Allah Memberi, Berarti Menunjukkan Kemurahan-Nya, Kalau Tidak, Berarti Menunjukkan Kekuasan-Nya.

Tak Pantas, Beribadah Karena Surga Dan Neraka
Oct 9, 2019
Kebijaksanaan Allah Yang Banyak Orang Tidak Mengerti
Oct 22, 2019

 مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ فَهُوَ فِيْ كُلِّ ذَلِكَ مُتَعَرِّفٌ عَلَيْكَ وَمُقْبِلٌ بِوُجُوْدِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ

Apabila Allah memberikan karunia-Nya kepadamu, maka Dia akan menunjukkan karunia belas kasih-Nya kepadamu dan apabila Allah menolak pemberian-Nya, maka ia akan menunjukkan sifat kekuasaan-Nya.
Maka Dia (Allah) di dalam segala keadaan itu mengenalkan diri-Nya kepadamu dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemeliharaan pemberian-Nya kepadamu.

SEORANG hamba dituntut dan diharuskan mengetahui kebesaran Allah dan sifat-sifat-Nya dan asma-asma Allah al-husna, yaitu bahwasanya Allah mempunyai sifat-sifat dan nama-nama yang ada di Asmaul Husna yang berjumlah 99. Di dalam nama-nama tersebut terdapat sifat Jamaliyah Allah (sifat Allah yang indah, bagus dan menyenangkan) dan terdapat pula sifat Jalaliyah Allah (sifat Allah yang hebat dan menakutkan).
Manusia hidup di dunia ini pasti akan menerima sifat-sifat Allah tersebut, baik Jamaliyah maupun Jalaliyah.
Di sini Ibnu Athaillah mengatakan: Kalau Allah memberikan kepadamu suatu pemberian atau karunia yang menyenangkan, maka berarti Allah akan menunjukkan sifat kemurahan-Nya, seperti Allah bersifat Lathif (Maha Lembut), Rahim (Maha Kasih). Wahhab (Maha Memberi), Karim (Pemurah), Basith (Melapangkan). Kalau ada orang mendapatkan sifat Jamaliyah Allah dengan mendapatkan kesenangan dan kelapangan-kelapangan hidup, maka orang yang seperti ini akan menjadi senang dan menjadi besar cinta kepada Allah, kemudian ia bersyukur kepada Allah atas tambahan nikmat itu lalu ia mendapatkan kebaikan.
Sebaliknya jika ditolak oleh Allah, Allah menunjukkan sifat Jalaliyah-Nya, seperti Allah bersifat Maani’ (Maha Mencegah), Qahhar (Maha Berkuasa), Jabbar (Maha Keras), Mutakabbir (Maha Sombong/Gagah Perkasa) misalnya disempitkan kehidupannya, berarti Allah ingin menunjukkan sifat kekuasaan dan kehebatan-Nya kepada hamba-Nya, kemudian hamba mengetahui bahwa ini datangnya dari Allah Yang Maha Perkasa kemudian timbullah rasa takut. Dengan ditolaknya hamba dengan cara disempitkan kehidupannya maka dia kembali kepada Allah dan merasa miskin (butuh) kepada Allah dan merasa takut dengan Jalaliyah Allah.
Dengan kembalinya hamba kepada Allah, kembali beribadah dan merasa rendah hati, maka berkuranglah dosanya, kejelekannya dihapus oleh Allah sehingga datang nanti kepada Allah dalam keadaan suci.
Oleh karena itu terimalah semua mala petaka yang datangnya dari Allah, baik penyakit-penyakit, kesempitan hidup, itu semuanya jika kita lihat menurut hakikatnya adalah merupakan karunia Allah. Oleh karena itu janganlah menuduh Allah, baik dalam penolakan ataupun dalam pemberian dengan menuduh Allah dholim dan berbuat tidak adil.
Seandainya orang tahu hakikatnya di dalam sakit, niscaya ia akan memilih sakit daripada sehat, seperti yang dikatakan oleh Ibrahim al-Khawwash: “Seandainya orang tahu di balik semua itu, ia akan memilih sakit daripada sehat.”
Seperti sahabat Imran bin Hushain radhiyallahu anhu yang rela merasakan sakit berkepanjangan dan tetap bersyukur kepada Allah, tetap beribadah dengan melakukan fardhu-fardhu dan sunnah-sunnah yang tidak kalah dengan orang yang sehat sehingga dengan sakit, beliau bertambah dekat dengan Allah sampai beliau dikunjungi oleh para malaikat seperti yang diterangkan dalam hadits, bahwa beliau dikunjungi para malaikat, “Hai Imran salam sejahtera untukmu.” Kata para malaikat ketika mengunjungi beliau.
Hal ini berkat kesabaran dan ridha beliau dalam menerima cobaan dari Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjenguk dan berkata kepada beliau: “Maukah engkau aku doakan agar sembuh seperti yang lainnya atau engkau tetap dalam keadaan sakit dikunjungi para malaikat?” Beliau memilih tetap dalam keadaan sakit karena merasa beruntung bisa berkumpul dengan para malaikat.
Oleh karena itu, penyakit itu tidak menjadi sebab orang mukmin berputus asa, malahan dapat menambah semangat untuk beribadah seperti yang dialami oleh Imran bin Hushain. Tetapi sebaliknya banyak kita lihat orang yang sehat, namun malas untuk melakukan ibadah fardhu dan sunnah.
Orang yang benar-benar berma’rifat kepada Allah, bagi dirinya ditolak atau diberi adalah sama, asal dia tetap bersama dengan Allah beriman dan tetap beribadah kepada Allah. Karena itu untuk apa jika kita diberi (kesenangan dan keinginan) tetapi dicegah dari hidayah-Nya, dicegah dari ma’rifat, dicegah dari sholat lima waktu, dicegah dari harta yang bermanfaat.
Jika Allah memberi kita kebaikan-kebaikan, maka ketahuilah bahwa semua itu datangnya dari Allah Yang Maha Pemurah, kemudian bergantunglah kepada-Nya, karena hanya Dia yang memberi. Lalu bersenang-senanglah dan bebaskan diri dari perbudakan dengan tidak bergantung kepada selain Allah. Semua kesenangan-kesenangan ini dari karunia Tuhan.

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ

Kemudian berakhlaklah seperti akhlaknya Allah dengan cara berbuat murah kepada semua orang dan membuat orang senang sebagaimana engkau disenangkan oleh Allah.
Disebutkan dalam hadits:

تَخَلَّقُوْا بِأَخْلَاقِ الرَّحْمَنِ

“Berakhlaklah kamu seperti akhlaknya Allah (Yang Maha Penyayang).”
Allah memerintahkan kita agar meniru akhlak-akhlak-Nya (sifat-sifat Jamaliyah), seperti ar-Rahman, ar-Rahim, al-Mu’thi, al-Wahhab, al-Basith. Orang yang membaca sifat Allah Yang Pemurah tetapi tidak berakhlak dengan sifat itu, maka orang itu adalah dholim. Kalau sifat-sifat Jalaliyah Allah, maka Allah melarang untuk ditiru, karena tidak pantas untuk manusia, seperti al-Jabbar (Maha Keras), al-Mutakabbir (Maha Sombong), sebab manusia itu: لَا يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا (tidak memiliki manfaat atau mudharat terhadap dirinya). Maka sifat-sifat Rububiyah (ketuhanan) Allah tidak bisa ditiru oleh manusia.
Jika Allah tidak memberi engkau dengan menyempitkan engkau, maka berarti Allah menunjukkan kekuasaan-Nya kepada engkau, maka engkau merasa takut kepada-Nya kemudian ridha dan menundukkan diri dengan meminta pertolongan kepada-Nya, sebab yang bisa merubah ini semua hanyalah Allah.
Dengan adanya musibah-musibah dan mala petaka itu, seseorang akan menjadi takut kepada Allah, merasa malu, mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah. Dengan sebab ini Allah memuliakannya dan akan berbuat murah kepadanya, lalu menurunkan karunia-Nya yang sesuai dengan kedudukan orang itu dengan ditundukkan hatinya untuk kembali dan beribadah kepada-Nya serta membersihkannya dari dosa. Maka orang tersebut bukan mendapatkan penderitaan, tetapi sebaliknya ia mendapatkan kebahagiaan.
Akan tetapi kita yang berada dalam keadaan senang janganlah menunggu untuk diturunkan penderitaan supaya kembali kepada Allah dan beribadah kepada-Nya.
Orang Arab mengatakan:

اَلْعَبْدُ يُجْزِؤُهُ الْعَصَا وَالْحُرُّ يَكْفِيْهِ الْإِشَارَةُ

“Budak itu perlu dipecat (dicambuk), orang yang merdeka cukup diberi isyarat.”
Kalau orang itu jiwanya merdeka (mulia) maka ia akan beribadah tanpa menunggu datangnya mala petaka, seperti halnya seorang anak cukup dengan isyarat dari bapaknya.
Ibnu ‘Athaillah mengatakan dalam doanya:

اَللّهُمَّ اجْعَلْنِيْ عَبِيْدَ امْتِنَانٍ لَا عَبِيْدَ امْتِحَانٍ

“Ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang Kau beri karunia, bukan hamba-Mu yang Kau beri cobaan.”
Doa-doa seperti ini dibaca ketika kita mendapat karunia atau cobaan.
Diceritakan, ada seorang dari masyaikh, wali min auliya Allah yang selalu diganggu oleh istrinya, namun ia hadapi dengan sabar sehingga akhirnya Allah memberikannya keistimewaan dengan bisa terbang.
Pada suatu hari ketika ia sedang marah dengan istrinya, tak sengaja ia terbang sehingga ia berkata kepada sang istrinya: “Apakah kamu tidak merasa kagum?” “Saya tidak kagum dengan apa yang kamu alami, karena engkau bisa terbang karena aku.” Jawab sang istri.
Kalau orang menjadikan Allah sebagai kekasih-Nya, maka ia akan merasakan bahwa apa yang datang dari Allah semuanya adalah baik, sebagaimana dikatakan:

ضَرْبُ الْحَبِيْبِ زَبِيْب

“Cubitan sang kekasih (manis) seperti kismis.”
Oleh karena itu selayaknya sebagai seorang hamba tidak membedakan apa yang datangnya dari Allah, baik penolakan atau pemberian, karena walaupun tidak mendapatkan keuntungan dunia, tetapi mendapatkan keuntungan akhirat. Jangan sampai kita tenggelam untuk mendapatkan keinginan-keinginan sehingga lupa dengan Allah, bahwa yang memberi dan yang menolak adalah Dia.

اللّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ

”Ya Allah, tidak ada yang bisa mencegah kalau Engkau memberi dan tidak ada yang bisa memberi kalau Engkau mencegah.”
Orang Arab mengatakan:

الّذِيْ لَكَ يَصِلُ إِلَيْكَ

“Apa yang sudah menjadi milikmu pasti akan sampai kepadamu”

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *