Angan-Angan Menjadikan Manusia Rakus

Kerakusan Adalah Bibit Kehinaan
Mar 1, 2019
Budak Dari Keinginan
Mar 11, 2019

مَا قَادَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الْوَهْمِ

Tidak ada sesuatu yang menuntun engkau ( untuk menjadi rakus) seperti wahm (angan-angan kosong).

 

WAHM adalah setiap angan-angan terhadap sesuatu selain Allah. Wahm merupakan bayangan dan harapan terhadap sesuatu yang tidak mugkin terjadi.

Artinya bila engkau menginginkan sesuatu yang ada pada makhluk, baik berupa manfaat, kerugian, pemberian atau penolakan, berarti engkau rakus kepada mereka dan menjadi terhina di hadapan mereka.

Namun bila engkau yakin kepada Allah dan mengetahui bahwa segala sesuatu itu berasal dari-Nya dan manusia tidak bisa memberi manfaat kepada dirinya sendiri apalagi kepada orang lain, maka engkau tidak akan bergantung kepada selain Allah.

Sebagian Arif billah berkata: “ Jangan kau menyangka bisa masuk ke hadirat Allah sedangkan engkau masih tertarik sesuatu.”

Pahamilah firman Allah:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ  إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Di hari itu tidak berguna harta dan anak-anak lelaki kecuali Orang yang datang kepada Allah dengan hati salim (bersih).” (QS. AS-Syu’ara’: 88 89)

Hati salim adalah hati yang tidak menggantung pada selain Allah. Hati itulah yang selamat dan pemiliknya selamat di hari kiamat.

وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَى كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ

“Dan sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kami ciptakan kamu pertama kali.” (QS. Al-An’am: 94)

Tidak sah orang yang datang kepada Allah kecuali datangnya tunggal sendiri tanpa ada yang mencampuri. Yang ada hanya abdun wa robbun (antara hamba dan Tuhan saja). Kalau masih ada yang lain maka hatinya belum salim.

Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَى

“Bukankah Dia mendapatkan dirimu dalam keadaan yatim maka Dia melindungimu.” (QS. Ad-Dhuha: 6).

Arti yatim menurut tafsiran tasawwuf adalah tunggal, tidak mengharapkan siapapun selain Allah.

Orang yang mendapatkan perlindungan dan kasih sayang Allah adalah orang yatim dari selain Allah, dalam arti ia tidak mengharapkan selain kepada-Nya. Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pada waktu itu dalam keadaan yatim. Nabi tidak mengaharap pada manusia, maka Allah memungutnya dan menjadikannya seorang nabi.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Allah itu ganjil dan suka bilangan ganjil.”

Artinya Allah itu tunggal tidak mau disekutukan. Allah suka orang yang suka mengesakan-Nya. Orang yang hatinya tidak menyekutukan Allah, yang di hatinya hanya Allah, maka orang itu witir. Allah suka orang tersebut.

Banyak manusia menyangka ketentraman itu ada pada harta, istri cantik atau lainnya. Ternyata itu semua adalah wahm yang batil atau angan-angan kosong yang menarik pada kerusakan. Kebahagiaan dan ketentraman hati hanya ada pada dzikrullah (mengingat Allah).

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan menyebut Allah, hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Maka tinggalkanlah segala angan-angan kosong kepada selain Allah, maka kau akan selalu bergantung kepada-Nya. Kau menjadi qana’ah dan wara’ .

Terkadang perasaan putus asa dari selain Allah dan hanya bergantung kepada-Nya datang kepada kita, walau hanya sebentar. Itu bisa terjadi ketika kita dalam keadaan sulit, seperti tidak ada orang yang ada orang memberi kita hutang. Di hati kita terlintas “Semua manusia ini tidak ada gunanya.” Namun sayang perasaan itu tidak bertahan lama. Andai perasaan itu terus ada, maka tak mustahil kita sudah jadi wali.

Sebagian orang arifin berkata: “ Seorang hamba tidak menjadi qana’ah sehingga andai datang di depan rumahnya segala sesuatu yang disukai ahli dunia dari kenikmatan, lalu disodorkan kepadanya, maka ia tidak melihatnya dan malah tidak membukakan pintu karena ia merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah.”

Memang orang yang qana’ah itu bagaikan raja, ia bebas dari segala kehinaan. Tidak ada orang yang mengetuk pintunya dan ia tidak mengetuk pintu orang lain. Orang lain tidak mengetuk pintunya karena ia tidak punya hutang yang perlu ditagih. Ia tidak mengetuk orang lain sebab ia tidak butuh hutang kepada orang lain.

Telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tentang arti ayat:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa beramal shaleh, baik lelaki atau perempuan maka Kami beri ia kehidupan yang nyaman.” (QS. An-Nahl: 97)

Bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang nyaman itu adalah diberi sifat qana’ah. Wallahu A’lam.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *