Hukum Menggunakan Uang Kotak Amal

Risalah Haidl, Nifas dan Istihadloh
May 5, 2018

Deskripsi masalah:
Di beberapa masjid ada kebiasaan di mana pengurus masjid memberikan hidangan buka puasa di bulan Ramadhan dengan menggunakan sebagian uang dari kotak amal masjid tersebut. Pihak masjid menganggap ini perlu untuk menghormati orang yang sedang berpuasa dan hendak melakukan shalat berjama’ah di masjid tersebut. Ada pula masjid yang mempunyai kebiasaan menyedekahkan sebagian uang dari kotak amal masjid tersebut kepada orang-orang dhu’afa’ yang bermukim di sekitar masjid itu dengan maksud agar mereka berkenan untuk melakukan shalat berjama’ah atau mengikuti aktifitas pengajian yang diadakan oleh pihak masjid tersebut.
Pertanyaan;
Bagaimanakah hukumnya memberikan hidangan buka puasa di masjid dengan menggunakan uang kotak amal masjid tersebut? Dan bagaimana pula hukum memberikan sedekah kepada orang-orang muslim yang bermukim di sekitar masjid tersebut dengan tujuan meramaikan masjidnya?
Jawaban:
Pertama-tama harus dipahami dulu bagaimanakah status hukum daripada uang kotak amal tersebut baru kemudian hukum dari penggunaan uang kotak amal tersebut.
Uang kotak amal tidak masuk dalam katagori waqaf karena di dalam waqaf itu ada persyaratan yang mengharuskan barang yang diwakafkan itu harus tetap utuh. Sedangkan uang akan hilang ketika sudah dibelanjakan.
Berikut redaksi yang kami kumpulkan dari beberapa kitab:

الكتاب: فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين
المؤلف: زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري
باب في الوقف. هو لغة: الحبس وشرعا: حبس مال يمكن الانتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف في رقبته على مصرف مباح وجهة

Bab Wakaf: Wakaf secara bahasa adalah menahan sedangkan secara syara’ menahan, mencegah harta benda yang bisa diambil manfaatnya dengan tetap dalam keadaan utuh untuk hanya diberikan manfaat dari barang wakaf tersebut kepada penerima wakaf yang diperbolehkan (menurut agama) atau diberikan pada lembaga/badan.

الكتاب: إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين
المؤلف: أبو بكر (المشهور بالبكري) بن محمد شطا الدمياطي
(وقوله: يمكن الانتفاع به الخ) بيان لمعظم الشروط، والمراد بالمال، العين المعينة بشرطها الآتي، غير الدراهم والدنانير، لأنها تنعدم بصرفها، فلا يبقى لها عين موجودة، (وقوله: بقطع التصرف) متعلق بحبس.

Yang dimaksud dengan kata “yang bisa diambil manfaatnya …” adalah bentuk penjelasan dari syarat wakaf yang paling besar. Dan yang dimaksud dengan kata ‘mal’ ialah harta benda yang telah ditentukan (oleh orang yang mewakafkan) dengan syarat-syarat yang akan dijelaskan (di belakang), selain dirham dan dinar, karena keduanya bisa hilang ketika keduanya dibelanjakan. Maka jelaslah bahwa ketika keduanya dibelanjakan, tidak ada lagi keberadaan dirham dan dinar tersebut.
Dan hukum dari pada uang kertas zaman sekarang  sama hukumnya dengan dirham dan dinar di zaman dahulu. Berikut dalilnya:

الكتاب: الموسوعة الفقهية الكويتية
صادر عن: وزارة الأوقاف والشئون الإسلامية – الكويت
لِلنَّقْدِ ثَلاَثَةُ مَعَانٍ فَيُطْلَقُ عَلَى الْحُلُول أَيْ خِلاَفِ النَّسِيئَةِ، وَعَلَى إِعْطَاءِ النَّقْدِ، وَعَلَى تمييز الدَّرَاهِمِ وَإِخْرَاجِ الزَّيْفِ مِنْهَا، وَمُطْلَقِ النَّقْدِ وَيُرَادُ بِهِ مَا ضُرِبَ مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ الَّتِي يَتَعَامَل بِهَا النَّاسُ

‘Naqd’ atau dalam bahasa Indoneisa Nuqud itu mempunyai tiga arti; yakni kontan, memberi nuqud dan membedakan dirham yang asli dan yang palsu. Nuqud secara umum dimaksudkan dengan dirham dan dinar yang sudah dicetak untuk dijadikan alat transaksi (seperti jual beli) oleh manusia.

شرح الياقوت النفيس في مذهب ابن ادريس
المؤلف : الاستاذ محمد بن احمد بن عمر الشاطري
واما الاوراق المالية والبنكنوت … فقد تكلم العلماء فيها والّفوا فيها كتبا … الخ. ومنهم المنكباوي – وهو عالم جاوي – ان هذه الاوراق تعتبر نقدا … الخ. ومعنى هذا كله : ان لها وظائف النقود الشرعية وأهميتها.

Dan adapaun uang kertas, maka para ulama telah banyak membicarakan serta telah membuat tulisan tentang hal itu. Dan di antara mereka ada ulama’ dari Minangkabau seorang ulama dari tanah jawa (Indonesia) bahwa seseungguhnya kertas-kertas ini (yakni uang kertas yang berlaku di Indonesia) terhitung ‘naqd’. Artinya bahwa sesungguhnya uang kertas itu mempunyai manfaat (yang sama) serta berbagai hal penting sebagaimana ‘naqd’ syar’i.

Lalu apa status hukum uang kotak amal tersebut?
Uang kotak amal masuk dalam katagori shadaqah (sedekah), karena dalam hal shadaqah tidak ada syarat ijab dan qabul.
Berikut dalilnya:

الكتاب: فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين
المؤلف: زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري
ولا يشترط الإيجاب والقبول قطعا في الصدقة وهي ما أعطاه محتاجا وإن لم يقصد الثواب أو غنيا لأجل ثواب الآخرة بل يكفي فيها الإعطاء والأخذ ولا في الهدية ولو غير مأكول وهي ما نقله إلى مكان الموهوب له إكراما بل يكفي فيها البعث من هذا والقبض من ذاك وكلها مسنونة وأفضلها الصدقة.

Dan tidak disyaratkan ijab dan qabul dalam hal shadaqah. Shadaqah adalah suatu pemberian yang diberikan kepada orang yang membutuhkan sekalipun tidak bermaksud mencari pahala atau diberikan kepada orang yang kaya (semisal orang kaya yang alim yang menjadi gurunya) karena mengharap pahala akhirat. Bahkan shadaqah cukup hanya dengan memberi (dari pihak pemberi) dan mengambil (dari pihak penerima pemberian). Begitupula hadiah sekalipun bukan termasuk barang makanan. Hadiyah adalah sesuatu yang dipindahkan, dikirimkan ke tempat orang yang akan menerima pemberian dengan tujuan memuliakan orang yang diberi. Bahkan dalam hal ini (hadiah) cukup dengan hanya mengirimkan dari si ini dan diterima oleh si anu. Dan semuanya disunnahkan. Dan yang paling utama adalah shadaqah.

الكتاب: إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين
المؤلف: أبو بكر (المشهور بالبكري) بن محمد شطا الدمياطي
(قوله: ولا يشترط الإيجاب والقبول الخ) شروع في بيان الصدقة والهدية (قوله: قطعا) أي بخلاف (قوله: وهي ما أعطاه محتاجا الخ) فإن كان ذلك بلا صيغة، فهي صدقة فقط، وإن كان معها، فهي صدقة وهبة، ومثله، يقال في الهدية.

Kata-kata “ Dan tidak disyaratkan ijab dan qabul dalam hal shadaqah …” adalah penjelasan mengenai shadaqah dan hadiah. Kata “qhath’an” itu kepastian (namun) masih ada khilaf (bisa jadi yang dimaksud kata “qhath’an” adalah pasti sahihnya sekalipun dalam madzhab lain masih diperdebatkan). Sedangkan kata “Shadaqah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang yang membutuhkan …” maka apabila pemberian itu tanpa adanya shighat, maka itu dinamakan shadaqah saja. Namun apabila disertai shighat, maka dinamakan shadaqah dan hibah. Begitu pula halnya dengan hadiyah.

Apabila sudah berstatus sebagai shadaqah, maka itu sama artinya harta (uang) tersebut adalah milik masjid yang dalam hal ini pengurus masjid dapat melakukan apapun termasuk memberikan para dhu’afa’ dari masyarakat muslim sekitar masjid dalam rangka ‘imarah masjid’ baik yang bersifat hissiyah maupun yang maknawiyah apabila kebijakan tersebut kemudian terbukti menjadikan masjid semakin ramai.
Berikut redaksi yang telah kami kumpulkan:

الكتاب: فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين
المؤلف: زين الدين أحمد بن عبد العزيز بن زين الدين بن علي بن أحمد المعبري المليباري
ويجوز بيع حصير المسجد الموقوفة عليه إذا بليت بأن ذهب جمالها ونفعها وكانت المصلحة في بيعها وكذا جذوعه المنكسرة خلافا لجمع فيهما ويصرف ثمنها لمصالح المسجد إن لم يمكن شراء حصير أو جذع به. والخلاف في الموقوفة ولو بأن اشتراها الناظر ووقفها بخلاف الموهوبة والمشتراة للمسجد فتباع جزما لمجرد الحاجة: أي المصلحة وإن لم تبل

Dan boleh menjual tikar masjid yang berstatus wakaf jika sudah lusuh/usang seperti apabila sudah terlihat jelek atau hilang manfaatnya dan dipandang maslahat dengan menjualnya. Begitu pula tiang-tiang masjid yang sudah patah. Berbeda dengan kebanyakan ulama dalam menyikapi dua hal ini. Dan kemudian uang hasil penjualan digunakan untuk kemaslahatan masjid apabila tidak dimungkinkan membeli keduanya kembali dengan uang tersebut. Letak khilafnya adalah untuk barang-barang wakaf sekalipun seorang ‘nadhzir’ yakni penanggung jawab masjid (seperti takmir masjid misalnya) membelinya dan kemudian mewakafkannya. Hal ini beda dengan barang-barang yang diberi atau dibeli untuk kepentingan masjid. Maka untuk kedua jenis barang ini sudah pasti boleh dijual sekalipun hanya karena faktor kebutuhan/kemaslahatan masjid meskipun belum usang/lusuh.

الكتاب: إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين
المؤلف: أبو بكر (المشهور بالبكري) بن محمد شطا الدمياطي
(قوله: بخلاف الموهوبة الخ) أي بخلاف المملوكة للمسجد بهبة أو شراء. وهذا محترز قوله الموقوفة (قوله: والمشتراة) أي ولو من غلة الوقف حيث لم يقفها الناظر.

Kata-kata “Hal ini beda dengan barang-barang yang diberi atau dibeli untuk kepentingan masjid …” maksudnya adalah barang-barang yang menjadi milik masjid karena diberi atau dibeli dengan uang masjid. Kalimat ini adalah pengecualian dari kata ‘mauqufah’ yakni barang-barang wakaf. Kata “barang-barang yang dibeli” yakni barang-barang yang dibeli untuk kepentingan masjid sekalipun dibeli dari hasil barang wakaf (seperti tanah yang diwakafkan terhadap masjid yang tedapat tanaman-tanaman yang dapat menghasilkan uang) sepanjang belum diwakafkan oleh ‘nadhzir’ masjid tersebut.

الكتاب: عمدة المفتي والمستفتي ج ۲ ص ٣٢٤ دار الحاوي
المؤلف : جمال الدين محمد بن عبد الرحمن الاهدل
مسألة لا يجوز للناظر التكفف – أي : السؤال للمسجد – وهو غني عن ذلك لأن المسجد كالحر والحر إذا كان غنيا لا يجوز له التكفف للوعيد الوارد في ذلك. وأما إذا اراد إنسان أن يجعل للمسجد شيأ أو عمارة أو غير ذلك مما يعود نفعه على نحو المصلين فإنه يجوز للناظر قبوله كما قاله الزركشي وعن الغزالي أنه يجوز ذلك كما يجوز للأجنبي أن يستأجر من ماله لكنس المسجد

Bagi seorang ‘nadhzir’ tidak diperbolehkan meminta-minta untuk kepentingan masjid apabila masjid itu sudah tidak membutuhkan lagi karena masjid itu bagaikan orang merdeka. Sedangkan orang yang merdeka apabila sudah kaya haram meminta-minta karena adanya ancaman yang disampaikan oleh Nabi saw dalam haditsnya. Namun apabila ada seseorang yang menginginkan untuk memberikan sesuatu dalam rangka memakmurkan masjid, maka boleh bagi seorang ‘nadhzir’ menerimanya sebagaimana apa yang disampaikan oleh Imam Zarkasyi. Dan Imam Ghazali membolehkan hal itu sebagaiman bolehnya seseorang di luar pengurus masjid menyewa orang lain untuk menyapu/membersihkan masjid.

الكتاب : التفسير المنير في العقيدة والشريعة والمنهج
المؤلف : د وهبة بن مصطفى الزحيلي
وعمارة المساجد نوعان: حسية، ومعنوية، فالحسية: بالتشييد والبناء والترميم والتنظيف والفرش والتنوير بالمصابيح والدخول إليها والقعود فيها، والمعنوية: بالصلاة وذكر الله والاعتكاف والزيارة للعبادة فيها، وذلك يشمل العمرة، ومن الذكر: درس العلم، بل هو أجله وأعظمه وصيانتها مما لم تبن له المساجد من أحاديث الدنيا، فضلا عن فضول الحديث، كما قال الزمخشري

Memakmurkan masjid itu ada dua; Hissiyyah (fisik) dan maknawiyah (non fisik). Memakmurkan masjid secara fisik yaitu dengan memperkokoh, membangun, merenofasi, membersihkan, membentangkan (tikar misalnya), menerangi dengan berbagai lampu dan lain sebagainya. Sedangkan yang maknawiyah itu dengan shalat, berdzikir, i’tikaf, ziyarah untuk ibadah dan ini mencakup ibadah umrah. Dan termasuk dzikir adalah belajar ilmu bahkan ini yang terpenting. Termasuk juga ‘imarah’ adalah menjaga masjid dari hal-hal yang tidak baik sebagaimana berbicara hal-hal duniawi lebih-lebih membicarakan hal-hal yang berlebihan sebagaimana apa yang telah dijelaskan oleh Imam Zarkasyi.

الكتاب : بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين
المؤلف : عبد الرحمن بن محمد بن حسين بن عمر باعلوي
(مسألة : ب) : يجوز للمقيم شراء عبد للمسجد ينتفع به لنحو نزح إن تعينت المصلحة في ذلك ، إذ المدار كله من سائر الأولياء عليها ، نعم لا نرى للقيم وجهاً في تزويج العبد المذكور كولي اليتيم إلا أن يبيعه بالمصلحة فيزوجه مشتريه ثم يرد للمسجد بنحو بيع مراعياً في ذلك المصلحة ، ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد في المسجد من قهوة ودخون وغيرهما مما يرغب نحو المصلين ، وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته

Boleh bagi seorang yang mukim membeli budak laki-laki untuk masjid agar bisa dimanfaatkan untuk masjid seperti menguras (kamar mandi) jika nyata maslahatnya bagi masjid tersebut karena kepentingan seorang wali/tuan dari budak tersebut adalah adanya maslahat dalam pembelian budak tersebut. Namun hal ini tidak berlaku dalam hal mengawinkan budak tersebut sebagaimana wali dari seorang anak yatim kecuali dengan cara dijual lalu si pembelilah yang menikankan budak tersebut kemudian hasil penjualannya dikembalikan/diberikan kepada pihak masjid untuk menjaga sisi kemaslahatan. Dan boleh bahkan disunnahkan bagi penanggung jawab masjid dalam hal ini takmir, memberikan apa saja yang sudah menjadi kebiasaan di masjid seperti memberikan kopi dan dupa dan lain-lain yakni hal-hal yang menjadi kesenangan seumpama orang-orang yang melaksanakan shalat di masjid tersebut sekalipun belum ada kebiasaan seperti itu sebelumnya, apabila cara itu dapat semakin menambah ramai masjid tersebut.

Dengan memperhatikan dalil-dalil di atas, maka kami berkesimpulan bahwa hukum memberikan hidangan buka puasa di masjid dengan menggunakan uang kotak amal masjid tersebut adalah boleh. Dan hukum memberikan sedekah kepada orang-orang muslim yang bermukim di sekitar masjid tersebut dengan tujuan meramaikan masjid itu juga boleh. Itu semua dengan catatan apabila dengan cara tersebut masjidnya semakin ramai.
Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *