Beda Jauh antara Murad dan Murid

Apa yang di Hati Tampak di Luar
Oct 4, 2018
Belanjakan Ilmu Semampumu
Oct 10, 2018

 شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ اَلْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ وَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُوْدِ أَصْلِهِ وَالْاِسْتِدْلَالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ . وَإِلَّا فَمَتَى غَابَ حَتَّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ ؟ وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُوْنَ الْآثَارِ هِيَ الَّتِيْ تُوْصِلُ إِلَيْهِ ؟

Jauh berbeda antara orang yang berdalil bahwa adanya Allah menunjukkan adanya alam dengan orang yang berdalil bahwa adanya alam menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil bahwa adanya Allah menunjukkan adanya alam itu mengenal Al-Haq (Allah) dengan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Orang yang berdalil bahwa adanya alam ini menunjukkan adanya Allah adalah karena orang itu belum sampai kepada Allah. Maka, bilakah Allah itu gaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahui-Nya dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepada-Nya.

 

MANUSIA lahir dari perut ibunya dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Allah berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian sedangkan kalian tidak tahu apa-apa, kemudian Allah memberi kalian pendengaran, penglihatan dan pikiran supaya kalian bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)

Allah memberi panca indra dan akal pikiran serta mata hati kepada manusia supaya ia bisa mengenal Allah. Kalau ia mengenal Allah, maka ia akan mencintai-Nya. Kalau ia cinta Allah, maka ia akan taat beribadah kepada-Nya.

Dalam ayat di atas disebutkan, supaya kalian bersyukur, sebab dengan bersyukur maka manusia akan sempurna dan hidupnya sejahtera. Tetapi itu semua setelah mengenal Allah.

Allah menjadikan manusia dalam dua golongan:

  • Muradin (Orang yang dikehendaki Allah) atau disebut dengan majzdubin.
  • Muridin (Orang yang menghendaki Allah) atau diberi nama salikin.

Berbeda jauh antara dua kelompok ini. Muradin adalah orang yang diberi cahaya oleh Allah sehingga ia bermakrifat dan mencintai Allah. Muridin adalah orang yang mencari cahaya untuk makrifat kepada Allah.

Muradin sampai kepada Allah dan langsung mengenal Allah tanpa lewat mengenal makhluk-Nya. Mereka beribadah tanpa susah payah karena sudah didahului oleh inayah yang khusus dan kecintaan Allah. Yuhibbuhum wa yuhibbunahu. Mereka diberi pemberian Allah yang besar tanpa berusaha. Mereka golongan majdzub mahbub, orang-orang yang ditarik oleh Allah tanpa ada perantara yang lain seperti guru atau masuk tarekat.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

جَذْبَةٌ مِنْ جَذَبَاتِ الْحَقِّ تُوَازِيْ عَمَلَ الثَّقَلَيْنِ

“Satu kali tarikan dari tarikan Allah menyamai amalnya jin dan manusia.”

Orang ini sampai ke derajat haqqul yakin (yakin yang sesungguhnya kepada Allah). Beda dengan ahli suluk yang masih di derajat ainul yaqin atau ilmul yaqin. Orang yang mencapai haqqul yaqin bagaimana akan bermaksiat kepada Allah. Andai ia bermaksiat, maka itu tidak membahayakan dirinya.

Muradin didahului oleh kecintaan Allah, lalu mereka tertarik untuk mencintai Allah. Ia akan melakukan hal-hal yang diridhoi oleh Allah. Begitu juga orang yang mencintai Rasulullah maka berarti ia didahului oleh kecintaan Rasulullah. Kalau Rasulullah cinta kepada seseorang maka orang itu tertarik cinta kepada Rasulullah, keluarga, istri dan sahabatnya. Contohnya Syekh Yusuf Nabhani, ia didahului kecintaan Rasul Allah. Yusuf Nabhani dicintai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sampai seluruh keluarganya, khadamnya bermimpi Rasulullah. Sampai-sampai kopyahnya diberi gambar sandal Rasulullah, dibayangkan seakan-akan kepalanya selalu diinjak oleh Rasulullah. Ia merasa beruntung karena bisa membawa gambar sandal Rasulullah. Yusuf Nabhani berkata:

سَعِدَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ بِخِدْمَةِ نَعْلِهِ  وَأَنَا السَّعِيْدُ بِخِدْمَتِيْ لِمِثَالِهَا

Ibnu Mas’ud beruntung dengan melayani sandal Rasulullah

Saya juga beruntung dengan melayani gambar sandalnya

Seseorang yang membenci keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam, istri Nabi, sahabat Nabi maka pasti ia tidak dicintai oleh Rasulullah. Sebab kalau dicintai Rasulullah maka pasti akan mencintai apa yang dicintai Rasulullah seperti keluarga, istri, sahabatnya.

Begitu juga murid yang taat, rajin, sopan, dan bersemangat berarti didahului oleh kecintaan gurunya. Seseorang yang dicintai gurunya maka ia akan berkembang dan dapat perhatian dari gurunya. Maka berusahalah agar kamu berada di hati gurumu. Orang yang berada di hati gurunya, maka ia mendapat bagian dari gurunya. Setiap kali Allah memandang hati gurunya, karena hati adalah pandangan Allah, dan di hati guru itu ada si murid, maka ia akan mendapat bagian dari apa yang didapat oleh gurunya. Gurunya yang bekerja untuknya, bukan dia bekerja untuk gurunya. Himmah-nya Syeikh diberikan kepada muridnya.

Sedangkan muridin adalah golongan ahli suluk. Orang-orang yang berusaha untuk mencapai makrifah dan meraih cahaya iman dengan mujahadah melawan nafsu dan mengamalkan Sunnah-Sunnah Nabi. Akhirnya, setelah lelah dan susah payah, ia mendapat makrifat Allah.

Allah berfirman mengisyaratkan kepada dua golongan ini:

اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Allah menarik kepada agama itu orang yang Ia kehendaki, dan memberi petunjuk (agama) kepada-Nya siapa yang kembali kepada-Nya.” (QS. As-Syura: 13)

Ada yang usaha atau tanpa usaha. Akan tetapi akhirnya sama-sama sampai kepada Allah dan makrifah kepada Allah. Kalau kita bukan termasuk muradin, maka mintalah kepada Allah dan bersuluklah.

وَاجْعَلْنِيْ مِمَّنْ تُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ

“Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang Engkau cintai dan mencintai-Mu.”

Ada seorang Sufi berdoa:

اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِمَّنْ سَلَكَ وَمَلَكَ اَوْ مَلَكَ ثُمَّ سَلَكَ

“Ya Allah jadikanlah aku orang yang bersuluk, kemudian memiliki (muridin salikin). Atau orang yang memiliki, kemudian bersuluk (muradin majdzubin).”

Doa Sufi ini pantas untuk dibaca. Semua terserah Allah, apakah dijadikan muridin atau muradin. Semoga kita termasuk dari orang-orang itu. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *