Ahli Ibadah Takut Dipuji, Orang ‘Arif Senang Dipuji

Dipuji Orang, Pujilah Allah
Jun 9, 2020
Senang Jika Diberi, Sedih Jika Ditolak
Jun 13, 2020

الزُّهَّادُ اِذَا مُدِحُوْا اِنْقَبَضُوْا لِشُهُوْدِهِمْ الثَّنَاءَ مِنَ الْخَلْقِ وَالْعَارِفُوْنَ اِذَا مُدِحُوْا اِنْبَسَطُوْا لِشُهُوْدِهِمْ ذَلِكَ مِنَ الْمَلِكِ الْحَقِّ

Orang-orang ahli ibadah apabila mereka dipuji, mereka merasa takut karena mereka melihat bahwa pujian itu datang dari makhluk sesamanya.

Namun sebaliknya orang-orang yang Arif bilamana mereka dipuji mereka merasa gembira, karena mereka melihat bahwa pujian itu datang (langsung) dari Allah, Raja Yang Maha Benar

 

ORANG-orang ahli ibadah, orang-orang yang baru melakukan suluk (menempuh) jalan Allah dan para murid manakala mendapat pujian, mereka melihat bahwa pujian itu datang dari makhluk yang sesama mereka sehingga mereka lari dari pujian itu dan merasa takut mereka akan tertipu dengan pujian itu.

Sedangkan orang-orang yang arif merasa senang dan bangga tatkala mereka dipuji oleh orang lain, karena mereka merasa bahwa yang dipuji itu adalah Allah azza wajalla bukan diri mereka sendiri. Mereka merasa bahwa yang ada hanyalah Allah, sedangkan diri mereka lenyap. Sehingga mereka merasakan bahwa yang dipuji hanyalah Allah azza wajalla.

Hal seperti inilah yang juga dirasakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena beliau adalah Sayyidul Arifin (pemimpin orang-orang arif). Beliau merasa senang dan bangga tatkala dipuji oleh sahabat-sahabatnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan kepada Hassan bin Tsabit ketika ia memuji-muji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di hadapan orang-orang Quraisy:

إِنَّ اللهَ يُؤَيِّدُ حَسَّانَ بِرُوْحِ الْقُدُسِ مَا يُفَاخِرُ أَوْ يُنَافِحُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ

“Sesungguhnya Allah menguatkan Hassan dengan malaikat Jibril selama ia membela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi)

Nabi shallallahu alaihi wasallam juga pernah dipuji oleh Ka’ab bin Zuhair tatkala ia datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk menyatakan akan memeluk agama Islam. Ketika itu Ka’ab melantunkan syair di hadapan Nabi shallallahu alaihi wasallam yang berisikan pujian terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam. Di dalam lantunan syair itu disebutkan:

نُبِّئْتُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ أَوْعَدَنِيْ  وَالْعَفْوُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ مَأْمُوْلٌ

إِنَّ الرَّسُوْلَ لَسَيْفٌ يُسْتَضَاءُ بِهِ  مُهَنَّدٌ مِنْ سُيُوْفِ اللهِ مَسْلُوْلٌ

Saya mendengar bahwa Rasulullah mengancam (akan membunuh)ku

Namun maaf di sisi Rasulullah (selalu) aku harapkan

Sesungguhnya Rasulullah benar-benar adalah sebuah pedang yang tajam

dan terhunus dari pedang-pedang Allah yang dijadikan sebagai cahaya

Dari sini dapat diketahui bahwa Nabi menunjukkan kegembiraannya ketika dipuji dan beliau merasa senang dan bangga, sehingga beliau mendoakan Hassan dan memberikan selendangnya kepada Ka’ab bin Zuhair.

Dalam hadits lain Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah memuji dirinya sendiri, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ أَدَمَ وَلَا فَخْرَ

“Aku adalah pemimpin anak Adam, namun aku tidak merasa sombong.” (HR. Tirmidzi Ibn Majah dan Hakim).

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *