِّهَامٌ لَهُ وَطَلَبُكَ لَهُ غَيْبَةٌ مِنْكَ عَنْهُ وَطَلَبُكَ لِغَيْرِهِ لِقِلَّةِ حَيَائِكَ مِنْهُ وَطَلَبُكَ مِنْ غَيْرِهِ لِوُجُوْدِ بُعْدِكَ عَنْهُ

Permintaanmu kepada Allah mengandung pengertian menuduh kepada Allah, permintaanmu untuk mendekatkan diri kepada-Nya berarti engkau jauh darinya, permintaanmu akan kedudukan dunia akhirat membuktikan tiada malunya engkau kepada Allah, dan permintaanmu kepada selain Allah menunjukkan jauhnya engkau dari Allah.

ADA empat permintaan yang disebutkan oleh Ibnu Athaillah. Semua permintaan tersebut kurang tepat atau kurang sopan kepada Allah.

Pertama, meminta kepada Allah mengandung pengertian menuduh Allah. Sebab seseorang yang meminta kepada Allah berarti kuatir Allah tidak memberinya. Allah harus diminta dulu, baru diberi. Ini mengandung tuduhan bahwa Allah tidak memberi. Kalau ia percaya penuh kepada Allah bahwa Allah akan memberi, maka ia tidak meminta.

Ini perasaan para wali. Mereka punya perasaan yang sangat halus. Kalau meminta kepada Allah mereka punya perasaan seakan-akan menuduh Allah dan tidak bersangka baik kepada-Nya.

Kedua, meminta kepada Allah untuk mendekatkan diri kepada-Nya berarti engkau jauh dari-Nya. Kalau engkau merasa bahwa Allah dekat dan hadir bersamamu maka engkau tidak perlu meminta.

Ketiga, meminta kepada-Nya sesuatu keinginan duniawiyah atau ukhrawiyah berarti engkau tidak punya rasa malu kepada Allah. Kalau engkau punya rasa malu kepada Allah, maka niscaya engkau tidak merasa punya kepentingan selain mendekat kepada Allah.

Keempat, meminta kepada selain Allah berarti engkau jauh dari Allah. Sekiranya engkau dekat dengan Allah, maka niscaya engkau tidak minta kepada selain Allah.

Kesimpulannya, segala permintaan menurut Al-Muwahhidin (orang-orang yang kuat tauhidnya) yang sudah mengenal Allah adalah cacat dan tidak tepat, baik permintaan yang berhubungan dengan Allah atau makhluk, kecuali kalau permintaan itu menurut cara yang sopan, dengan niat ibadah, untuk mengikuti perintah Allah, melaksanakan sunnah Nabi, untuk menunjukkan kebutuhannya kepada Allah.

Jangan salah faham. Bukan berarti Ibnu Athaillah melarang berdoa. Melarang berdoa adalah melawan syari’ah. Tetapi jangan berdoa dengan cara yang tidak sopan. Berdoalah dengan penuh kesopanan kepada Allah.

Nabi Ibrahim pernah tidak berdoa kepada Allah di saat akan dibakar oleh Namrud. Di saat itu menurut perasaan Nabi Ibrahim berdoa merupakan ketidak sopanan kepada Allah. Sebab, di saat itu Ibrahim merasa sangat dekat dengan Allah dan tidak perlu berdoa. Namun di saat yang lain Ibrahim banyak berdoa kepada Allah. Di Al-Qur’an sangat banyak dimuat doa-doa Ibrahim. Di saat Nabi Ibrahim tidak berdoa ia merasa bahwa tidak sopan kalau berdoa. Tatkala Nabi Ibrahim berdoa maka ia berdoa sesuai dengan adab-adab berdoa bahkan doa-doa itu diajari langsung oleh Allah.

Para wali juga seperti Nabi Ibrahim. Mereka banyak berdoa. Akan tetapi ada waktu tertentu mereka mengutamakan tidak berdoa. Yaitu di saat Ishtighroq Kamil (memusatkan semua perhatian) kepada Allah. Maka di saat itu mereka merasa tidak sopan untuk berdoa. Malah yang muncul dari mereka kalam khabar bukan Insyaiyah. Mereka langsung menyampaikan berita dari atas bukan berdoa. Tetapi ingat, itu di saat-saat tertentu saja.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *