Adab Pertama Masuk Hadrah, Jangan Mengubah Ketetapan Allah

Tanda Kekuasaan Allah : Ia Terhijab Dengan Yang Tidak Ada
Sep 8, 2018
Menunda Amal adalah Kebodohan
Sep 13, 2018

مَا تَرَكَ مِنَ الْجَهْلِ شَيْئًا مَنْ أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْوَقْتِ غَيْرَ مَا أَظْهَرَهُ اللهُ فِيْهِ

Hanya orang yang bodoh yang akan meninggalkan pekerjaannya dan merubahnya untuk mencari yang baru.

 

KALAU Allah menetapkan seseorang pada keadaan atau pekerjaan yang tidak dicela oleh agama, maka lazimilah keadaan itu. Janganlah ia memilih pindah kepada keadaan atau pekerjaan yang lain yang tidak dipilih oleh Allah. Itu menyalahi adab kepada Allah. Sungguh sangat bodoh seseorang yang akan mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki Allah. Sebab, pilihan Allah adalah yang terbaik bagi orang tersebut.

Allah Ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ

Menurut tafsir yang umum ma dalam kata ma kana adalah ma nafi. Maka arti dari ayat diatas adalah; “Tuhanmu yang menciptakan apa yang Ia kehendaki dan memilih. Mereka tidak berhak memilih.”

Tetapi ada yang mengartikan bahwa ma dalam ayat itu adalah ma maushul bukan ma nafi. Dengan begitu, arti ayat diatas adalah ; “Tuhanmu yang menciptakan apa yang Ia kehendaki dan memilih apa yang terbaik bagi mereka.”

Di dalam fasal lain ada keterangan, “Tidak ada suatu saat yang berjalan melainkan di situ ada takdir Allah yang dilaksanakan.”

Allah Ta’ala berfirman:

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Setiap saat Dia dalam urusan.” (QS. Ar-Rahman: 29)

Dalam setiap saat Allah dalam urusan, seperti menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan, melapangkan, menyempitkan, mengangkat, menurunkan dan sebagainya.

Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan rela hati kepada hukum ketentuan Allah pada setiap waktu, sebab ia harus percaya dengan rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan Allah.

Abu Utsman berkata: “Selama empat puluh tahun Allah tidak menetapkan padaku suatu kedudukan lalu aku tidak suka dan tidak memindahkan aku kepada yang lain lalu aku benci.” Ungkapan Abu Utsman ini menyatakan bahwa ia selalu rela dengan apa yang ditentukan Allah kepadanya.

Kisah Ibnu Athaillah dengan gurunya Abul Abbas Al-Mursi sangat penting untuk direnungkan. Ibnu Athaillah bercerita;

Pada suatu hari aku masuk kepada guruku Abul Abbas Al-Mursi. Di hatiku ada tekad untuk tajrid. Aku berkata dalam hatiku, “Untuk sampai kepada Allah harus jauh dari kesibukan dengan ilmu dhahir dan bergaul dengan manusia.”

Tanpa aku bertanya kepadanya, guruku berkata kepadaku, “Dulu ada seseorang yang berteman denganku. Ia sibuk dengan ilmu dhahir dan ahli dalam bidang itu. Lalu ia merasakan tharekat ini. Orang itu datang kepadaku dan berkata, “Aku akan tinggalkan pekerjaanku dan aku akan melulu berkhidmah kepadamu.”Maka aku katakan kepadanya, “Bukan itu yang harus engkau lakukan. Tetapi tetapilah pekerjaanmu dan apa yang diberikan Allah kepadaku pasti akan sampai kepadamu.”

Abul Abbas Al-Mursi memandangku dan berkata, “Begitulah keadaan para Shiddiqin yang sungguh-sungguh. Mereka tidak keluar dari sesuatu kecuali Allah yang mengeluarkannya.”

Aku keluar dari sisi guruku dan Allah telah membersihkan lintasan-lintasan hatiku dan aku dapatkan dalam hatiku rasa pasrah penuh kepada Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *