As-Saairun Dan Al-Waashilun, Tidak Melihat Amal Ibadah Dan Kedudukan Diri

Gembiralah dengan Taat Karena Dari Allah
Feb 14, 2019
Kerakusan Adalah Bibit Kehinaan
Mar 1, 2019

قَطَعَ السَّائِرِيْنَ لَهُ وَالْوَاصِلِيْنَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِـهِمْ وَشُهُوْدِ أَحْوَالِـهِمْ, أَمَّا السَّائِرُوْنَ فَلِأَنَّـهُمْ لَـمْ يَتَحَقَّقُوْا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيْهَا, وَأَمَّا الْوَاصِلُوْنَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُوْدِهِ عَنْهَا

Allah memutus (menghalangi) orang-orang yang sedang menempuh jalan kepada-Nya dan orang-orang yang sudah sampai kepada-Nya dari melihat amal mereka dan melihat kedudukan diri mereka.

 

AS-SAAIRUN (orang-orang yang sedang menempuh jalan Allah). Allah menghalangi mereka dari melihat amal ketaatan dikarenakan mereka belum sungguh-sungguh melaksanakan ibadah kepada Allah. Mereka belum ikhlas yang sebenar-benamya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah. Sesungguhnya kesungguhan itu adalah intisari keikhlasan.

Apabila mereka melakukan amal ibadah mereka masih ragu dan merasa amal ibadah yang mereka lakukan banyak kekurangan. Mereka merasa kurang khusyuk dan kurang ikhlas dan amal mereka masih kecampuran. Oleh karena itu mereka malu kepada Allah untuk bersandar dan menghitung-hitung amal yang mereka anggap jelek tersebut.

Ini semua adalah kasih sayang dari Allah kepada hamba-Nya. Dengan ini, Allah mendidik hamba-Nya itu agar ia ikhlas dan tidak mengandalkan amalnya. Dalam beribadah kita juga harus seperti ini. Selalu melihat kekurangan amal tersebut. Akhirnya kita tidak bangga dengan amal yang kita lakukan. Tetapi yang kita andalkan adalah rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Sedangkan Al-Waashilun (orang-orang yang sudah sampai kepada Allah), oleh Allah dihalangi dari melihat amal ketaatan dan kedudukan diri mereka disebabkan mereka sudah melihat Allah yang mereka sembah, maka mereka tidak bisa melihat yang lain dari amal ibadah maupun kedudukan diri mereka. Mereka sudah fana dari diri mereka. Segala gerak-gerik yang mereka lakukan adalah billah wa minallah wa ilallah (sebab, dari, dan kepada Allah). Apabila timbul amal ibadah dari mereka maka yang mereka lihat hanyalah Al-Wahid Al-Mannan (Allah Yang Maha Esa Yang Maha Memberi).

Ada sebuah hikayat yang menunjukkan adanya kedua maqam ini. Ketika Al-Washiti masuk ke kota Naisabur, ia bertanya kepada murid-murid Abu Utsman. “Apa yang diperintahkan oleh Syeikh kalian kepada kalian ?”

“Beliau menyuruh kami agar selalu melakukan amal ketaatan dan merasa banyak kekurangan dalam amal tersebut,” jawab murid-murid itu.”

“Guru kalian menyuruh kalian dengan ajaran majusi yang murni. Kenapa ia tidak menyuruh kalian untuk melupakan amal dan hanya melihat pada Yang menggerakan dan menimbulkan amal tersebut,” komentar Al-Washiti kepada mereka.

Ini bukan berarti Al-Washiti menghina murid-murid itu. Apa yang dilakukan murid-murid itu sudah baik. Namun Al-Washiti ingin para murid itu meningkat ke tingkatan yang lebih tinggi lagi. Yaitu dari tingkatan As-Saairun ke tingkatan Al-Waashilun. Al-Washiti memberi mereka semangat agar mereka bercita-cita meraih sesuatu yang lebih mulia dari apa yang sedang mereka alami. Wallahu a’lam.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *