Lebih Baik Tahu Diri Penuh Aib, Daripada Tersingkap Tirai Gaib
Oct 18, 2018
Keluarlah dari Sifat Basyariyah (Manusiawi) agar Bisa Sambut Panggilan-Nya
Oct 28, 2018

الْحَقُّ لَيْسَ بِمَحْجُوْبٍ عَنْكَ إِنَّـمَا الـْمَحْجُوْبُ أَنْتَ عَنِ النَّظْرِ إِذْ لَوْ حَجَبَهُ شَيْءٌ لَسَتَرَهُ مَا حَجَبَهُ وَلَوْ كَانَ لَهُ سَاتِرٌ لَكَانَ لِوُجُوْدِهِ حَاصِرٌ وَكُلُّ حَاصِرٍ لِشَيْءٍ فَهُوَ لَهُ قَاهِرٌ وَهُوَ الْقَاهرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

Al-Haq (Allah) tidak terhijab darimu. Sebaliknya, yang terhijab adalah engkau dari melihat-Nya. Sebab, sekiranya ada sesuatu yang menghijab Allah berarti sesuatu itu menutupi Allah. Andai ada sesuatu yang menutupi Allah berarti wujudnya Allah dikurung oleh sesuatu itu. Setiap sesuatu yang mengurung dapat menguasai yang dikurung. Sedangkan Allah menguasai seluruh hamba-Nya.

 

MUSTAHIL Allah terhijab oleh sesuatu. Tidak ada sesuatu yang bisa menghijab Allah. Sebab, Allah tampak pada segala sesuatu. Allah tampak sebelum segala sesuatu. Allah tampak sesudah segala sesuatu. Tidak ada yang nampak selain Allah dan tidak ada yang wujud selain Allah. Pada hakikatnya, selain Allah tidak ada, yang ada hanyalah Allah. Maka, bagaimana Allah bisa terhijab dengan sesuatu yang tidak ada?

Bukan Allah yang terhijab. Tetapi manusialah yang terhijab dari melihat Allah. Kenapa manusia bisa terhijab dari Allah? Karena manusia punya keyakinan selain Allah, punya sandaran kepada yang lain, hatinya masih bergantung pada hal-hal bendawi seperti istri, rumah dan yang lain. Itulah yang menghijab manusia dari Allah.

Andai manusia itu hatinya bergantung hanya pada Allah dan berpaling dari semua selain Allah, maka ia akan melihat cahaya Al-Haq (Allah) terang di segala alam semesta ini. Orang itu akan menemukan Allah dan bermakrifat kepada-Nya.

Orang bisa melihat Allah dengan mata hati nuraninya (nurul bashirah). Cahaya hati nurani itu yang bisa menembus segala kegelapan dan hijab yang menghalangi manusia dari melihat Allah. Oleh karena itu, kalau ingin melihat Allah, maka bersihkanlah hati. Hapuslah sifat-sifat tercela di hati dan hiasilah hati dengan sifat-sifat terpuji. Maka mata hati kita akan menjadi terang dan tajam sehingga bisa menembus segala halangan dan rintangan antara abd (hamba) dan makbud (Allah).

Perjalanan menuju Allah adalah perjalanan tanpa batas. Perlu kesabaran yang sesungguhnya untuk menempuhnya. Ada yang sampai setelah bertahun-tahun. Ada yang mendapatkan makrifat kepada Allah sesaat sebelum mati. Perlu kesungguhan. Tidak bisa dengan coba-coba. Dalam perjalanannya itu perlu ada guru yang menuntun. Ini perjalanan yang sangat sulit, bukan perjalanan darat, laut atau udara.

Hidup seorang yang melakukan suluk kepada Allah harus murni untuk Allah. Makannya untuk Allah. Minumnya untuk Allah. Sampai-sampai jimaknya untuk Allah. Di hatinya hanya ada Allah. Apabila begitu, maka ia bisa bermakrifat kepada Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sendiri hatinya hanya berisi Allah. “Andai aku menjadikan kekasih (Kholil) selain Allah, maka aku jadikan Abu Bakar sebagai (Kholil) kekasihku,” sabda Nabi.

Perlu latihan untuk mengarahkan segala pekerjaan untuk Allah. Tiap langkah dan pekerjaan sertailah dengan niat-niat yang baik untuk Allah. Niatilah satu pekerjaan dengan niat-niat baik yang banyak. Maka satu pekerjaan mendapatkan pahala bermacam-macam ibadah dengan sebab niat-niat baiknya. Niat adalah amal batin yang nilainya lebih besar dari bergunung-gunung amal dhahir. Amal itu bernilai disebabkan niatnya. Apabila amal tidak disertai niat, maka amal itu kosong tidak ada nilainya sama sekali. Amalnya akan sia-sia.

Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi mendapatkan derajat yang tinggi sebab banyaknya amal batin dan niat-niatnya yang baik. Syekh Umar Ba Makhramah dalam Madarah Ahl Bait-nya memanggil Habib Ali di alam arwah dengan Ya Ali Bal-gharib (Ali yang aneh) dan Ghulam Sa’atain (anak baru kemarin) yang amal dhahirnya tidak tampak, tetapi ia mendapat derajat tinggi di sisi Allah.

Begitulah orang shaleh terdahulu segala hidupnya hanya untuk Allah. Walighairillah ma qasadu (mereka tidak ada maksud selain Allah). Berkat keikhlasan dan ittiba’ terhadap Rasulullah mereka mendapat kemuliaan. Walaupun sudah meninggal, mereka bisa berbuat sesuatu dan mendidik di alam barzakh. Syeikh Abdul Qadir Jailani, Syeikh Abul Hasan As-Syadzili, Habib Abdullah Al-Haddad di antara orang-orang istimewa itu.

Syeikh Hasanain Makhluf, seorang Syekh Al-Azhar, pernah mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh. Akhirnya, ia mendapat kesembuhan dengan bertawassul kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Ia berkhidmah dengan kitab-kitab Habib Abdullah Al-Haddad. Kitab-kitab tokoh Ba Alawi itu ditahqiq oleh Syeikh Hasanain Makhluf dan dibagikan dengan cuma-Cuma.

Pada zaman Sayyid Alawi Al-Maliki ada seorang guru tarekat dari India yang berhaji ke Mekkah. Ia berambut awut-awutan dan berkuku panjang. Ia tidur di pinggir-pinggir jalan. Ketika ia tidur ada orang datang memotongi kuku-kukunya yang panjang. “Tidak pantas bagimu seperti ini,” ucap orang itu.

“Siapa anda?” tanya orang India itu. “Aku Al-Imam Al-Haddad,” jawab lelaki itu.

Orang India itu penasaran dengan Al-Haddad. Tiba-tiba ada anak kecil menjajakan kitab-kitab Habib Abdullah Al-Haddad sambil memanggil, “Kitabnya Habib Abdullah Al-Haddad.” Berkali-kali. Orang India itu membeli kitab itu.

Orang India itu datang ke Sayyid Alawi Al-Maliki. Sebelumnya, Sayyid Alawi Al-Maliki sudah mendapat isyarat mimpi bahwa akan datang seorang calon wali qutub kepadanya. Orang India itu bertanya banyak tentang Habib Abdullah Al-Haddad kepada Sayyid Alawi Al-Maliki. Rupa-rupanya, orang India itu dididik dan dilantik sebagai wali oleh Habib Abdullah Al-Haddad.

Mudah-mudahan kita mendapat barakah dan kecintaan mereka. Amin.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *