Pemberian Yang Merugikan
Sep 18, 2019
Kelezatan Beribadah Cukup Sebagai Balasan
Oct 2, 2019

جَلَّ رَبُّنَا أَنْ يُعَامِلَهُ الْعَبْدُ نَقْدًا فَيُجَازِيْهِ نَسِيْئَةً

Maha Agung Allah sehingga jika seorang hamba-Nya beramal baik dengan segera di dunia ini, Dia tidak membalasnya di kemudian hari (saja).

 

JIKA ada seseorang beramal kepada Allah dengan segera di dunia ini, maka tidak mungkin Allah hanya membalasnya nanti di akhirat saja. Tetapi Allah juga menyegerakan balasan itu di dunia di samping balasan di akhirat nanti. Tentu saja balasan yang disegerakan itu berupa sesuatu yang sesuai dengan negeri dunia ini.

Balasan yang sesuai dengan negeri dunia ini bisa berupa beberapa hal.

Pertama, ditolaknya sesuatu yang berbahaya dari orang yang beramal shaleh tersebut.

Rasulullah bersabda:

صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ

“Perbuatan kebaikan itu menjaga (pelakunya) dari kematian yang buruk.” (HR. Thabarani dari Ummi Salamah)

Rasulullah juga bersabda mengenai keutamaan amal haji:

حِجَجٌ تَتْرَى وَعُمَرٌ نَسَقًا تَدْفَعُ مِيتَةَ السُّوءِ وَعَيْلَةَ الْفَقْرِ

“Haji yang berkali-kali dan umrah yang berurut-urut menolak kematian buruk dan kemiskinan yang buruk.” (HR. Abdurrazaq)

Disebutkan pula bahwa shadaqah dan doa bisa menolak bencana.

Tertolaknya bencana itu bisa dengan dibatalkannya bencana tersebut, atau bencana itu tetap terjadi tetapi diringankan oleh Allah. Bisa pula dengan tetap terjadinya cobaan dan bencana tersebut, namun terjadi di alam ruh, yaitu di dalam mimpi orang tersebut bukan alam jasad. Ini seperti yang terjadi dalam kisah karamah Syekh Abdul Qadir AJ-Jailani[1].

 

Kedua, amal shaleh itu bisa mendatangkan kesenangan dan manfaat di dunia. Allah berfirman :

وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ

“Dan dialah yang mengurus orang-orang shaleh.” (QS. Al-A’raf: 196)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah menjadikan kepadanya jalan keluar (dari segala kesulitan) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia perhitungkan.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak ada takut atas mereka dan mereka tidak bersedih.” (QS. Yunus: 62)

Dalam ayat-ayat di atas menjelaskan sebagian kecil dari pahala amal yang dipercepat di dunia. Diurus oleh Allah segala urusannya, diberi jalan keluar dari segala kesulitan, mendapat rezeki yang tak terduga, tidak takut dan tidak sedih. Itu semuanya diberikan di dunia ini berkat amal shaleh yang dilakukan orangnya.

Ketiga, hatinya diberi cahaya dan terbuka hijab sehingga ia mengetahui rahasia-rahasia.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

“Wahai orang-orang yang beriman bila kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah memberi kalian furqan (cahaya yang membedakan hak dan batil).” (QS. Al-Anfal: 29)

Allah juga memberi ilmu kepada orang yang bertakwa sebagaimana dalam firman-Nya:

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“Bertakwalah kalian kepada Allah dan Allah akan memberi kalian ilmu.” (QS. Al-Baqarah : 282)

اللهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Allah adalah penolong orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran ke cahaya iman, dari kegelapan maksiat ke cahaya taat. dari kegelapan kelalaian ke cahaya kesadaran, dari kegelapan bendawi ke cahaya maknawi.

Itu semua sekelumit dari balasan Allah yang disegerakan dan sesuai di dunia ini. Masih banyak lagi balasan lainnya yang disediakan di akhirat karena dunia ini tidak pantas menjadi tempat balasan tersebut.

[1] Pada tahun 521 H seorang pedagang bernama Abul Mudhoffar Hasan bin Tamim Al-Bagdadi datang kepada Syeikh Hammad bin Muslim Addabbas.

“Tuanku, kafilah milikku dengan membawa dagangan seharga tujuh ratus dinar sudah disiapkan untuk berangkat ke Syam,” ucapnya kepada Syeikh Addabbas.

“Jika engkau pergi tahun ini, maka engkau akan terbunuh dan hartamu dirampas,” kata Syeikh Addabbas kepadanya.

Abul Mudhoffar keluar dari rumah Syeikh Addabbas dengan hati susah. Di tengah jalan ia bertemu Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani. Ketika itu Syeikh Abdul Qadir masih muda. Abul Mudhaffar menceritakan kepadanya apa yang diucapkan oleh Syeikh Addabbas.

“Pergilah, engkau berangkat selamat dan pulang bawa untung. Saya jamin hal tersebut,” kata Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani kepadanya.

Maka pergilah Abul Mudhoffar ke Syam. Ia berhasil menjual barang dagangannya dengan harga seribu dinar. Pada suatu hari ia masuk ke tempat pemandian di Aleppo untuk melaksanakan hajat manusia (buang air). Uang seribu dinar itu ia letakkan di sebuah rak di tempat pemandian tersebut. Ia keluar dan kembali ke penginapannya. Ia lupa meninggalkan seribu dinar itu di tempat pemandian.

Di penginapannya itu ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi, kafilahnya dihadang oleh para perampok. Mereka merampas harta benda kafilah itu dan membunuh orang-orangnya. Salah satu dari perampok itu mendatangi Abul Mudhoffar dan menyabetnya dengan tombak. Ia terbunuh.

Abul Mudhoffar terbangun dari tidurnya ketakutan. la temukan ada bekas darah di lehernya. Sakitnya masih terasa. la ingat seribu dinar yang tertinggal di tempat pemandian itu. Cepat-cepat ia berlari ke pemandian itu. Ternyata uangnya masih utuh dan selamat.

Lalu ia pulang ke Bagdad. Sesampainya di Bagdad ia bertanya-tanya dalam hati. apa aku menemui Syeikh Hammad Addabbas dulu yang memang lebih tua ataukah Syeikh Abdul Qadir yang kata-katanya menjadi kenyataan. Di tengah-tengah kebingungan hatinya ia bertemu Syeikh Hammad di pasar Sultan.

“Abul Mudhaffar, mulailah dengan Abdul Qadir karena dia orang yang tercinta. Ia telah memohon kepada Allah untukmu tujuh belas kali sehingga apa yang ditakdirkan Allah mengenai terbunuhnya dirimu dijadikan di alam tidurmu bukan di alam jaga. Dan dari kefakiran yang nyata menjadi kefakiran di waktu lupa.” kata Syeikh Hammad Addabbas menjawab kebingungan dirinya.

Abul Mudhoffar pergi menemui Syeikh Abdul Qadir.

“Syeikh Hammad berkata padamu bahwa aku telah memohon kepada Allah untukmu tujuh belas kali. Demi keagungan Allah Tuhan yang disembah, sungguh aku telah memohon kepada Allah untuk dirimu tujuh belas kali sampai sempurna tujuh puluh kali sehingga terjadilah apa yang ia katakan,” ucap Syeikh Abdul Qadir lebih dulu tanpa diberitahu Abul Mudhoffar. (Allujain Addani)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *