Bagaimana Bisa Sampai Kepada Allah ?

Terpaksa dan Rendah Diri Dapat Mempercepat Terkabulnya Doa
Apr 26, 2020
Kebaikan Tutup Dari Allah
May 4, 2020
  1. لَوْ أَنَّكَ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيْكَ وَمَحْوِ دَعَاوِيْكَ لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ أَبَدًا . وَلٰكِنْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوْصِلَكَ إِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ فَوَصْلُكَ إِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ إِلَيْكَ لَا بِمَا مِنْكَ إِلَيْهِ

Seandainya engkau tidak akan bisa sampai kepada Allah kecuali sesudah habisnya perbuatan-perbuatan jelekmu atau kotoran-kotoranmu, niscaya engkau tidak akan sampai kepada-Nya untuk selama-lamanya.
Akan tetapi jika Allah menghendaki untuk menyampaikan engkau kepada-Nya, maka Allah akan menutupi sifatmu dengan sifat-Nya, menutupi kekuranganmu dengan karunia dari-Nya. Sehingga engkau sampai kepada-Nya dengan apa yang Dia berikan kepadamu (karunia dari-Nya) bukan dengan apa yang engkau lakukan terhadap-Nya (dari perbuatan taat dan amal ibadahmu).

SEORANG hamba tidak akan bisa sampai kepada Allah kecuali setelah sifat-sifat nafsunya habis dan lintasan-lintasan hatinya yang selain Allah lenyap. Menghabiskan sifat-sifat nafsu dan melenyapkan lintasan-lintasan hati kepada selain Allah tidak akan bisa ia lakukan dan merupakan suatu hal yang sangat sulit, sebab sifat-sifat nafsu itu adalah tabiat manusia.
Oleh sebab itu, jika hanya dengan menghabiskan sifat-sifat nafsu dan melenyapkan lintasan-lintasan hati niscaya tidak akan ada manusia yang bisa sampai kepada Allah. Akan tetapi jika Allah menghendaki agar menyampaikan hamba itu kepada-Nya, maka Allah akan menutupi sifat hamba itu dengan sifat-Nya yang tinggi dan menutupi kekurangannya dengan karunia-Nya. Sehingga ia sampai kepada Allah bukan dengan mujahadatun nafs (melawan keinginan hawa nafsu) dan amal perbuatan yang ia lakukan,tetapi semata-mata dengan pemberian-pemberian karunia rahmat-Nya.
Sayyidi Abul Hasan asy-Syadzili (591-656 H / 1195-1258 M) mengatakan: “Tidak akan sampai seorang wali kepada Allah jika pada dirinya masih ada terdapat sifat syahwat, masih ada pilihan untuk dirinya. Seandainya hamba itu dibiarkan Allah dalam keadaan seperti itu, maka selamanya ia tidak akan bisa sampai kepada Allah. Akan tetapi jika Allah menghendaki untuk menyampaikannya, maka Allah akan menampakkan sifat-sifat-Nya yang tinggi pada diri hamba itu, sehingga sifat-sifat yang mengotori hamba itu akan lenyap dan sirna.”
Artinya seseorang yang diangkat menjadi kekasih Allah bukan hanya dengan melakukan mujahadatun nafs (melawan keinginan hawa nafsu) dan dengan amal ibadah yang ia lakukan, akan tetapi dengan semata-mata pemberian-pemberian karunia rahmat Allah. Sehingga sifat-sifat yang jelek dari hamba itu dengan sendirinya akan lenyap dan berubah menjadi sifat-sifat yang baik.
Kecintaan Allah kepada hamba-Nya datang bukan karena hamba itu melakukan ibadah, namun kecintaan itu datang dikarenakan Allah cinta kepada hamba-Nya itu. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. Al-Maidah: 54)
Oleh karena itu jika Allah sudah memberikan taufiq dan inayah-Nya kepada hamba itu, maka dengan mudah hamba itu akan dapat meninggalkan syahwatnya. Dengan mudah hamba itu akan beribadah kepada-Nya.

وَاِذَا حَلَّتِ الْعِنَايَةُ قَلْبًا نَشِطَتْ لِلْعِبَادَةِ الْأَعْضَاءُ

Apabila Inayah (pertolongan) Allah sudah masuk ke dalam hati seseorang,
maka anggota-anggota badannya akan bersemangat untuk melakukan ibadah.
Inilah tanda bahwa Allah telah mencintainya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi bahwa Allah berfirman :

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ المُؤْمِنِ، يَكْرَهُ المَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan (melakukan) sesuatu yang lebih Aku cintai daripada (melakukan) kewajiban yang telah Aku tetapkan kepadanya. Senantiasa hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melakukan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku-lah telinga yang ia gunakan untuk mendengar, Aku-lah mata yang ia gunakan untuk melihat, Akulah tangan yang ia gunakan untuk bekerja, Aku-lah kaki yang ia gunakan untuk melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku niscaya Aku akan memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan melindunginya. Tidak pernah Aku ragu-ragu dalam melakukan sesuatu sebagaimana Aku ragu-ragu dalam mencabut jiwa seorang mukmin yang takut kematian, sedangkan Aku tidak senang membuatnya susah.” (QS. Bukhari)
Seorang hamba sangat dianjurkan untuk selalu bersandar kepada kemurahan rahmat Allah bukan bersandar kepada amal ibadah yang ia lakukan. Selalu memanjatkan doa kepada Tuhannya agar selalu diberikan pertolongan untuk menjalankan ajaran agamanya dengan sempurna sehingga ia tergolong orang-orang yang dicintai Allah. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam mengatakan dalam wasiat beliau kepada Muadz radhiyallahu anhu :

يَا مُعَاذُ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: ((أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ))

“Wahai Muadz, demi Allah aku mencintaimu, demi Allah aku mencintaimu. Aku berwasiat kepada engkau wahai Muadz: Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai Shalat untuk membaca doa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah berilah aku pertolongan untuk bisa (selalu) mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

Hamba Allah yang diikat dengan inayah-Nya
Diceritakan bahwa ada seorang yang bernama Abu Mahzdurah keluar bersama sembilan orang penduduk kota Mekkah setelah penaklukan Mekkah menuju Hunain. Tatkala mereka mendengar suara adzan dikumandangkan, mereka menirukan suara adzan tersebut dengan niat mengejek terhadap orang-orang mukmin. Melihat hal itu Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada para sahabat: “Aku telah mendengar suara adzan salah seorang dari mereka itu yang suaranya merdu. Bawalah mereka semua kepadaku!”
Kemudian mereka dibawa ke hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian mereka menirukan adzan satu persatu. Adalah Abu Mahdzurah orang yang terakhir menirukan adzan di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Mahdzurah: “Kemarilah!” Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mendudukkannya di hadapan beliau seraya mengusap kepala Abu Mahdzurah dengan tangan beliau yang mulia dan mendoakannya tiga kali. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Mahdzurah: “Pergilah dan kumandangkanlah adzan di Masjidil Haram.” Abu Mahdzurah berkata: “Ya Rasulallah. Ajarilah aku adzan.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam mengajarinya adzan.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *