Allah Menjadikan, Manusia Memiliki

Amal Diterima Adalah Balasan Yang Besar
Mar 27, 2020
Kehinaan yang Tidak Berujung Kemuliaan yang Tidak Ada Batas
Apr 6, 2020

إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فَضْلَهُ عَلَيْكَ خَلَقَ فِيْكَ وَنَسَبَ إِلَيْكَ

Jika Allah akan memperlihatkan karunia-Nya kepadamu, maka Dia menjadikan dan menamakan (suatu amal perbuatan) dengan namamu.

TERMASUK rahmat dan karunia Allah kepada hamba-Nya ialah Allah menciptakan suatu perbuatan taat untuk manusia, kemudian Dia menamakan perbuatan itu atas nama manusia dan menyandarkannya kepada manusia. Allah tidak mengatakan bahwa amal perbuatan itu dari Allah. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Masuklah surga dengan sebab amal taat yang kalian lakukan.” (QS. An-Nahl: 32)
Padahal yang sebenarnya, Allah yang menjadikan amal taat itu. Allah Yang memberi taufiq kepada hamba tersebut sehingga ia bisa berbuat dan taat kepada Allah. Pada hakikatnya, seorang hamba masuk surga bukan dengan sebab amalnya melainkan dengan rahmat dan karunia Allah.
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ

“Seseorang tidak akan masuk surga dengan amalnya.”
Para sahabat bertanya:

وَلَا أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ

“Tidak juga engkau, wahai Rasulullah ?”
Nabi menjawab :

لَا, وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak. Tidak juga aku, melainkan Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku.” (HR. Bukhari Muslim)
Namun dalam ayat di atas Allah mengatakan bahwa manusia masuk surga dengan sebab amal perbuatannya. Hal ini sebagai bukti kasih sayang Allah kepada manusia.
Dalam ayat lain Allah berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Dalam ayat ini Allah mengatakan bahwa harta yang merupakan milik Allah adalah kepunyaan manusia. Seakan-akan manusia yang memiliki harta itu. Padahal semua harta adalah milik Allah. Dan dalam ayat ini pula Allah subhanahu wa ta’ala memberi semangat kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mau bersedekah sehingga mereka mendapatkan keberuntungan.

Sikap Yang Benar
Allah menjadikan suatu perbuatan taat untuk hamba-Nya kemudian Dia menamakan (menyandarkan) perbuatan itu dengan nama hamba-Nya, karena Allah ingin menampakkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya. Maka Allah berfirman kepada hamba-Nya: “Wahai hamba-Ku engkau orang yang taat. Engkau orang yang bertaqwa. Engkau orang yang beramal. Engkau orang yang bersemangat. Dan semua perbuatan taatmu akan Aku balas.”
Seorang hamba yang berbudi merasa bahwa dirinya tidak memiliki apa apa. semuanya datang dari Allah. Sehingga ia menjawab seruan Allah tersebut dengan ucapannya: “Wahai Tuhanku, sebagaimana Engkau memberikan karunia kepadaku dengan menciptakan amal taat untukku. Dan Engkau hiaskan amal taat itu dalam diriku. Dan Engkau mensifati aku dengan sifat sifat yang terpuji padahal sifat itu tidak ada dalam diriku. Dan Engkau janjikan kepadaku pahala yang besar dan keselamatan dari siksa, – maka terimalah amal perbuatanku dan tepatilah janji Mu.” Maka sikap seperti inilah yang benar bagi seorang hamba.
Dikarenakan Allah berbuat murah kepada hamba-Nya dengan menjadikan amal-amal ibadah dan menyandarkan amal-amal ibadah tersebut kepada hamba-hamba-Nya, maka sikap seorang hamba yang benar adalah ia merasa dan mengakui bahwa semua ibadah yang ia lakukan datang dari karunia Allah. Jika bukan karena pertolongan dari Allah, niscaya ia tidak akan dapat beribadah.
Namun jika dia merasa bahwa semua ibadah yang ia lakukan berasal dari dirinya dan ia menyandarkan perbuatan itu kepada dirinya, maka sikap seperti ini tidak benar. Hamba ini telah melakukan adab yang jelek kepada Allah.
Segala perbuatan baik yang ia lakukan ia sandarkan kepada Allah. Sebaliknya segala perbuatan jelek yang ia lakukan ia sandarkan kepada dirinya sendiri dan tipu daya syaitan.

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Maka janganlah engkau tertipu dengan kehidupan dunia dan janganlah engkau ditipu oleh syaitan dengan (memberi harapan pengampunan dan penundaan dari) Allah.” (QS. Luqman: 33)
Walaupun sebenarnya segala sesuatu itu terjadi dengan kehendak Allah, tetapi untuk menjaga kesopanan kita kepada Allah dalam hal ucapan, maka segala perbuatan-perbuatan jelek yang kita lakukan atau semua takdir yang jelek menimpa kita, kita sandarkan kepada diri kita sendiri dan tipu daya syaitan. Sebaliknya, segala perbuatan baik yang kita lakukan atau takdir yang baik menimpa kita, kita sandarkan kepada Allah.
Telah dicontohkan dalam Al-Qur’an perihal kesopanan ucapan kepada Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menerangkan ucapan jin :

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

“Sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah kejelekan yang dikehendaki terhadap penghuni bumi ataukah kebaikan yang dikehendaki bagi mereka oleh Tuhan mereka.” (QS. Jin: 10)
Dalam ayat di atas kejahatan dan kejelekan tidak disandarkan kepada Allah dan diungkapkan memakai mabni majhul (pelakunya tidak disebut). Sedangkan kebaikan dinisbatkan kepada Allah secara jelas. Ini merupakan bentuk kesopanan para jin kepada Tuhan mereka.
Sahal bin Abdullah at-Tusturi radhiyallahu anhu mengatakan:
“Apabila seorang hamba melakukan amal kebaikan kemudian ia berkata, ‘Ya Allah, dengan karunia-Mu aku bisa melakukan kebaikan ini. Dan dengan berkat pertolongan-Mu aku dapat melaksanakan amal perbuatan ini. Dan Engkaulah yang memudahkan aku untuk dapat melakukan semua ini,’ maka Allah bersyukur kepadanya dan Allah berfirman kepadanya, ‘Engkaulah yang taat. Engkaulah yang berbuat kebaikan.’
“Dan jika ia memandang kepada dirinya, kemudian ia berkata, “Aku yang bekerja. Aku yang melakukan amal taat. Aku yang mempermudah masalah ini,’ Maka Allah berpaling darinya dan berfirman, ‘Aku memberi engkau taufiq. Aku yang memberi pertolongan kepadamu. Aku yang memudahkan engkau.”
“Dan jika si hamba itu melakukan amal jelek kemudian ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, Engkau menakdirkan aku. Engkau yang memutuskan. Engkau yang menghukum.’ maka Allah murka kepadanya dan berfirman, ‘Wahai hamba-Ku, engkau yang berbuat salah. Engkau yang bodoh. Engkau yang melakukan maksiat.”
“Dan jika si hamba yang melakukan maksiat itu mengatakan, “Ya Allah, aku yang menganiaya diriku sendiri. Aku yang bersalah. Aku yang bodoh,’ maka Allah menghadap kepadanya dan berfirman, ‘Wahai hamba-Ku, Akulah yang memutuskan dan Akulah yang menentukan. Sungguh Aku telah memaafkanmu dan Akulah yang menutupi kesalahanmu.”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *