Mengakui Miliknya Allah
Apr 13, 2020
Tujuan Utama Dari Berdoa
Apr 22, 2020

كَيْفَ تُخْرَقُ لَكَ الْعَوَائِدُ وَاَنْتَ لَمْ تَخْرُقْ مِنْ نَفْسِكَ الْعَوَائِدُ

Bagaimana mungkin engkau akan mendapatkan hal-hal yang luar biasa (Khawariqul Adat), sedangkan engkau tidak bisa merubah kebiasaan-kebiasaanmu.

KHAWARIQUL Adat atau yang biasa disebut dengan karómah yang berarti hal-hal yang luar biasa yang menyalahi kebiasaan orang umum. Seperti berjalan di atas air, terbang di udara, terlipat bumi sehingga jarak yang sangat jauh bisa ditempuh hanya dalam waktu sekejap, doa mustajab dan lain-lain.
Khawariqul Adat yang sebenarnya hanyalah bisa didapat dengan cara merubah kebiasaan-kebiasaan yang jelek menjadi kebiasaan-kebiasaan yang baik.
Kebiasaan-kebiasaan yang jelek adalah segala kebiasaan yang sudah disenangi oleh hawa nafsu sehingga sulit untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tersebut.
Kebiasaan-kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan itu ada yang dhohir hissi dan ada yang batin maknawi.
Kebiasaan yang dhohir hissi, misalnya banyak makan dan minum, banyak tidur, banyak pakaian, banyak bergaul dengan manusia, banyak bicara, suka bertengkar dan lain-lain.
Kebiasaan yang batin maknawi, misalnya cinta jabatan dan kedudukan, ingin diistimewakan, cinta kepada dunia dan pujian, sombong, ujub, riya’, rakus dengan makhluk, takut miskin, susah karena memikirkan rezeki, kasar, keras hati dan lain-lain.
Maka bagaimana mungkin engkau akan mendapatkan hal-hal yang luar biasa dan menyalahi adat kebiasaan yaitu berupa karómah, sedangkan engkau tidak mampu untuk merubah kebiasaan-kebiasaanmu yang jelek menjadi kebiasaan-kebiasaan yang baik.
Kebiasaan-kebiasaan yang jelek harus dirubah dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Seperti banyak makan, dirubah dengan menyedikitkan makan. Banyak tidur, dirubah dengan mengurangi tidur. Susah karena memikirkan rezeki, dirubah dengan selalu bertawakal kepada Allah.
Allah tidak akan memberikan suatu karómah kepada seorang hamba kecuali ia merubah kebiasaan-kebiasaan jeleknya sedangkan ia fana’ dari irâdahnya (meningggalkan segala keinginannya demi keinginan Allah), ia pasrah diri kepada Allah, selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah dengan selalu mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya, selalu memandang kepada dirinya dengan selalu mengoreksi dan mengawasi dirinya.
Di dalam kitab-kitab ‘Alawiyyin disebutkan: Para Ulama telah sepakat bahwa seseorang tidak akan bisa sampai kepada Allah, kecuali dengan mengikuti jejak langkah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu melawan ajakan-ajakan hawa nafsu (Mujahadatun Nafs) dan selalu mengawasi (Muroqobah) dan mengoreksi (Muhaasabah) dirinya.
Al-Imam asy-Syeikh Abu Bakar bin Salim mengatakan:

مَنْ نَظَرَ اِلَى نَفْسِهِ بِعَيْنِ الرِّضَا, نَظَرَ اللهُ اِلَيْهِ بِعَيْنِ السُّخْطِ. وَمَنْ نَظَرَ اِلَى نَفْسِهِ بِعَيْنِ السُّخْطِ, نَظَرَ اللهُ اِلَيْهِ بِعَيْنِ الرِّضَا

“Barangsiapa yang memandang kepada dirinya dengan mata murka, maka Allah memandang kepadanya dengan pandangan ridha. Barangsiapa yang memandang kepada dirinya dengan mata ridha, maka Allah akan memandang kepadanya dengan pandangan murka.”

Karómah Yang Nampak Dari Para Ulama
Jika nampak dari mereka berbagai macam karómah dan kedudukan, mereka tidak tertipu, tidak merasa bangga ataupun sombong dan tidak menoleh kepada karómah tersebut, bahkan mereka tidak merasa senang dengan hal tersebut. Akan tetapi sebaliknya karómah itu menjadikan mereka bertambah bersemangat untuk lebih giat beribadah kepada Allah, karena tujuan yang mereka cari hanyalah keridhaan Allah semata.
Seseorang yang baru melakukan sulûk (menempuh jalan Allah) biasanya ia akan mendapatkan karómah, oleh karena itu ia jangan sampai tertipu dengan kemuliaan itu. Akan tetapi hal itu hendaknya menjadi pendorong baginya untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
Al-Habib Abdurrahman as-Seggaf mengatakan:

إِجْتَهَدْنَا فَلَمْ يُفْتَحْ عَلَيْنَا بِالْفَتْحِ الْعَظِيْمِ اِلَّا بَعْدَ مَا رَجَعْنَا اِلَى مَعْرِفَةِ النَّفْسِ

“Kami telah berusaha keras tetapi tidaklah kami mendapatkan fath (pembukaan) yang besar kecuali setelah kami kembali mengenal diri (melawan hawa nafsu).”
Ucapan ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Orang yang mendapatkan berbagai macam kemuliaan, kedudukan dan karamah adalah dikarenakan ia telah mengenal dirinya.
Karómah yang hakiki adalah kemampuan seseorang untuk dapat beristiqômah dalam melakukan ibadah dan perbuatan-perbuatan baik.

الْكَرَامَةُ الْحَقِيْقِيَّةُ هِيَ الْإِسْتِقَامَةُ عَلَى الدِّيْنِ وَحُصُوْلُ كَمَالِ الْيَقِيْنِ

“Karómah yang sebenarnya adalah istiqômah dalam menjalankan agama dan mendapatkan keyakinan yang sempurna.“
Ada yang mengatakan: Bukanlah yang dinamakan karómah itu adalah apabila engkau memasukkan tanganmu ke dalam saku kemudian mengeluarkan uang. Namun yang dinamakan karómah itu adalah apabila engkau memasukkan tanganmu ke dalam saku kemudian tidak keluar uang, tetapi hatimu tetap dan tidak berubah.
Bukanlah karómah itu adalah apabila seorang guru didatangi seorang murid kemudian mengeluarkan kesaktian, tetapi karómah yang sebenarnya adalah apabila seorang guru didatangi seorang murid kemudian murid tersebut pulang, sedangkan kebiasaan buruknya telah berubah. Inilah yang paling besar karómah.

Orang-Orang Yang Mendapatkan Karómah Yang Sebenarnya
Pernah ada seorang alim yang kurang istiqômah dalam mengamalkan sunnah. Orang alim itu ikut hadir dalam pengajian yang diasuh oleh al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Asseggaf Gresik. Al-Habib Abu Bakar tidak pernah memandang ke arah orang lain. Namun di saat orang alim itu hadir, al-Habib Abu Bakar memandang ke arah orang alim tersebut. Seketika itu orang alim tersebut terlihat gelisah dan menangis karena teringat perbuatan-perbuatan jelek yang pernah ia lakukan. Kemudian ia pulang ke rumah. Maka setelah itu, orang alim itu giat untuk melakukan dan mengamalkan sunnah-sunnah.
Diceritakan ada dua orang pemuda yang di saat itu ingin pergi ke Tretes, kedua dua orang itu berbeda pendapat. Salah seorang dari mereka mengatakan: “Sebaiknya kita mampir ke rumah Kiai Hamid dulu!” Kemudian kedua orang itu berangkat ke rumah Kiai Hamid. Setelah tiba di rumah Kiai Hamid, beliau mengatakan kepada kedua pemuda itu: “Berangkatlah kalian ke Tretes dulu. Baru setelah itu mampir ke sini.” Mendengar ucapan tersebut kedua pemuda itu tersentak kaget, kemudian menangis dan keduanya bertaubat tidak akan pergi ke Tretes lagi.
Juga diceritakan bahwa Al-Habib Ali bin Idrus bin Syeikh Abu Bakar bertamu ke rumah Kiai Abdul Hamid. Di saat itu makanan yang dihidangkan adalah buah pisang yang berjumlah empat buah sesuai dengan jumlah tamu yang datang di kala itu. Tidak lama kemudian datang seorang tamu, sehingga jumlah tamu menjadi lima orang. Al-Habib Ali kemudian melirik ke arah pisang tersebut, ternyata jumlahnya menjadi lima buah. Al-Habib Ali membisiki putra beliau yang duduk di sampingnya: “Apakah engkau lihat bahwa pisang itu tadinya empat buah, kemudian menjadi lima ?” Putra beliau menjawab: “Benar. Saya tadi melihatnya empat buah, tetapi kemudian menjadi lima.”
Ketika Al-Habib Ali pamitan pulang, Kiai Abdul Hamid memberikan hadiah uang kepada beliau sejumlah dua ratus ribu rupiah. Setelah Al-Habib Ali tiba di rumah, beliau menyuruh putra beliau untuk memberikan uang tersebut kepada orang miskin yang ada di sekitar beliau. Seratus ribu untuk si Fulan dan seratus ribunya lagi untuk si Fulan. Namun setelah uang tersebut dihitung kembali, ternyata uangnya berjumlah tiga ratus ribu. Serentak beliau kaget dengan kejadian itu.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *