Dosa Kecil dan Besar Di sisi Allah

Walau Dosa Menumpuk, Tetaplah Bersangka Baik Kepada Allah
Jan 12, 2019
Melupakan Amal Kebaikan
Jan 20, 2019

لَا صَغِيْرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ وَلَا كَبِيْرَةَ إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ

Tiada dosa kecil jika dihadapkan dengan keadilan Allah, dan dosa itu tidak besar jika dihadapkan dengan karunia atau kemurahanNya.

 

SETELAH menerangkan bahwa dosa itu tidak boleh dibesar-besarkan, sebab orang yang merasa kebesaran dosa dikhawatirkan ia berputus asa, sehingga ia bersangka buruk pada Allah, di dalam kata hikmah ini beliau menerangkan bahwa dosa kecil dan dosa besar itu di sisi Allah bukan menurut dhohirnya hukum di dunia.

Di dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا كَبِيْرَةَ مَعَ الْإِسْتِغْفَارِ وَلَا صَغِيْرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ

“Tidak berarti dosa itu besar, jika disertai dengan istighfar. Dan dosa itu tidak boleh dianggap kecil, apabila dikerjakan secara terus menerus.”

Dosa kecil adalah perbuatan jahat yang tidak diancam di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Sedangkan dosa besar adalah perbuatan jahat yang ada ancaman di dalam Al-Qur’an dan Hadits, serta ada hukumannya di dunia. Seperti mencuri, hukumannya potong tangan, orang berzina dicambuk dan lain-lain. Namun semua itu hanya menurut dhohirnya hukum syariat yang ditegakkan di bumi ini. Tetapi, semua itu berbeda bila di sisi Allah. Bisa terjadi sebaliknya dan tidak sama dengan hukum di dunia, seperti apa yang dikatakan oleh Ibnu Athaillah di atas.

Allah Ta’ala berfirman:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

“Dan tampaklah bagi mereka siksa dari Allah sesuatu yang tidak mereka sangka.” (QS. Az-Zumar: 47)

Jadi manusia ini nanti seperti tertipu. Tiba-tiba di sisi Allah itu lain, tidak seperti apa yang kita duga. Sehingga dosa yang kita anggap kecil ternyata dosa itu besar dan dosa yang kita anggap besar ternyata kecil. Amal kecil yang kita lakukan ternyata besar di sisi Allah serta amal besar yang kita lakukan ternyata menjadi dosa disisi Allah.

Contohnya, amal yang dicampuri rasa ujub. Oleh pelakunya disangka amalnya itu baik, sedangkan di sisi Allah itu tidak ada artinya seperti gombal yang rusak kemudian di lempar Allah ke wajah orang itu. Juga amal yang dicampuri kesombongan, pada dhohirnya di dunia ini seperti pahala, nyatanya menjadi dosa di akhirat.

Adakalanya amal kecil yang kita lakukan di sisi Allah besar dan menyenangkan seperti yang difirmankan Allah:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. As-Sajadah: 17)

Ada amal-amal sholeh yang pahalanya disimpan oleh Allah yang tidak ditunjukkan sekarang, tetapi nanti pada waktu mati, sebagai kejutan supaya orang itu benar-benar senang. Oleh sebab itu jangan meremehkan amal-amal yang sholeh walaupun sedikit, barangkali nanti menguntungkan dan dibesarkan oleh Allah. Begitu pula jangan meremehkan dosa, kadang dosa kecil itu di sisi Allah besar.

Kita semua tidak tahu apakah kita ini termasuk orang yang didahului catatan baik atau سبقت لهم الحسنى dan ahlul inayah atau bukan. Kalau termasuk orang yang didahului suratan takdir baik, mendapat inayah dari Allah maka segala amal maksiatnya tidak berbahaya. Ia pasti berakhir dengan khusnul khotimah.

فَمَنْ سَبَقَتْ لَهُ الْعِنَايَةُ لَا تَضُرُّهُ الْجِنَايَة

“Siapa yang didahului oleh taufiq dan hidayah Allah, maka perbuatan yang jahat tidak bermudharat padanya.”

Hal ini seperti yang terjadi pada seorang kuli di Pasuruan. Ia dipanggil pak Timbul. Ia tak pernah sholat dan puasa. Cuma ia baik hati terhadap anak-anak kecil. Kalau ada anak kecil, ia suka mencium kakinya. Ia sering dinasehati orang agar sholat, tetapi ia tidak mau. Namun pada akhir umurnya, tanpa ada sakit, ia mengajak temannya ke rumahnya. Ia minta diajari shalat dan baca syahadat. Temannya menyangka Timbul cuma bergurau.

“ Benar, ajari aku shalat,” paksanya kepada temannya.

Akhirnya sang teman mau. Mereka berdua pergi ke rumah Pak Timbul. Ia mengambil wudhu, memakai baju kemudian ia berbaring menghadap kiblat, melipatkan tangannya ke dada.

“Ayo! sekarang mulai ajari saya syahadat,” katanya kepada temannya. Lalu temannya mulai mengucapkan kalimat syahadat. Timbul menirukannya.

“اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا رسول الله”

ucap Timbul menirukan temannya itu. Selesai mengucapkan syahadat, Timbul langsung meninggal. Akhirnya dia meninggal husnul khotimah. Kata Nabi, Orang yang mati mengucapkan syahadat pasti masuk surga. Seandainya dia tidak punya amal, syahadat itu merupakan amal besar bagi dia. Imam Nawawi mengatakan, dua kalimat syahadat itu kalau diucapkan di akhir umur pahalanya sangat besar sekali dan tidak ada balasan yang pantas kecuali surga.

Maka dari itu kita tidak boleh menghina orang yang bermaksiat. Namun kita, secara dhohir, harus menasehatinya dan membimbingnya ke jalan Allah. Karena kita tidak tahu akhir dari pejalanan hidup kita, maka kita tidak berbuat segala yang kita kehendaki. Kita harus lebih berhati-hati, jangan-jangan perbuatan dosa yang kita lakukan adalah tanda bahwa kita akan masuk neraka.

Sedangkan amal taat adalah tanda bahwa pelakunya min ahlil jannah.

Yahya bin Mu’adz mengatakan:

إِنْ وَضَعَ عَلَيْهِمْ عَدْلَهُ لَمْ يَبْقَ لَهُمْ حَسَنَةٌ وَإِنْ وَضَعَ عَلَيْهِمْ فَضْلَهُ لَمْ يَبْقَ لَهُمْ سَيِّئَةٌ

“Kalau Allah menggunakan keadilan-Nya, maka tidak tersisa kebaikan mereka. Tetapi jika orang itu dihadapi Allah dengan karunia-Nya maka tidak tersisa pada mereka satu dosa pun”.

Kalau Allah menuntut keadilan kepada kita, maka habislah amal kebaikan kita. Semua amal kita tidak ada artinya. Dituntut saja dengan satu kenikmatan, misalnya kenikmatan mata, pasti amal kita akan habis.

Seperti cerita seorang Bani Israel yang menyembah Allah selama lima ratus tahun. Ia tidak pemah maksiat dan mengasingkan diri dari dosa. Ia mempunyai kebun yang besar dan hidup dengan makan buah-buahannya. Ia minum susu yang ia perah sendiri. Ia hidup dengan enak hingga bisa beribadah sampai lima ratus tahun lamanya. Kemudian dia meninggal. Setelah meninggal ia ingin masuk surga, ia berkata:

“Saya ingin masuk surga karena saya sudah lelah beribadah, saya ingin merasakan hasil ibadah saya.”

Maka kata Allah:

“Kamu ingin masuk surga karena amalmu? Jangan dulu, mari kita adakan perhitungan dulu! Kita mulai dengan mata saja. Berapa banyak kenikmatan mata yang kuberikan padamu?”

Hamba itu menjawab ;

“0h banyak sekali ya Allah, saya bisa melihat, mambaca, mangaji, bisa menanam, memerah susu.”

Allah berkata lagi:

“Bagaimana kalau Aku ambil nikmat matamu ketika itu!, Mata saja kamu tidak bisa mensyukuri apa lagi yang lain. Kamu tahu siapa yang memberi rezeki kepadamu sehingga kamu dapat beribadah selama lima ratus tahun?”

Hamba itu menjawab: “Engkau Ya Allah !”

“Kalau begitu kamu tidak berbuat apa-apa. Semua itu dari Aku,” kata Allah.

Allah berkata lagi: “Apakah kamu ingin masuk surga dengan amalmu ?”

“ Tidak Ya Allah, aku ingin masuk surga dengan rahmat-Mu.”

Akhirnya orang itu masuk surga dengan rahmat Allah. Bukan dengan ibadahnya selama lima ratus tahun.

Semua ini menunjukan kebesaran Allah, Allah Maha Mulia, Maha Memberi, tidak bisa ditanyakan apa yang diperbuat oleh Allah, tetapi kitalah yang ditanya.

Mu’adz bin Yahya pernah berdoa:

إِلَهِيْ اِنْ اَحْبَبْتَنِيْ غَفَرْتَ سَيِّئَاتِيْ وَاِنْ مَقَّتَّنِيْ لَمْ تَقْبَلْ حَسَنَاتِيْ

“Wahai Tuhanku, kalau Engkau mencintaiku, maka Engkau pasti akan mengampuni kesalahanku. Tetapi jika Engkau membenciku, pasti Engkau tidak akan menerima kebaikanku.”

Apabila Allah mencintai seorang hambanya, perbuatan dosanya akan Ia ampuni. Kalau Allah sudah membenci seseorang, walaupun ia berbuat kebaikan, maka perbuatan baiknya tidak diterima oleh Allah. Allah mengampuni hambanya itu atas dasar cinta. Tentu saja maafnya Allah ini dengan sebab, yaitu karena ia bertaubat kepada Allah. Allah menggerakkan hatinya untuk bertaubat karena Allah cinta pada hamba-Nya itu. Orang-orang yang bermaksiat dan kemudian bertaubat, itu tanda Allah mencintai mereka.

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah itu suka orang yang bertaubat dan orang yang mau bersuci.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Asal orang itu mau dekat pada Allah, dan mau bersuci, maka Allah cinta kepadanya.

Tetapi sebaliknya, orang yang rajin bangun malam, ibadahnya banyak, pergi haji beberapa kali, tetapi dibenci Allah. Kenapa dibenci Allah? Wallahu a’lam, tetapi bisa kita raba, dibenci barangkali karena semua amalnya bukan karena Allah. Dia punya rasa bangga diri, ujub dan merasa dirinya besar, sehingga tidak butuh kepada Allah. Allah itu membenci orang yang sombong, karena sifat sombong hanya milik Allah. Maka amal orang ini, walaupun banyak, tidak diterima oleh Allah.

Alangkah bagusnya do’a nya Sayyidi Abul Hasan As-Syadzili dalam munajatnya. “Ya! Allah, jadikanlah kejelekan kami ini kejelekan orang yang engkau cintai, jangan engkau jadikan kebaikan kami ini kebaikan orang yang engkau benci.”

Kebaikan orang yang dibenci adalah melakukan amal ibadah dan meninggalkan maksiat, tetapi disertai ujub. Ia merasa orang yang paling bersih, orang yang baik, ahli surga. Sayyidi Abul Hasan tidak mau mempunyai amal kebaikan yang bercampur dengan rasa ujub. Tetapi beliau minta kejelekannya dijadikan kejelekan yang dicintai Allah. Maksudnya, kadang kala orang yang berbuat dosa kepada Allah itu hatinya masih mengharap Allah, rendah diri, mengakui dosa serta mau bertobat. Pada hakikatnya orang ini dicintai Allah. Sebaliknya, orang yang taat beribadah tetapi dengan ujub adalah orang yang dibenci Allah.

Dosa ujub itu sangat besar, lebih besar dari dosanya orang-orang ahli maksiat. Lebih baik dia berdosa besar dari pada ‘ujub.

Sampai ada hadits Rasulullah yang mengatakan:

لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْ ذَلِكَ، وَهُوَ الْعُجْبُ . رواه ابن حبان والبزار

“Seandainya kalian tidak berdosa pasti aku khawatir, sebab ada yang lebih besar dari dosa itu, yaitu ujub.”

Nabi tidak khawatir kita berdosa, sebab Nabi bisa memberi syafa’at, asal orang itu beriman kepada Allah, merasa miskin di sisi Allah, merasa punya Tuhan. Tetapi Nabi lebih khawatir dari dosa, yaitu ‘ujub’. Sebab orang ujub itu sombong, merasa amalnya bisa memasukanya ke dalam surga, merasa dirinya lebih mulia daripada orang lain.

Padahal Al-Qur’an mengatakan:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Jangan kamu menganggap dirimu itu suci, Allah Maha Mengetahui siapa yang bertakwa.” (Q.S. An-Najm: 32)

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *