Berdzikir Dalam Keadaan Apapun
Jan 4, 2019
Walau Dosa Menumpuk, Tetaplah Bersangka Baik Kepada Allah
Jan 12, 2019

مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْـحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْـمُوَافَقَاتِ وَتَرْكُ النَّدْمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلَّاتِ

Sebagian tanda kematian hati itu jika tidak sedih, tidak merasa susah apabila ketinggalan amal-amal baik, dan tidak menyesal apabila melakukan pelanggaran-pelanggaran dosa.

 

KALAU ada orang yang ketinggalan kewajiban-kewajiban atau meninggalkan amal-amal kebaikan, namun dia tidak merasa susah dan sedih, dan apabila dia melakukan maksiat dalam hatinya tidak ada penyesalan, ini sebuah tanda bahwa hatinya mati dan tidak berfungsi.

Di dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ، وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Siapa yang merasa gembira apabila melakukan kebaikan dan merasa susah apabila melakukan dosa, maka dia seorang yang beriman.”

Jadi, orang yang beriman itu kalau melakukan amal kebaikan seperti bershodaqoh, sholat, mengaji dan beramal saleh dia merasa gembira. Kalau dia berbuat pelanggaran atau kesalahan dia merasa susah. Dia merasa tidak enak dan hatinya gelisah. Inilah tanda orang yang beriman kepada Allah.

Hadits diatas bisa dicocokan dan disesuaikan dengan hati kita. Tinggal hadits itu kita hadapkan pada diri kita sendiri. Apakah hati kita seperti itu ? kalau memang hati kita begitu, berarti kita orang yang beriman. Kalau tidak, berarti kita munafiq dalam arti masih ada sifat nifaq di hati kita.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, ia berkata:

“Ketika kami sedang duduk-duduk di majelis Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seseorang datang. Orang itu mengikat untanya, kemudian masuk ke majelis Rasulullah dan berjalan ke arah Rasulullah. Sesampainya di hadapan Nabi orang itu berkata:

“Ya Rasulullah, untaku sudah saya kendarai selama sembilan hari dan saya kendarai lagi selama enam hari, aku tidak tidur malam dan berpuasa di siang hari sehingga kendaraanku menjadi payah. Semua itu aku lakukan hanya untuk menanyakan dua masalah.”

Kemudian Nabi berkata kepada laki-laki tersebut:

“ Siapa engkau ?”

“ Saya Zaid kuda (Zaid Al-Khoil),” jawab lelaki tersebut. Lalu Nabi mengatakan:

“ Engkau bukan Zaid kuda tetapi engkau adalah Zaid Al-Khoir (Zaid yang suka kebaikan). Ayo bertanyalah kepadaku, barangkali masalahmu itu sulit atau sukar, mudah-mudahan saya pernah ditanya tentang masalah itu.”

Orang yang bernama Zaid itu menjawab:

“Aku ingin menanyakan tentang tanda orang yang disukai Allah dan tanda orang yang tidak disukai Allah.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata:

Bakh-bakh (Engkau beruntung). Bagaimana keadaanmu wahai Zaid?”

Ia menjawab:

“Keadaanku baik. Aku suka kebaikan dan orang yang berbuat baik. Aku suka amal-amal kebaikan itu tersebar di mana-mana. Kalau aku ketinggalan amal kebaikan maka aku rindu dengan amal kebaikan itu. Apabila aku mengerjakan suatu amal, baik amal itu sedikit ataupun banyak, aku yakin bahwa amal itu diterima oleh Allah dan diberi pahala oleh Allah.”

Kemudian Nabi menjawab:

“Itulah jawabannya. Kalau Allah menghendaki sesuatu yang lain kepadamu, pasti engkau dipersiapkan oleh Allah untuk tidak melakukan itu, dan Allah tidak peduli di lembah mana engkau dihancurkan.”

“Cukup-cukup Ya Rasulullah,” kata si Zaid. Kemudian dia pergi dan menaiki kendaraannya.”

 

Penyebab Kematian Hati

Lantas, apakah penyebab matinya hati itu?

Kata Ulama, sebabnya ada tiga:

  1. حُبُّ الدُّنْيَا : Cinta dunia.
  2. الْغَفْلَةُ عَنْ ذِكْرِ اللهِ : Lalai dari dzikir.
  3. اِرْسَالُ الْجَوَارِحِ فِيْ مَعَاصِي اللهِ : Membiarkan anggota badan untuk bermaksiat kepada Allah.

Dan sebab hidupnya hati itu ada tiga macam:

  1. الزُّهْدُ : Kosongnya hati dari dunia.
  2. الاِشْتِغَالُ بِذِكْرِ اللهِ : Menyibukkan diri dengan berdzikir pada Allah.
  3. صُحْبَةُ اَوْلِيَاءِ اللهِ : Suka berteman dengan orang-orang saleh.

Tiga hal tersebut merupakan tanda orang yang hatinya dihidupkan Allah.

Adapun tanda-tanda matinya hati itu ada tiga perkara:

  1. عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَهُ مِنَ الطَّاعَاتِ : Kalau ketinggalan amal taat, hatinya tidak pernah merasa sedih dan susah, bahkan biasa-biasa saja.
  2. تَرْكُ النَّدْمِ عَلَى مَا فَعَلَ مِنَ الزَلَّاتِ : Tidak pernah merasa menyesal jika melakukan pelanggaran atau suatu dosa.
  3. وَصُحْبَتُهُ الْغَافِلِيْنَ الْاَمْوَات : Berteman dengan orang yang lalai dari mengingat Allah yang mereka itu bagaikan orang yang mati.

Orang-orang ini adalah teman yang tidak menguntungkan. Mereka tidak mendorong beribadah kepada Allah, dan tidak mengingatkanmu apabila kamu lupa untuk beribadah kepada Allah. Itulah teman yang jahat.

Ketahuilah, apabila timbul darimu ketaatan, itu berarti tanda kebahagiaan. Munculnya maksiat itu adalah tanda kesengsaraan. Dikarenakan hati itu bisa hidup dengan makrifat dan iman, maka bila hati itu sudah bermakrifat serta beriman kepada Allah, dia akan merasa sakit kalau melakukan sesuatu yang membuat dia sengsara. Sebaliknya, jika dipakai untuk amal kebaikan dia merasa senang. Itulah tanda bahwa orang itu akan bahagia.

Tampaknya amal ketaatan adalah tanda keridhoan Allah. Timbulnya maksiat merupakan tanda murkanya Allah. Hati yang hidup pasti bisa merasakan hal-hal itu. Sedangkan hati yang mati tidak merasakannya. Bagi mereka yang berhati mati, taat dan maksiat dianggap sama saja. Maka orang itu seperti orang mati yang hilang perasaannya.

Dikutip dari Buku al Hikam Mutiara Hikmah Kehidupan asuhan Habib Ahmad bin Husen Assegaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *