Antara Makrifat, Fana Dan Mahabbah

Pedulikan Allah, Hilangkan Perhatian Manusia
Sep 5, 2020
Begitu Dekat, Hingga Tak Terlihat
Sep 9, 2020

مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ شَهِدَهُ فِى كُلِّ شَيْءٍ وَمَنْ فَنِيَ بِهِ غَابَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ وَمَنْ اَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَيْهِ شَيْئًا

Siapa yang benar-benar mengenal Allah pasti ia melihat Allah pada setiap sesuatu.

Barang siapa yang fana dengan Allah, maka ia lupa dari segala sesuatu.

Siapa yang mencintai Allah, maka ia tidak mengutamakan sesuatu selain Allah.

 

AL-ARIF BILLAH (orang yang betul-betul mengenal Allah), setiap kali matanya memandang suatu benda di alam ini maka ia ingat kepada Allah. Sebab, pada setiap benda ada tanda yang menunjukkan kepada keesaan dan kekuasaan Allah, Tuhan Pencipta segala benda.

Namun, sang Arif masih tetap ada bersama benda yang ia lihat. Hanya saja, ia selalu mengingat Allah ketika melihatnya. Berbeda dengan orang awam yang penglihatannya hanya tertuju kepada benda itu. Berbeda pula dengan orang yang fana dengan Allah.

Al-Fani Billah (orang yang fana dengan Allah) maka ia lupa dari segala sesuatu. Ia tidak melihat sesuatu apapun. Dirinya pun hilang. Semuanya sirna. Di matanya, yang ada hanyalah Allah.

Terkadang, keluar dari orang-orang yang fana dengan Allah perkataan-perkataan yang sulit dipahami oleh kebanyakan orang. Al-Hallaj adalah salah satu dari orang-orang tersebut. Misalnya, ia pernah berkata, “Subhani (maha suci Aku)” Ini disebabkan karena ia tidak melihat sesuatu selain Allah. Semuanya tidak ada, dirinya pun tidak ada, yang ada hanya Allah.

Orang yang benar-benar cinta kepada Allah tidak akan mengutamakan sesuatu selain Allah. Ia mengutamakan ketaatan kepada Allah daripada hawa nafsu dan kehendak dirinya. Ia akan selalu taat kepada Allah. Sebab, seorang pecinta itu akan taat kepada kekasih yang dicintainya.

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لَأَطَعْتَهُ       اِنَّ الْمُحِبَّ لِمَنْ يُحِبًّ مُطِيْعٌ

Andai cintamu benar, maka engkau akan taat kepada-Nya

Sebab orang yang cinta itu patuh kepada kekasih yang dicintainya

Bahkan, orang itu rela mengorbankan segalanya, nyawa sekalipun, demi keridhaan Allah yang ia cintai. Ini seperti yang dikatakan penyair:

قَالَتْ وَقَدْ سَأَلَتْ عَنْ حَالِ عَاشِقِهَا           بِاللهِ صِفْهُ وَلَا تَنْقُصْ وَلَا تَزِدِ

فَقُلْتُ لَوْ كَانَ رَهْنَ الْمَوْتِ مِنْ ظَمَإٍ           وَقُلْتُ قِفْ عَنْ وُرُوْدِ الْمَاءِ لَمْ يَرِدِ

Wanita itu bertanya tentang lelaki yang cinta padanya, “Demi Allah,jelaskan padaku tentang dia. Jangan kau kurangi atau kau tambahi.”

Aku menjawab, “Andai ia berada di ujung kematian karena kehausan dan kau memerintahkan padanya untuk tidak minum air, maka ia tidak akan meminumnya.”

Walhasil, maqam mahabbah lebih tinggi dari maqam fana. Maqam fana berada di atas maqam makrifat.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *