Anda Ingin Kemuliaan Abadi?

Alam Adalah Tipuan dan Peringatan
Sep 3, 2019
Lipatan Yang Sebenarnya
Sep 13, 2019

إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ عِزٌّ لَا يَفْنَى فَلَا تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يَفْنَى

Bila engkau menginginkan kemuliaan yang tidak rusak, maka janganlah engkau membanggakan kemuliaan yang rusak.

 

YANG dimaksud kemuliaan yang tidak rusak adalah bangga, merasa mulia dan merasa kaya dengan Allah serta dalam segala urusan bersandar kepada Allah. Merasa mulia dengan Allah disebut dengan kemuliaan yang tidak rusak dikarenakan Allah itu kekal dan tidak rusak. Maka bersandar dengan Allah Yang Maha Kekal merupakan kemuliaan yang kekal dan tidak rusak.

Berbangga dan merasa mulia dengan selain Allah, seperti harta, kebangsaan, istri yang cantik dan wajah yang tampan adalah kepalsuan dan kemuliaan yang rusak. Hal itu disebabkan apa yang dibanggakan itu sesuatu yang rusak dan tidak kekal. Maka barangsiapa berbangga diri dan merasa mulia dengan kepalsuan tersebut, ia akan binasa bersama apa yang ia banggakan. Orang yang berbangga dengan harta, maka ia akan binasa dan rusak bersama hartanya tersebut. Tidak ada manusia dan harta yang kekal.

Allah Ta’ala berfirman:

أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Apakah mereka mencari kemuliaan pada orang kafir? Maka sesungguhnya kemuliaan itu semua milik Allah.” (QS. An-Nisa’: 139)

وَللهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan kemuliaan yang sebenarnya itu milik Allah dan milik Rasul-Nya dan milik orang-orang mukmin, akan tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui.” (QS. Al-Munafiqun: 8)

Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu berkata:

مَنْ أَرَادَ الْغِنَى بِغَيْرِ مَالٍ وَالْكَثِيْرَةَ بِغَيْرِ عَشِيْرَةٍ فَلْيَنْتَقِلْ مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلَى عِزِّ الطَّاعَةِ

“Barangsiapa menginginkan kekayaan tanpa harta dan merasa tidak sendiri tanpa famili maka pindahlah dari kehinaan maksiat ke kemuliaan taat.”

Jadi, seperti yang diucapkan oleh Sayyidina Ali karramallahu wajhahu, orang yang meninggalkan kemaksiatan dan selalu melakukan ketaatan adalah orang yang kaya walaupun ia tidak mempunyai harta. Kaya dengan Allah. Ia tidak lagi membutuhkan manusia karena ia sudah merasa kaya dengan Allah. Walaupun ia dijauhi manusia tetapi ia tidak sendiri. Ia bersama Allah. Tidak seperti sebagian manusia yang merasa sebatang kara bila ia dijauhi oleh famili atau orang lain.

Manusia ada di antara dua pilihan. Kemuliaan yang rusak ataukah kemuliaan abadi yang tidak rusak. Bila ia memilih kemuliaan abadi yang tidak rusak, yaitu merasa mulia dengan Allah Yang Maha Kekal maka tidak ada seorangpun yang bisa menghinakan dirinya.

Diceritakan bahwa ada seseorang menasehati Raja Harun Ar-Rasyid. Sang raja marah kepada orang tersebut. Raja Harun memerintahkan agar orang itu diikat di atas bagal yang jelek perangainya yang suka menendang dan membahayakan orang yang menungganginya.

“Ikatlah dia di bigal agar ia terbunuh oleh bigal tersebut,” perintah Harun Ar-Rasyid kepada para pengawalnya.

Perintah itu dilaksanakan. Namun tidak terjadi apa-apa. Orang itu selamat.

“Masukkan dia ke rumah tahanan dan temboklah pintunya dengan rapat,” perintah Harun Ar-Rayid selanjutnya.

Apa yang dititahkan oleh sang raja dilaksanakan oleh anak buahnya. Namun tak lama kemudian orang yang dikurung dalam rumah tahanan itu terlihat sedang santai di taman istana, padahal pintu rumah tahanan itu sudah dibuntu. Kabar mengejutkan ini disampaikan kepada Harun Ar-Rasyid. Lalu orang itu dibawa menghadap kepadanya.

“Siapa yang mengeluarkan kamu dari rumah tahanan?” tanya Raja Harun.

“Yang memasukkan aku ke dalam taman,” jawab orang itu.

“Siapa yang memasukkan dirimu ke dalam taman?” tanya Raja Harun selanjutnya.

Orang itu menjawab: “Yang mengeluarkan aku dari rumah tahanan.”

Lalu Harun Ar-Rasyid memerintahkan kepada para pengawalnya untuk membawa orang itu keliling kota. Harun Ar-Rasyid berkata:

“Naikkan orang itu ke atas kuda. Bawalah ia keliling kota. Dan katakan pada semua orang “Ketahuilah bahwa Harun Ar-Rasyid hendak menghinakan seorang hamba yang dimuliakan oleh Allah, tetapi ia tidak mampu melaksanakannya.”

Apabila seseorang tidak merasa mulia dengan Allah, bahkan ia merasa mulia dengan selain Allah maka ia dalam puncak kehinaan dan ia akan terhina selama-lamanya.

Seorang sufi menceritakan sebuah pengalamannya. Ia berkata:

Aku pernah melihat seseorang sedang tawaf. Ada beberapa pengawal di depannya yang mengusir orang-orang lain. Setelah kejadian itu dengan selang beberapa waktu, aku melihat seseorang sedang mengemis di atas jembatan. Aku memperhatikan orang itu. Aku rasa ia mirip dengan orang yang pernah aku lihat ketika tawaf itu.

“Kenapa engkau memandangku?” tanya pengemis itu kepadaku.

“Kamu mirip dengan orang yang aku lihat ketika tawaf dulu,” kataku. Kemudian kuceritakan apa yang pernah aku alami.

“Ya, betul. Akulah orang itu. Waktu itu aku sombong di tempat yang mana orang lain rendah hati. Maka Allah merendahkan diriku di saat orang lain mulia,” ungkapnya mengenai sebab dari nasib buruknya itu.

Ibnu Athaillah menyebutkan dalam kitab At-Tanwir: “Jikalau engkau merasa mulia dengan Allah, maka kemuliaanmu itu abadi. Tetapi bila engkau merasa mulia dengan selain Allah, maka kemuliaanmu itu tidak kekal.”

Ada syair yang berbunyi:

اِجْعَلْ بِرَبِّكَ شَأْنَ عِزِّكَ يَسْتَقِرُّ وَيَثْبُتُ

فَإِنِ اعْتَزَزْتَ بِـمَنْ يَـمُوْتُ فَإِنَّ عِزَّكَ مَيِّتُ

Jadikanlah hakikat kebanggaanmu dengan Tuhanmu

Niscaya akan langgeng selamanya

Bila kau merasa bangga dengan yang mati

Maka Kebanggaanmu juga akan mati

Ada seseorang datang kepada seorang wali dengan menangis.

“Ada apa?” tanya wali itu.

“Ustadzku meninggal.”

“Kenapa kau menjadikan ustadzmu orang yang mati? dan dikatakan padamu “Bila kau berbangga dengan selain Allah, maka kau kehilangan dirinya. Bila engkau bersandar kepada selain Allah, maka ia akan tiada darimu.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *