Amal Baik Karena Hatinya Baik

Karena Zuhud, Sedikit Menjadi Banyak. Karena Cinta Dunia, Banyak Menjadi Sedikit
Dec 26, 2018
Berdzikir Dalam Keadaan Apapun
Jan 4, 2019

حُسْنُ الْأَعْمَالِ نَتَائِجُ حُسْنِ الْأَحْوَالِ وَحُسْنُ الْأَحْوَالِ مِنَ التَّحَقُّقِ فِـيْ مَقَامَاتِ الْإِنْزَالِ

Kebagusan amal adalah hasil dari kebagusan keadaan hati. Dan kebagusan keadaan hati adalah sebagian dari tanda ketetapan yang bertempat dalam kedudukan di hati.

YANG dimaksud dengan Husnul Amal (bagusnya amal) adalah amal yang dilakukan lengkap dengan syarat-syarat dan adab ubudiyah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan bukan karena untuk mendapatkan keuntungan yang segera dan bukan untuk meraih pahala yang ditunda.

Yang dimaksud dengan Husnul Ahwal (kebagusan keadaan hati) ialah keadaannya selamat dari cacat dan dakwaan-dakwaan yang hampir menyerupai kebenaran.

Yang dimaksud dengan At-tahaqquq fl Maqamatil Inzal (mengokohkan kedudukan pada maqamat) ialah penerimaan hati terhadap ilmu dan makrifat yang diturunkan oleh Allah sehingga hati itu bersih dari keraguan.

Tiga hal yang disebutkan di atas saling memerlukan antara yang satu dengan yang lain. Jadi, Amal yang baik timbul dari hati yang baik. Sedangkan hati menjadi baik dikarenakan ilmu dan makrifat yang diturunkan oleh Allah kepada hati itu. Inilah yang dikatakan oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali: “Setiap maqam dari maqam yaqin membutuhkan ilmu, hal dan amal. Ilmu menghasilkan hal. Hal membuahkan amal.”

Ilmu dan makrifah atau hidayah yang diturunkan oleh Allah kedalam hati manusia menjadikan hati itu baik. Hilanglah dari hati itu segala penyakit dan cacat. Apabila hati itu sudah baik, maka akan tampak amal-amal yang baik pada anggota badannya. Hatilah yang menggerakkan anggota badan untuk giat beribadah kepada Allah. Sebab, semua anggota badan tunduk pada perintah hati. Hati bagaikan raja sedangkan anggota badan adalah bala tentaranya.

Al-Bushiri berkata:

وَإِذَا حَلَّتِ الْـهِدَايَةُ قَلْبًا ™ نَشِطَتْ لِلْعِبَادَةِ الْأَعْضَاءُ

Apabila hidayah turun ke dalam hati, maka anggota badan akan giat beribadah

Walhasil, pergerakan anggota badan yang dhahir menunjukkan kebaikan atau kerusakan hati sebagaimana diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya di jasad manusia ada segumpal daging, kalau ia baik, maka baiklah seluruh badan. Kalau ia rusak maka rusaklah seluruh badan. Itulah hati.”

Contohnya, apabila hati seseorang benar-benar zuhud dan itu sudah menjadi hal dan maqam pada hati itu, maka tampaklah pada anggota badannya kepercayaan kepada Allah dan bergantung kepada-Nya dan kurang bergerak mencari sebab-sebab.

Orang tersebut berbeda dengan manusia lainnya. Keindahan hatinya tampak pada anggota badannya. Ia tidak rakus lagi kepada dunia seperti yang lain. Ia selalu percaya dan tawakkal kepada Allah.

Ini karena ada sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

لَيْسَ الزُّهْدُ بِتَحْرِيْمِ الْـحَلَالِ وَلَا بِإِضَاعَةِ الْمَالِ إِنَّـمَا الزُّهْدُ أَنْ تَكُوْنَ بِمَا فِـيْ يَدِ اللهِ أَوْثَقَ مِمَّا فِيْ يَدِكَ

“Bukanlah Zuhud itu dengan mengharamkan yang halal, dan bukan dengan menyia-nyiakan harta benda. Zuhud itu ialah apabila yang ada di tangan (kekuasaan) Allah lebih engkau percayai daripada yang ada di tanganmu.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)

Abu Bakar As-Shiddiq berkata kepada Abul Hasan As-Syadzili dalam mimpi :

عَلَامَةُ خُرُوْجِ حُبِّ الدُّنْيَا مِنَ الْقَلْبِ بَذْلُـهَا عِنْدَ الْوَجْدِ وَوُجُوْدُ الرَّاحَةِ مِنْهَا عِنْدَ الْفَقْدِ

“Tanda keluarnya cinta dunia dari hati adalah memberikan dunia itu ketika ada dan merasa tentram bila tidak ada.”

Seseorang yang apabila memiliki harta maka ia membagi-bagikannya kepada orang lain menandakan bahwa orang itu tidak suka dunia. Begitupula jika ia tidak memiliki harta, maka ia tidak merasa susah. Hatinya tetap tentram sebab walau ia tidak punya harta tetapi ia punya Allah.

Abu Hafs Al-Haddad berkata “Baiknya adab dhahir timbul dari baiknya adab batin. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda mengenai orang yang bermain dengan jenggotnya waktu shalat, “Andai hati orang ini khusyuk, maka anggota badannya juga khusyuk.”

Para sufi berbeda-beda mengenai arti zuhud. Masing-masing sufi berbicara menurut perasaan dirinya. Al-Ghazali mengatakan, “Zuhud adalah kosongnya hati dari dunia.” Termasuk dunia adalah harta, pengaruh, ingin dipuji dan dihormati.

Bukan berarti zuhud itu tidak memiliki harta atau kekayaan. Tidak masalah harta banyak asalkan tidak ditaruh di hati. Belum pasti orang yang tidak memiliki harta itu zuhud terhadap dunia. Bisa jadi walaupun ia tidak punya harta, tetapi hatinya penuh dengan kecintaan terhadap dunia. Belum tentu pula orang yang bergelimang harta tidak zuhud kepada dunia. Bisa jadi orang itu banyak hartanya, tetapi hatinya muak dan jemu terhadap dunia.

Banyak para wali yang berdoa untuk mendapatkan kekayaan seperti doa Imam Asy-Syadzili:

اَللّهُمَّ اجْعَلِ الدُّنْيَا فِـيْ أَيْدِيْنَا وَلَا تَـجْعَلْهَا فِـيْ قُلُوْبِنَا

“Ya Allah, jadikan dunia di tanganku dan jangan Engkau jadikan dunia di hatiku.”

اَللّهُمَّ وَسِّعْ عَلَيَّ رِزْقِيْ فِـيْ دُنْيَايَ وَلَا تَـحْجُبْنِـيْ بِـهَا عَنْ أُخْرَايَ

“Ya Allah luaskanlah rezekiku di duniaku dan jangan Engkau jadikan ia penghalang untuk akhiratku.”

Sedangkan puncak zuhud bagi para sufi adalah mentahqiq firman Allah:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ

“Agar kalian tidak sedih atas yang luput dari kalian dan tidak senang dengan apa yang kalian dapat.” (QS Al-Hadiid: 23)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *