Amal Adalah Kerangka, Jiwanya Adalah Keikhlasan

Bermacam Amal Karena Beda Cahaya
Aug 28, 2018
Tanamlah Dirimu di Tanah Kehinaan
Sep 2, 2018

اَلْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ وَأَرْوَاحُهَا وُجُوْدُ سِرِّ الْإِخْلَاصِ فِيْهَا

Amal perbuatan sebagai kerangka yang tegak sedangkan jiwanya adalah rahasia keikhlasan dalam amal perbuatan itu.

 

KEIKHLASAN seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya. Ada yang berkedudukan sebagai Al-Abrar. Puncak keikhlasan golongan Al-Abrar ini apabila amal perbuatan mereka selamat dari riya’ yang jelas atau yang samar. Tujuan mereka dalam beramal adalah ingin mendapatkan pahala yang telah dijanjikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Mereka jauh dari ancaman Allah berupa siksa yang pedih kepada orang-orang yang amal perbuatannya kecampuran dan tidak ikhlas. Ini adalah pengamalan makna kata:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ

Artinya; Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu dan kami tidak mempersekutukan-Mu dalam ibadah kami dengan yang lain.

Golongan kedua adalah tingkatan Al-Muqarrabin. Keikhlasan mereka lebih tinggi dari Al-Abrar. Mereka menerapkan kata:

 وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Artinya; Kami tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Mu sedangkan kami tidak berdaya apapun.

Mereka juga mengamalkan :

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ

Mereka merasa bahwa amalnya itu bukan dari diri mereka, tetapi semata dari karunia dan taufiq dari Allah. Yang menggerakkan dan memberi petunjuk adalah Allah. Maka mereka tidak menuntut pahala apapun sebab mereka merasa tidak berbuat apa-apa.

Amal perbuatan Al-Abrar disebut Amal lillahi (beramal karena Allah). Sedangkan amal perbuatan Al-Muqarrabin adalah Amal billahi (beramal semata dari bantuan Allah).

Amal lillahi (Beramal karena Allah) bisa menghasilkan pahala. Sedangkan Amal billahi (amal dengan bantuan Allah) bisa menghasilkan pendekatan kepada Allah.

Amal lillahi untuk membenarkan ibadah dengan menegakkan hukum dhahir. Artinya, amal ibadahnya murni kepada Allah bukan karena manusia, tetapi mereka masih mengharap pahala. Sedangkan Amal billahi untuk membenarkan keinginan hati. Artinya, amalnya dilaksanakan sesuai dengan tuntunan dhahir dan batin. Dhahimya ikhlas karena Allah, bukan karena manusia. Batinnya ikhlas tidak mengharapkan pahala kepada Allah karena merasa bahwa semuanya dari Allah, bukan dari dirinya.

Amal lillahi adalah sifat setiap orang yang beribadah. Sedangkan Amal billahi adalah sifat orang yang menuju dan mencintai Allah. Semua ungkapan tentang amal lillahi dan amal billahi di atas disebutkan oleh Abul Qasim Al-Qusyairi, pengarang Risalah Al-Qusyairiyah. Dengan keterangan ini menjadi jelas perbedaan kedua tingkatan itu dalam kemuliaan dan keagungannya.

Maka, keikhlasan seorang hamba adalah ruh dari amal perbuatannya. Amal bisa hidup kalau ada keikhlasannya. Dimisalkan seperti badan manusia bisa hidup kalau ada ruhnya. Amal tanpa keikhlasan bagaikan badan tanpa nyawa. Amal itu mati dan tidak diterima di sisi Allah.

Seorang guru sufi berkata, “Perbaiki amal perbuatanmu dengan ikhlas dan perbaikilah keikhlasanmu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri dan semua kejadian itu semata-semata dari Allah.”

Kita diajak dalam kata hikmah ini untuk naik menjadi Al-Muqarrabin. Tingkatan ini bisa tercapai dengan hanya menyetel hati. Kalau beramal, bersihkan hati dari tujuan karena manusia atau ingin dipuji orang. Murnikan amal kita karena Allah. Setelah itu, tingkatkan dengan tidak merasa bahwa amal itu dari diri kita sendiri, tetapi semata dari Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *