Belum Betul-Betul Istiqamah, Sudah Keramat

Terus Mengajar, Walau Berbuat Salah
Nov 4, 2020
Cahaya Mendahului Kata-Kata
Nov 9, 2020

رُبَّمَا رُزِقَ الْكَرَامَةَ مَنْ لَمْ تَكْمُلْ لَهُ الْاستقامة

Adakalanya diberi rezeki karamah seseorang yang belum sempurna istiqamahnya.

 

KARAMAH ada dua macam: Karamah Hissiyah dan Karamah Maknawiyah.

Karamah Hissiyah adalah timbulnya sesuatu yang luar biasa seperti bisa berjalan di atas air, terbang di udara, melipat bumi, memancarkan air, mendatangkan makanan, mengetahui hal-hal gaib dan lainnya dari hal-hal yang menyalahi kebiasaan hissi (bendawi).

Karamah Maknawiyah adalah beristiqamah (berjalan lurus tanpa menoleh kanan-kiri) dan menggapai kesempurnaan istiqamah. Sedangkan kesempurnaan istiqamah dicapai bila seorang hamba dengan sungguh-sungguh beriman kepada Allah dan mengikuti apa yag diajarkan Rasulullah secara dhahir dan batin, sehingga tersingkap hijab dari hatinya dan ia mengenal Tuhannya, selalu melawan nafsunya serta hatinya merasa tentram dengan Allah.

Dari dua macam karamah ini, karamah yang sebenarnya adalah karamah maknawiyah yang berupa istiqamah. Adapun karamah hissiyah, semisal melipat bumi atau bisa berjalan di atas air, tidak ada artinya sama sekali bagi orang yang sungguh-sungguh mengerti (al-muhaqqiqin). Sebab, sesuatu yang luar biasa seperti itu bisa timbul dari orang yang belum sempurna istiqamahnya, seperti para murid yang baru bersuluk kepada Allah. Bahkan, keanehan-keanehan itu bisa muncul dari orang yang tidak punya istiqamah sama sekali, seperti tukang sihir dan para dukun, namun bukan sebagai karamah akan tetapi sebagai istidraj (penangguhan hukuman) dari Allah.

Karamah hissiyah bisa timbul dari orang yang belum sempurna istiqamahnya. Tidak semua orang yang memiliki karamah hissiyah telah benar-benar bersih dari bagian hawa nafsunya, kebiasaan buruk dan syahwatnya, sebagaimana telah disebutkan dalam kata hikmah Ibnu Athaillah sebelumnya yang berbunyi:

لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيْصُهُ كَمُلَ تَخْلِيْصُهُ

“Bukan semua orang yang tampak terang keistimewaannya telah sempurna pembersihannya.”

Hikmah munculnya karamah dari orang yang belum sempurna istiqamahnya itu ada tiga:

Pertama, untuk membangkitkan semangat orang tersebut dalam beramal ibadah setelah terjadinya kelesuan atau kemalasan.

Kedua, sebagai cobaan dari Allah kepada orang tersebut.

Apakah ia tertarik dan berhenti bersama karamah itu, maka ia terhijab. Sebab karamah bisa menjadi hijab, seperti yang dikatakan oleh Imam Junaid: “’Orang-orang khusus itu terhijab hatinya dengan melihat kenikmatan, merasakan pemberian dan merasa tentram dengan karamah.”

Atau ia terus maju tidak mempedulikan karamah itu, maka ia semakin mendekat.

Ketiga, untuk menambah keyakinan dirinya atau keyakinan orang lain agar orang lain itu mengambil manfaat darinya. Maka bagaimanapun, munculnya karamah itu memang bertujuan untuk menyempurnakan orang yang belum sempurna itu.

 

Nilai Istiqamahnya

Abul Abbas Al-Mursi berkata: “Bukanlah kebesaran itu bagi orang yang terlipat baginya dunia ini sehingga ia sampai ke Mekkah atau tempat lain dalam sekejap mata. Tetapi kebesaran itu ialah orang yang dilipatkan baginya hawa nafsunya sehingga ia langsung berada di sisi Tuhannya.”

Artinya, bukan sebuah keistimewaan atau hal yang luar biasa kalau orang bisa melipat bumi sehingga bisa sampai ke Mekkah dalam sekejap mata. Tetapi keistimewaan yang sebenarnya adalah orang yang bisa mengalahkan nafsunya sehingga tidak ada hijab antara dirinya dengan Allah.

Di hadapan Sahal Bin Abdullah, ada orang yang menyebut karamah. Sahal bin Abdullah berkata, “Apa tanda kebesaran itu? Apa karamah itu? Karamah itu hanya sesuatu yang terjadi, kemudian habis di waktunya. Tetapi karamah yang paling besar ialah jika engkau bisa merubah akhlak yang tercela menjadi akhlak yang terpuji.”

Sebagian Masyayikh berkata: “Janganlah engkau merasa kagum dengan orang yang tidak meletakkan sesuatu dalam kantongnya, kemudian ia memasukkan tangannya ke kantongnya dan keluarlah apa yang ia inginkan. Tapi kagumlah dengan orang yang memasukkan sesuatu ke dalam kantongnya, kemudian ia masukkan tangannya ke kantong itu dan ia tidak menemukan apa-apa, tetapi ia tidak berubah (tetap istiqamah).

Diceritakan kepada Abu Muhamad Al-Murtaisy bahwa ada seseorang bisa berjalan di atas air. Abu Muhammad Al-Murtaisy berkata: “Bagiku, orang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa mengalahkan nafsunya itu lebih besar daripada berjalan di atas air atau di udara.”

Abu Yazid Al-Busthami berkata: “Seandainya ada seseorang memasang sajadahnya di atas air atau bersila di udara, maka janganlah kalian tertipu dengan orang itu hingga kalian perhatikan dulu bagaimana orang itu terhadap perintah dan larangan Allah.”

Ada orang menuturkan kepada Abu Yazid Al-Busthami bahwa si Fulan berjalan sampai ke Mekkah semalam. “Syetan itu berjalan dari timur ke barat dalam sekejap, tetapi ia tetap dikutuk Allah,” ucap Abu Yazid kepada orang itu. Ada pula yang bercerita kepada Abu Yazid bahwa si Fulan bisa berjalan di atas air. “Ikan yang di air dan burung yang di udara lebih aneh.”

Perkataan para sufi di atas menyimpulkan bahwa dalam menilai seseorang janganlah melihat kepada kesaktian, atau kekeramatan yang ia timbulkan. Tetapi nilailah keistiqamahannya dalam melakukan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, mengikuti sunnah Nabi baik dhahir dan batin. Orang yang bisa beristiqamah adalah orang yang hebat dan patut dikagumi. Sebab, tidak semua orang bisa melakukan istiqamah.

 

Istiqamah Memang Berat

Imam Ghazali dalam Kitab Ihya menyatakan bahwa istiqamah itu berat dan sulit didapat. Oleh sebab itu, istiqamah itu wajib dimohon dalam shalat sehari sebanyak tujuh belas kali. Bukankah setiap orang shalat diwajibkan membaca surat Al-Fatihah yang di dalamnya terdapat permintaan istiqamah dalam ayat,

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus.”

Dari beratnya masalah istiqamah ini sehingga ketika Nabi Muhammad ditanya oleh para sahabat termasuk Abu Bakar, “Alangkah cepatnya engkau beruban. Apa yang membuatmu beruban, Ya Rasulallah?.” Nabi bersabda :

شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَاَخَوَاتُهَا

“Yang membikin aku beruban adalah surat Hud dan surat-surat semisalnya.” (HR. Thabarani)

Surat Hud membuat Nabi bemban sebab di dalam surat itu terdapat perintah istiqamah dalam ayat:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير

“Istiqamahlah kamu sebagaimana kamu diperintah, dan orang yang beriman bersamamu dan janganlah kalian melampaui batas, sesungguhnya Allah dengan apa yang kalian lakukan Maha melihat.” (QS. Hud : 112)

Nabi Muhammad sebagai manusia yang maksum tentu mampu melakukan istiqamah. Akan tetapi yang dikhawatirkan oleh Nabi adalah para umatnya, sehingga hal ini membikin rambut Nabi beruban.

Istiqamah di dunia merupakan tanda kelancaran dalam melintasi shirat di hari kiamat nanti. Bila perjalanan hidup seseorang di dunia selalu berada di jalan yang lurus tanpa berbelok sedikitpun, maka semakin cepat ia melintasi shirat yang terbentang di atas neraka jahanam itu. Tapi apabila ia berbelok-belok di dunia, maka semakin lama ia melintasinya sesuai dengan ketidak lurusan perjalanannya di dunia.

Oleh karena itu, perhatian para Sufi itu tertuju pada istiqamah bukan kekeramatan yang modelnya seperti sulapan itu. Kata mereka:

الْإِسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ كَرَامَةٍ

“Istiqamah itu lebih baik dari seribu karamah.”

Mereka berusaha dengan keras untuk mencapai istiqamah. Ada yang selalu salat berjamaah, tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram selama empat puluh tahun, seperti Said ibnu Al-Musayyib. Ada yang empat puluh tahun tidak pernah melaksanakan makruh seperti Ahmad bin Isa Al-Muhajir.

Memang pada awalnya beribadah dengan istiqamah terasa berat. Tapi, dengan memohon pertolongan Allah, istiqamah dalam beribadah itu bisa dicapai. Akhirnya, ibadah yang dijalankan dengan istiqamah itu tidak terasa berat lagi. Bahkan akan terasa nikmat dan lezat. Oleh sebab itu, mohonlah istiqamah kepada Allah karena bagi Allah memberi istiqamah itu tidak sulit. Semoga kita mendapatkannya. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *