Diberi Warid Agar Bisa Masuk Ke Hadirat-Nya

Melupakan Amal Kebaikan
Jan 20, 2019
Diberi Warid Agar Lepas dari Kurungan Diri
Jan 28, 2019

 إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُوْنَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا

Sesungguhnya Allah mendatangkan warid (kurnia dalam hati) kepadamu semata-mata agar engkau dapat mendekat dan masuk ke hadirat-Nya.

 

WARID adalah cahaya ilahi yang diturunkan oleh Allah kepada hati hamba yang dicintainya. Pertama kali yang datang di hati adalah Nur Hidayah. Bila Nur Hidayah ini masuk ke dalam hati, maka bisa merubah perilaku seseorang dan mendorongnya untuk giat beribadah dan bersemangat melakukan amal taat dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.

Al-Bushiri mengatakan dalam Hamziahnya:

وَاِذَا حَلَّتِ الْهِدَايَةُ قَلْبًا  نَشِطَتْ لِلْعِبَادَةِ الْأَعْضَاءُ

Apabila hidayat sudah turun di hati

Maka seluruh tubuh giat beribadah

Dengan Nur Hidayah ini Allah membimbing hamba-Nya untuk mendekat kepada-Nya. Sebab, dengan Nur Hidayah ini seseorang bisa melakukan ibadah dengan ringan dan suka hati yang menjadikannya bisa beristiqamah dan terus mendekat kepada Allah dan bisa masuk ke hadirat-Nya, sehingga orang itu pantas menjadi Ahli Hadrah. Sebab, Hadrah Ilahi itu adalah tempat yang suci yang tidak pantas duduk di sana kecuali hati yang suci pula.

 

Warid Turun Sebab Wirid

Warid bisa turun melalui sebab wirid. Wirid adalah amal ibadah yang dilakukan secara istiqamah seperti baca Al-Qur’an, mengaji ilmu, shalat sunnah atau lainnya. Setiap wirid mengandung warid sendiri. Kapan orang banyak melakukan wirid, maka banyak pula warid yang turun.

Misalnya, seseorang yang menghadiri majlis ilmu, maka ia akan dituruni berbagai warid sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa majlis ilmu itu diliputi oleh malaikat dan dituruni sakinah dan rahmat.

Seseorang yang tidak punya wirid maka tidak ada warid yang turun di hatinya. Hatinya kosong tidak berisi cahaya.

Sebagian orang arif berkata,

اَلْوَارِدَاتُ مِنْ حَيْثُ الْأَوْرَادُ فَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وِرْدٌ فِيْ ظَاهِرِهِ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَارِدٌ فِيْ سَرَائِرِهِ

“Waridat itu sebab wirid. Maka yang siapa tidak punya wirid pada dhahirnya maka ia tidak punya warid di dalam batinnya.”

Sangat rugi orang yang tidak punya wirid. Hidupnya sia-sia. Malah ia disebut oleh Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf sama seperti seekor monyet yang berloncatan ke sana ke mari. Beliau berkata;

مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وِرْدٌ فَهُوَ قِرْدٌ

“Orang yang tidak punya wirid adalah monyet.”

Oleh karena itu, maka penting bagi seseorang untuk mempunyai wirid. Waktunya dihidupkan dengan banyak melakukan aurad, baik berupa bacaan atau perbuatan. Beraneka macam bentuk ibadah disiapkan oleh Allah agar manusia tidak jemu dan bisa istiqamah melakukan ibadah. Maka jangan sampai dalam sehari itu ia lepas dari wirid agar hatinya dituruni cahaya dan hidupnya menjadi tenang.

Allah berfirman mengenai cahaya yang turun di hati:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Dialah yang menurunkan sakinah (ketenangan) di hati orang-orang yang beriman untuk menambah iman disamping iman mereka” (QS. Al-Fath: 4)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *