Walau Dosa Menumpuk, Tetaplah Bersangka Baik Kepada Allah

Tanda Hati Mati
Jan 9, 2019
Dosa Kecil dan Besar Di sisi Allah
Jan 16, 2019

لَا يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عَظَمَةً تَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اِسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبُهُ

Dosamu itu janganlah dibesar-besarkan sehingga akan merintangimu dari bersangka baik terhadap Allah. Karena orang yang mengenal Allah akan menganggap kecil dosanya kalau dibanding dengan luasnya kemurahan Allah subhanahu wa ta ‘ala.

 

DUNIA adalah tempat dosa. Setiap manusia pasti tidak luput dari dosa. Tidak ada yang selamat dari dosa kecuali Rasulullah. Habib Abu Bakar Al-Adeny menyatakan bahwa dunia ini adalah tempat dosa dan pasti tidak ada orang yang selamat dari dosa selama di dunia itu. Orang yang ada di dunia ini pasti terkena najis, tapi yang penting kalau terkena najis kita berusaha untuk membersihkannya.

Seorang mukmin tidak boleh meremehkan dosa. Harus ada rasa takut dan khawatir terhadap dosa yang ia lakukan. Ada hadits Nabi diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ لَهُ: هَكَذَا فَطَارَ

“Sesungguhnya orang yang beriman itu melihat dosanya seakan-akan dia itu duduk di bawah gunung dan dia takut gunung itu akan roboh yang akan menjatuhi dia, sebaliknya orang yang durjana, dia memandang dosanya seperti seekor lalat yang menempel di hidungnya kemudian ia mengusirnya dengan tangannya.” (H.R. Bukhari, Ahmad, Turmudzi)

Akan tetapi jangan sampai rasa takutnya itu menghilangkan harapannya kepada Allah sehingga mengakibatkan dia bersangka buruk kepada Allah, bahwa Allah tidak akan mengampuni dosanya. Walaupun begitu besar dosa yang ia lakukan, tapi jangan sampai berlebihan. Harus ada harapan, ada khouf dan ada roja’. Tetap takut kepada Allah, tapi juga ada harapan kepada Allah. Sebesar apapun dosa yang diperbuat, tetapi maaf Allah lebih besar dari dosa kita itu. Maka orang yang berdosa, kembalilah kepada Allah. Mintalah ampun kepada Allah, niscaya Allah memberi ampun. Janganlah kamu putus asa, karena putus asa dari mendapat ampunan Allah bukan sifat orang mukmin. Itu sifat orang kafir.

Sebenarnya, seseorang yang berdosa itu harus kembali untuk mengenal Allah Yang Maha Mengampuni dosa. Seperti apa yang dilantunkan oleh Abu Nawas, yang artinya: “Ya Allah, aku ini tidak pantas Engkau masukkan surga-Mu, dan aku tidak kuat kalau Engkau masukkan neraka-Mu, maka ampunilah dosaku, sebab Engkaulah yang mengampuni dosa yang besar.”

Orang yang melakukan dosa besar itu ada dua macam:

Pertama: Seorang mempunyai dosa besar, tetapi perasaannya terhadap dosa besar tersebut mendorongnya untuk bertaubat kepada Allah, sehingga ia berhenti dari perbuatan dosa tersebut, dengan bertaubat yang sungguh-sungguh dan berjanji tidak akan melakukan maksiat itu lagi. Maka perasaan seperti inilah yang terpuji.

Kedua: Seseorang berdosa besar tetapi dosa tersebut mendorongnya untuk putus asa pada Allah dan menjadikan dia bersangka jelek kepada Allah. Ia menduga bahwa Allah tidak bisa mengampuninya. Akhirnya orang ini semakin bertambah dosanya. Ia tidak menghapus dosa yang ia lakukan, dan malah prasangkanya yang jelek terhadap Allah tersebut lebih besar dosanya dari pada perbuatan maksiatnya kepada Allah sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa orang ini tidak mengenal Allah.

Oleh karena itu, janganlah berputus asa walaupun begitu besar dosa yang telah kamu lakukan. Di dalam dirimu harus tetap ada harapan bahwa Allah Maha Mengampuni segala dosamu.

 

Allah Maha Pengampun

Dalam al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah wahai Muhammad, wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az-Zumar: 53)

Ayat ini membawa kabar gembira bagi orang-orang yang sudah kenyang dengan maksiat, bahwa mereka masih diterima untuk dekat di sisi-Nya. Oleh karena itu, janganlah berputus asa. Jangan sampai dosa yang besar dapat menghalangi diri untuk bertaubat kepada Allah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِخَلْقٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, andaikan kalian tidak berdosa maka Allah akan mematikan kalian semuanya, lalu Allah akan mendatangkan suatu golongan yang berdosa kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah mengampuni mereka.”

 

Adanya dosa merupakan sebuah hikmah ilahiyyah agar sifat Allah Al-Ghofur Ar-Rouf (Maha Pengampun dan Maha Penyayang) tampak pada manusia. Andai tidak ada orang yang berdosa, maka sifat pengampun dan kasih sayang Allah tersebut tidak tampak pada manusia.

Salah satu hikmah dari timbulnya dosa ialah orang yang berbuat maksiat itu akan merasa hina di sisi Allah. Dan Allah senang dengan orang-orang yang merasa miskin dan hina di hadapan-Nya. Sebaliknya, Allah tidak suka orang yang beribadah banyak dan hatinya sombong dan ujub dengan ibadahnya.

Seorang yang berdosa janganlah merasa putus asa dari rahmat Allah, sebab rahmat Allah lebih pantas diterima oleh orang-orang yang lemah. Imam Bushiri mengatakan :

صَاحِ لَا تَأْسَ إِنْ ضَعُفْتَ عَنِ الطَّا

عَةِ وَاسْتَأْثَرْتَ بِـهَا الْأَقْوِيَاء

إِن للهِ رَحْـمَةً وَأَحَقُّ النَّا

سِ مِنْهُ بِالرَّحْـمَةِ الضُّـعَـفَـاءُ

Temanku, jangan sedih bila engkau lemah dari melakukan ketaatan

Dan amal taat itu dimonopoli oleh orang-orang yang kuat

Sebab Allah itu punya rahmat pada hamba-Nya

Dan orang yang pantas menerimanya adalah orang-orang yang lemah

Nabi juga menyatakan tentang orang yang berdosa dari umatnya bahwa merekalah yang berhak untuk mendapat syafa’at Nabi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنَ أُمَّتِي

“Syafa’atku (kata Nabi Muhammad) untuk orang-orang yang berdosa besar dari umatku.” (H.R. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Abu Dawud)

Jadi yang berhak mendapatkan syafa’at Nabi bukan untuk orang yang berdosa kecil, malah untuk orang-orang berdosa besar. Sebab orang yang berdosa kecil yang dosanya tidak mengalahkan amal kebaikannya, atau orang yang lebih banyak kebaikannya daripada kejelekannya, maka akan dimasukkan surga tanpa hisab.

Diceritakan bahwa nanti Nabi masuk surga dulu, kemudian keluar dari surga untuk memberi syafa’at bagi orang-orang yang masih dihisab dan masih belum selesai urusannya. Ada riwayat yang mengatakan bahwa orang yang pertama masuk surga adalah Nabi kemudian Fatimah Az-Zahra. Inilah keistimewaan Sayyidah Fatimah karena beliau orang yang paling sabar di dunia ini dan menyaksikan wafatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Diriwayatkan bahwa syafa’at Nabi diberikan kepada orang yang sudah kering sampai menjadi arang di api neraka. Allah berkata kepada Malaikat, “Barang siapa yang ada di hatinya sekecil apapun dari iman, maka masukkanlah dia ke dalam surga”. Maka keluarkanlah dari neraka orang yang belum pernah berbuat kebaikan, kecuali syahadat saja. Dosanya sangat banyak. Itulah orang yang terakhir disyafa’ati Nabi. Kemudian orang itu dimasukkan ke dalam kolam yang namanya Ma’ul Hayah (air kehidupan). Tubuhnya mengembang kembali dan menjadi putih bersih. Kemudian ia dimasukkan ke dalam surga.

Ada satu orang bertanya kepada Ustadz Abul Hasan. Ia mengatakan, “Tadi malam di sekitar kami banyak terjadi kemungkaran.”

Abul Hasan berkata: “ Seakan-akan maksudmu kamu ingin Allah itu tidak dilanggar di kerajaan-Nya ini. Barangsiapa ingin Allah tidak dilanggar oleh manusia berarti dia tidak ingin Allah menampakkan ampunan-Nya dan tidak ingin ada syafa’at Rasulullah. Banyak sekali orang yang berdosa mendapat rahmat dari Tuhannya dan Allah mengasihinya.”

Walhasil, tetaplah bersangka baik kepada Allah, walaupun dosamu begitu besar.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *