Melupakan Amal Kebaikan

Dosa Kecil dan Besar Di sisi Allah
Jan 16, 2019
Diberi Warid Agar Bisa Masuk Ke Hadirat-Nya
Jan 24, 2019

لَا عَمَلَ أَرْجَى لِلْقَبُوْلِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيْبُ عَنْكَ شُهُوْدُهُ وَيَحْتَقِرُ عِنْدَكَ وُجُوْدُهُ

Tiada suatu amal yang diharapkan diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala melebihi amal yang terlupa olehmu adanya amal itu, dan remeh atau kecil di dalam pandanganmu terjadinya amal itu.

 

MAKSUDNYA amal yang pasti diterima oleh Allah adalah amal yang engkau lakukan semata-mata karena Allah dan mencari ridho-Nya, tidak kecampuran yang lain. Dan kita mengakui bahwa yang menggerakkan untuk beramal itu adalah Allah.

Semua itu berkat petunjuk, pertolongan dan taufiq-Nya. Karena manusia itu tidak memiliki apa-apa. Semuanya milik Allah. Yang menggerakkan untuk beramal saleh juga Allah. Waktu kita beramal kita harus merasa bahwa amal itu dari Allah dan untuk Allah. Kita tidak berhak menuntut pahala, karena semuanya datangnya dari Allah.

Kalau ingin amal kita diterima, maka janganlah melihat amal itu. Hilangkan dan lupakan. Seakan-akan engkau belum melakukan amal tersebut.

Orang Jeddah mengatakan:

اِعْمَلِ الْخَيْرَ وَارْمِ فِيْ الْبَحْرِ

“Berbuatlah amal kebaikan dan buanglah di laut”

Bila amal itu dilupakan, maka pelakunya akan bertambah semangat menambah amal baik. Ia akan giat beribadah karena dia merasa tidak pernah melakukan kebaikan. Ini menunjukkan bahwa ia betul-betul ikhlas mengharap ridho Allah.

Mengingat amal itu berbahaya. Karena akan menimbulkan ujub. Dan Ujub itu adalah dosa yang besar. Bahkan lebih baik berdosa daripada ujub. Orang yang berdosa dan bertobat kepada Allah itu lebih baik daripada orang yang banyak melakukan ketaatan tetapi ujub. Sebab orang yang ujub itu merasa besar diri, tidak membutuhkan Allah. Ini tidak disukai Allah. Sedangkan orang yang berdosa itu merasa rendah diri. Malahan ia tertarik untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan ini disukai Allah.

Jika seseorang mengingat-ingat amal kebaikannya, merasa baik dan suci maka tak ada harapan amal itu diterima disisi Allah.

Padahal Allah Ta’ala berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Jangan kamu menganggap dirimu itu suci, Allah Maha Mengetahui siapa yang bertakwa.” (Q.S. An-Najm: 32)

Allah hanyalah menerima amal dari orang-orang yang bertakwa, sesuai dengan firman Allah:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Hati yang bersih dari mengingat amal dan membesar-besarkannya adalah hati orang yang bertakwa.” (QS Al-Maidah: 27)

Begitupula dari tanda amal itu diterima, orang yang beramal itu tidak menggantungkan dirinya pada amalnya. Tetapi ia menggantungkan diri pada Dzat yang memberinya petunjuk untuk melakukan amal tersebut. Dzat itu adalah Allah.

Ketika kita membaca surat Al-Fatihah, kita mulai dengan menyatakan bahwa segala pujian itu milik Allah semata. الحمد لله رب العالمين jadi, yang berhak dipuji itu hanya Allah saja, kita tidak punya apa-apa. Di saat kita membaca إياك نعبد وإياك نستعين Yang artinya: Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepadamu kami minta pertolongan, karena kami tidak bisa menyembah-Mu tanpa pertolongan-Mu, maka kita mengakui bahwa segala amal ibadah kita ini dari pertolongan Allah subhanahu wa ta ‘ala.

Ini juga yang dimaksud dengan doa Nabi yang berbunyi :

اَللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah yang baik pada-Mu.”

Doa ini diajarkan oleh Nabi untuk dibaca setiap selesai sholat maktubah agar kita tidak bangga dengan amal kebaikan dan tidak mengingat amal itu. Hadits ini memberi peringatan pada kita bahwa orang bisa berdzikir, bisa bersyukur dan beribadah dengan baik berkat pertolongan dan taufiq dari Allah semata.

Arti ini juga terkandung dalam لا حول ولا قوة الا بالله yang dianjurkan dibaca seratus kali dalam sehari. Artinya lengkapnya ;

لَا حَوْلَ لِطَاعَةِ اللهِ وَلَا قُوَّةَ لِدَفْعِ الْمَعْصِيَةِ إِلَّا بِاللهِ

“Tidak ada daya upaya untuk melakukan amal taat dan tidak ada kekuatan untuk menolak maksiat, kecuali dengan bantuan Allah.”

Dengan ini kita mengerti bahwa orang yang melakukan amal kebaikan dan orang yang terhindar dari maksiat itu sudah kedahuluan rahmat pertolongan Allah. Maka bersyukurlah. Sebaliknya orang yang bermaksiat dan orang yang melakukan maksiat, seperti pacaran, berarti ia tidak mendapat pertolongan Allah. Maka beristigfarlah.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata:

مَا احْتَسَنْتُ لِنَفْسِيْ عَمَلًا فَاحْتَسِبْتُهُ

“Aku tidak pernah menganggap amalku baik sehingga aku mengharap pahala dari Allah.”

Begitulah para sufi selalu khawatir dan curiga terhadap dirinya. Mereka rendah hati dan tidak menoleh kepada amalnya. Mereka selalu waspada dan menjelekkan diri mereka sendiri. Mereka selalu khawatir amalnya tidak diterima di sisi Allah.

Syeikh Abu Bakar bin Salim, tokoh besar Ba Alawi, mengatakan:

مَنْ نَظَرَ اِلَى نَفْسِهِ بِعَيْنِ الرِّضَا نَظَرَ اللهُ اِلَيْهِ بِعَيْنِ السُّخْطِ, وَمَنْ نَظَرَ اِلَى نَفْسِهِ بِعَيْنِ السُّخْطِ نَظَرَ اللهُ اِلَيْهِ بِعَيْنِ الرِّضَا

“Siapa yang melihat dirinya dengan penglihatan ridho, maka Allah melihatnya dengan penglihatan kebencian. Dan barang siapa melihat dirinya dengan mata kebencian, maka Allah melihatnya dengan penglihatan ridho.”

Maksudnya, Allah ridho dengan orang yang selalu waspada dan curiga kepada dirinya. Sedangkan orang yang puas dengan dirinya, merasa baik, maka Allah membencinya.

Nabi Yusuf yang maksum pun masih curiga dengan dirinya. Ia berkata:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Aku tidak membebaskan nafsuku, sesungguhnya nafsu itu suka menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang dirahmati Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun dan Maha Penyayang. (QS. Yusuf: 53)

Rasa khawatir akan tidak diterimanya amal disebut dalam Al-Qur’an sebagai sifat orang-orang baik.

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (QS. Al Mukminun: 60)

Aisyah bertanya kepada Nabi mengenai maksud ayat ini.

“ Ya Rasulullah, apakah mereka itu berzina, mencuri dan minum khamr ?”

Rasulullah menjawab:

لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ تُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

“Bukan, wahai putri Abu Bakar As-Shiddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah. Namun mereka takut amal mereka tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang bergegas melakukan kebaikan.” (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah)

Ali bin Husein berkata: “Setiap amal yang kau lakukan dan kau masih melihatnya (mengingatnya) maka itu tanda amal tersebut tidak diterima. Karena amal yang diterima itu terangkat dan kau tidak bisa melihatnya. Sedangkan amal yang tidak kau lihat itu tanda amal itu diterima.”

Allah Ta’ala berfirman:

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya kata-kata baik itu naik. Dan amal sholeh diangkatnya.” (QS. Fathir:10)

Beberapa wali melihat batu-batu yang dilempar oleh jamaah haji ketika melempar jamrah beterbangan ke atas. Batu-batu itu tidak jatuh ke tanah, bahkan terangkat ke langit. Bukan hanya amal sholehnya yang terangkat, tetapi batunya ikut terangkat ke atas.

Kesimpulannya, marilah kita belajar melupakan amal kita dangan cara selalu curiga dengan nafsu, merasa kurang dan takut tidak diterima oleh Allah.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *